Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Ekonomi & Bisnis, News Ini Dampak Kelangkaan Garam di Blitar

Ini Dampak Kelangkaan Garam di Blitar

Penjual es puter di Blitar/Foto: Erliana Riady

Sketsanews.com, Blitar – Kelangkaan garam di Blitar mulai berdampak bagi para produsen makanan. Utamanya produsen es puter dan telur asin. Sebab, garam kasar/grasak menjadi bahan utama untuk memproduksi barang dagangan mereka. Merekapun harus berkeliling hingga di wilayah pinggiran, untuk membeli grasak di toko yang masih ada stok garam.

Seperti yang dialami Widji, produsen telur asin asal Jl Krantil, Kota Blitar. Widji mengaku bingung mendapatkan garam grasak untuk mengasinkan telur. Sebab setiap pekan, dia membutuhkan sekitar 50 kg garam grasak untuk membuat 600 butir telur asin.

“Untung saya masih punya stok, pembelian sebelum puasa, tapi ini sudah mau habis,” kata Widji kepada Detikcom di rumahnya, Selasa (18/7/2017).

Widji mengaku baru dapat garam dari toko kecil di wilayah Kademangan Kab Blitar, dengan harga naik sampai dua kali lipat. “Ini 5 kg harganya Rp 19 ribu. Biasanya satu sak isi 25 kg harganya hanya Rp 50 ribu, sekarang jadi Rp 100 ribu,” ungkap ibu dua anak ini.

Saat ini ia belum menaikkan harga jual telur asin. Ia menjual telur asin dengan harga Rp 3.000 per butir. Tapi, jika harga garam terus mahal, mau tidak mau ia tetap menaikkan harga jual telur asin.

Sementara selain produsen telur asin, puluhan produsen es puter di Kota Blitar, juga mengeluh. Hanya beberapa produsen yang bertahan membuat es puter dengan stok garam grasak yang tersisa.

“Kemarin saya dapat dari Pasar Wlingi, tapi hanya satu sak seberat 50 kg. Dan harganya naik empat kali lipat jadi Rp 175 ribu per sak,” kata produsen es puter Jl Bakung Kota Blitar, Ateng saat detikcom ke rumahnya.

Padahal, lanjut Ateng, kebutuhan garam grasak bagi tiga rombong es krimnya sekitar 30 kg dalam sehari. Biasanya dengan komposisi es batu 1,5 balok dicampur garam grasak 10 kg, es puter buatan Ateng lebih tahan lama.

“Kalau grasaknya kurang, es krimnya gampang cair. Kalau sudah cair tidak bisa dipadatkan lagi, itu kami rugi,” tambahnya.

Hari ini, Ateng mengaku mendapat tawaran garam dari penjual garam baru di Blitar. Namun harganya terlalu mahal hingga tak terjangkau kemampuannya. Pasalnya dia tidak bisa menaikkan harga es puter yang selama ini dijual Rp 3.000 per mangkok.

“Ada toko, baru jual garam bukan langganan saya nawarin, tapi mahal. Per 5 kg seharga Rp 18.500. Itupun harus beli eceran tidak boleh sak-sakkan. Lha sementara saya takut naikkan harga es puter, nanti pelanggannya lari semua,” aku Ateng.

Garam-garam mengalami kelangkaan di Blitar sejak dua pekan jelang lebaran. Seorang pedagang grosir di Pasar Legi Kota Blitar, Khusnul mengaku, pasokan garam berhenti dikirim dari supplier Kediri dan Surabaya. Mereka tidak mengirim diduga garam yang mereka edarkan belum berizin. Padahal ada aturan baru, penjual yang mengedarkan garam tanpa izin akan didenda Rp 50 juta.

(Wis)