Sketsa News
Home Berita, Hukum, News Santri Jateng Bentuk AIS Nusantara Tangkal Radikalime

Santri Jateng Bentuk AIS Nusantara Tangkal Radikalime

Puluhan Anggota AIS Nusantara Jateng berfoto bersama dalam acara Halal Bihalal di Ponpes Manbaul Hikmah.

Sketsanews.com, Kendal – Sekelompok santri di Jateng membentuk grup Arus Informasi Santri (AIS) Nusantara. Grup ini merupakan wadah gerakan untuk menangkal gerakan Islam radikal. Gerakan ini didasari akan banyaknya postingan dan unggahan baik berupa ujaran, gambar ataupun video di banyak situs jejaring sosial yang mengarah pada gerakan radikal.

AIS Nusantara sendiri merupakan kumpulan para pemilik admin media sosial di Kalangan pesantren Nahdatul Ulama (NU). Diharapkan dengan aktifnya santri dapat memberikan kontribusi positif kepada pengguna sosmed akan Islam yang penuh kedamaian.

Wakil Koordinator Nasional AIS Nusantara , Muhammad Yasir Arafat mengatakan bahwa sekarang ini marak sekali gerakan dakwah Islam Radikal yang di unggah melalui media sosial. Seperti Youtube, Facebook, Twitter, Instagram yang memang populer dan banyak penggunanya di Indonesia.

“Melalui AIS Nusantara ini, kami ingin mendakwah Islam yang Rahmatan Lil Alamain atau Islam yang damai. Gerakan ini sekaligus sebagai bentuk perlawanan kami terhadap gerakan dakwah yang dilakukan sekelompok Islam garis keras yang mengarah pada Terorisme dan Khilafah,” katanya disela-sela acara Halal Bi Halal AIS Nusantara Jateng di Pondok Pesantren Manbaul Hikmah, Mororejo, Kaliwungu, seperti dikutip dari Beritajateng.

Dikatakannya, jika dakwah yang diunggah oleh gerakan Islam Radikal di dunia digital hanya bisa dilawan dengan dakwah digital pula. Dengan adanya AIS ini bertujuan menyatukan para santri dan para admin medsos santri untuk melawan gerakan tersebut.

Sejauh ini sudah ada 300 admin santri yang bergabung di AIS Nusantara dengan 1.000 lebih akun medsos. “Jadi kami melakukan dakwah secara kreatif dengan mengenalkan ilmu-ilmu pesantren yang berbasis Ahli Sunah Wal Jamaah (Aswaja),” paparnya.

Hal senada dikatakan salah seorang penggagas AIS Nusantara, Yusuf Hartonno. Tujuan AIS Nusantara ini selain untuk menangkal gerakan Islam Radikal juga untuk mengenalkan dunia Pesantren pada masyarkat pengguna medsos. “Jadi warga awalnya tidak tahu pesantren jadi tau. Malah mereka jadi ingin memondok anaknya ke pondok pesantren,” jelasnya.

Ia mencontohkan salah satu dakwah di AIS yang memang kental dengan tradisi NU. Seperti adab mencium tangan orang tua ataupun guru saat bersalaman. “Biasanya orang mencium tangan di pipi, nah itu kami luruskan bahwa yang tepat adalah di hidung,” tuturnya.

Sejauh ini, AIS Nusantara Anggotanya sudah menyebar di sebagian wilayah di Indonesia, tidak hanya di Pulau Jawa, tapi juga Kalimantan, Sulawesi hingga Papua. “Kami ingin mendakwahkan Islam yang damai, bukan Islam yang marah-marah dan suka memecah belah. Kami ingin menjaga persatuan NKRI,” kata Koordinator AIS Nusantara Jawa Barat itu.

Koordinator AIS Jateng, Muhammad Shofa menambahkan jika forum halal bi halal ini menjadi ajang untuk para admin santri berkumpul. Di Jateng sendiri sudah ada 100 lebih Admin Santri yang bergabung dari berbagai pondok pesantren di Jateng. “Tidak hanya santri, tapi non santri juga banyak,” tambahnya.

Pengasuh muda Ponpes Manbaul Hikmah, Rifqi Muslim digelarny AIS di pondok pesantren ia berharap bisa memberikan motivasi dan semangat para santri untuk berdakwah di dunia digital.

(Wis)