Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, News Dewan Kabupaten Semarang Minta Kios Pasar Ambarawa Diteribkan

Dewan Kabupaten Semarang Minta Kios Pasar Ambarawa Diteribkan

Pasar Ambarawa (jatengpos.co.id)

Sketsanews.com, Semarang – Banyak aset pemerintah Kabupaten Semarang berupa pasar dan pujasera yang saat ini ditinggalkan oleh pedagang. Seperti di lantai 2 Pasar Ambarawa, Pujasera Pasar Suroboyo di Ambarawa, Pujasera Alun-alun Kalirejo dan diberbagai lokasi pasar lainnya.

Kios yang dibiarkan ini berdampak pada pendapatan daerah dari retribusi pasar. DPRD Kabupaten Semarang mendesak agar Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan UMKM menertibkan kios yang saat ini dibiarkan oleh pedagang dan digunakan tidak sesuai peruntukannya.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Semarang, Said Riswanto menyatakan saat ini banyak kios pasar dan pujasera yang dikelola oleh Pemkab Semarang, dibarkan tutup oleh pedagang kios. “Pantauan kami ada beberapa lokasi kios yang sengaja dikosongkan oleh pedagang dengan alasan tidak laku untuk jualan. Ada pula yang dialih fungsikan sebagai gudang tempat penyimpanan barang-barang,” ujar Said di Ungaran, Minggu (16/7).

Hal ini tidak efektif, karena justru membuat kemunduran bagi pasar dan pujasera ini. Selain itu juga tidak ada pendapatan daerah masuk.

“Dengan dibiarkan oleh pedagang membuat pendapatan daerah semakin turun, maka lebih baik kios yang kosong dan tidak dimanfaatkan sesuai fungsinya dilelang kembali agar ada pedagang baru masuk,” kata Said yang menyatakan pernyataan ini hasil rekomendasi DPRD ke Pemkab Semarang, seperti dikutip dari Jatengpos.

Adanya pasar dan pujasera ini sebenarnya untuk menggerakkan perekonomian masyarakat. “Aktivitas perekonomian dapat tumbuh, namun dengan adanya kios kosong seperti ini justru membuat perekonomian berkurang dan cenderung mubadir saat dibangun,” pungkasnya.

Pemerintah pun perlu tegas dalam menindak para pedagang pemilik kios yang tidak menempati sesuai aturan penggunaan kios di pasar dan pujasera. “Pemerintah harus berani menegur, menindak pemilik kios yang menganggurkan (mengosongkan) kiosnya. Kalau perlu ditutup atau dilelang kembali jangan sampai kios kosong,” tegas polisti Partai Amanat Nasional (PAN) ini.

Salah satu pemilik kios Pujasera Alun-alun Kalirejo (Asjo), Yudi Ashudi menyatakan kios Pujasera Asjo dulunya merupakan pindahan dari sejumlah pedagang kaki lima di Ungaran. Karena kurang tertata dengan baik, maka dipindahkan di Pujasera Alun-alun Kalirejo dengan fasilitas yang memadahi. Namun Karena lokasinya berada di belakang , jauh dari alun-alun kurang diminati oleh pembeli. “Terlebih banyak pedagang liar yang ada di luar pujasera, mereka berjualan di sekitaran alun-alun Kalirejo,” ujar Yudi.

Menurut Yudi, karena sepi pembeli kemudian kiosnya dikelola saudaranya, yakni Wiwin Rusianto. Hingga bertahun-tahun keadaan tidak berubah justru bertambah sepi lantaran serbuan pedagang liar yang masuk ke area itu justru makin menjadi-jadi. Para pedagang resmi sudah beberapa kali menyampaikan keluhannya pada anggota DPRD Kabupaten Semarang dan Bupati Semarang, perihal pedagang liar yang berjualan di sekitaran Asjo.

“Namun tidak ada tindakan nyata dari Pemkab Semarang untuk menertibkan pedagang liar. Bahkan terkesan membiarkan para pedagang liar tersebut,” ujarnya.

Padahal adanya pedagang liar ini, membuat surut pembeli. Pembeli tidak mau datang ke dalam Pujasera, padahal berbagai menu makanan dan minuman tersedia di pujasera. “Tidak pernah harga kami setandar tidak menjerat pembeli. Tapi mengapa justru saat kami dihimpit pedagang liar justru DPRD memeberikan rekomendasi untuk mengusir kami. Dimana keterwakilan rakyat? Padahal kami sudah bertahun-tahun berusaha bertahan dengan ekonomi seadanya,” keluhnya.

(Wis)