Sketsa News
Home Berita Terkini, Citizen-Jurnalism Mohon maaf mengoreksi sedikit pernyataan Bapak Jokowi soal Islam Radikal

Mohon maaf mengoreksi sedikit pernyataan Bapak Jokowi soal Islam Radikal

Sketsanews.com – Presiden Joko Widowo -Jokowi, membuat status berkesan tentang Islam Radikal. “Islam Radikal bukan Islam bangsa Indonesia. Islam Indonesia menjadi contoh bagi negara-negara lain…”

 

Yang Terhormat Bapak Presiden Jokowi..

Mohon maaf mengoreksi sedikit pernyataan Bapak soal islam radikal.

1. Radikal itu bukan sesuatu yang melekat pada agama, tetapi ia melekat pada individu atau kelompok tertentu dan tidak terikat atau terkait sedikitpun dengan agama. Sebab jika begitu, mestinya Bapak juga mempopulerkan kristen radikal, hindu radikal, budha radikal dst, karena dari setiap agama itu ada saja individu atau kelompok yang ternyata juga anarkis dan radikal. Tapi mengapa hanya islam yang dipersepsikan radikal?

2. Adalah tindakan yang kurang bijaksana bagi seorang presiden mendikotomi islam ke dalam beberapa kelompok; islam radikal, islam nusantara, islam arab, islam timur tengah, dll. Domain presiden adalah soal pemerintahan dan ketatakenegaraan, bukan agama. Agama itu domainnya MUI dan para ulama nasional yang memang kompeten dibidangnya.

3. Ucapan Bapak Presiden soal islam radikal ini blunder. Jikapun benar islam radikal yang Bapak maksud itu ada dan exist, maka itu adanya hanya di Indonesia, tidak di Arab, Timur Tengah, Brunei, Afrika, Amerika, Eropa, dll. Lalu islam seperti itukah yang Bapak ingin menjadi contoh? Di belahan negeri lain tidak dikenal islam radikal, islam ya islam.

4. Saya sebagai muslim malu atas penyataan Bapak soal islam Indonesia yang bisa menjadi contoh bagi islam di negara-negara lain. Tidak usah jauh-jauh membandingkan islam kita dengan islam di Timur Tengah, dengan Malaysia saja kita kalah jauh, bahkan dengan Brunei saja kita juga kalah jauh. Apalagi mau membandingkan dengan Arab Saudi, Kuwait Qatar.. Saya sungguh malu Bapak. Kita hampir kalah dalam semua bidang Pak Presiden; SDM, teknologi, ekonomi, infrastruktur. Satu-satunya yang bisa kita banggakan dihadapan negeri islam lain hanyalah populasi kita yang 200 juta lebih, selain itu tidak ada Pak Presiden. Jadi mohon statement Bapak bisa ditinjau ulang agar tidak jadi bumerang bagi kita, khususnya umat islam di Indonesia.

FBBudi Ihsan

 

(in)