Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Hidup Sehat Kelainan Bawaan Saat Lahir, Adakah Hubungannya dengan Infeksi CMV?

Kelainan Bawaan Saat Lahir, Adakah Hubungannya dengan Infeksi CMV?

Meski tidak begitu dikenal, ternyata virus yang satu ini diklaim sebagai penyebab paling banyak gangguan pendengaran pada anak lho. (Foto: ilustrasi/thinkstock)

Sketsanews.com, Jakarta — Infeksi Cytomegalovirus (CMV) menjadi salah satu penyebab terbanyak dari gangguan pendengaran pada anak. Lantas bagaimana mekanismenya hingga infeksi virus ini mampu mengakibatkan kemalangan tersebut?

dr Ludhang Pradipta Rizki, M.Biotech, SpMK, mengaku tidak tahu pasti bagaimana virus ini bisa mengakibatkan cacat lahir. Sejumlah cacat lahir yang ditemukan pada bayi yang terinfeksi CMV antara lain gangguan fungsi pendengaran, epilepsi, gangguan penglihatan, dan gangguan pemusatan konsentrasi.

“Mekanismenya belum jelas. Hampir sama dengan Zika,” katanya saat berbincang dengan detikHealth beberapa waktu lalu.

Sebab, lanjut dr Ludhang, tidak ada yang tahu persis kapan virus ini menginfeksi. Pada ibu hamil, proses pertumbuhan dan perkembangan janin berikut organ-organnya terjadi setiap waktu, sedangkan tidak ada cara yang bisa dilakukan untuk memantau proses tersebut.

“Seperti kasus Zika, kita juga nggak tahu dia menyerang di usia kehamilan keberapa. Tapi kalau sampai mikrosefali ada kemungkinan infeksinya di awal-awal kehamilan. Kemungkinan ini juga berlaku untuk anak-anak dengan gangguan pendengaran akibat CMV,” paparnya.

Namun bukan berarti setiap anak dengan gangguan pendengaran berakar dari infeksi CMV yang dialami orang tuanya. dr Ludhang menjelaskan, pada dasarnya congenital disease atau cacat bawaan pada bayi tidak melulu disebabkan oleh infeksi, tetapi bisa juga karena faktor genetik.

Di antara kedua faktor tersebut juga tidak bisa disebutkan yang mana yang paling berperan dalam menentukan penyebab gangguan pendengaran bawaan pada anak.

“Malformasi abnormal pada proses kehamilan itu lebih banyak yang mana, belum ada data yang detail. Seperti down syndrome itu biasanya genetik, tapi pemicu perubahan genetiknya itu kan juga bisa macem-macem,” tandas dr Ludhang.

Bila dibuat perbandingan, dari sekian banyak kasus, cacat lahir karen CMV hanyalah terjadi pada 5 dari 1.000 kasus saja. “Itupun di luar negeri yang notabene skrining CMV-nya rutin dan tidak mahal,” imbuhnya.

Untuk itulah diperlukan skrining atau pemeriksaan kehamilan secara rutin, agar ibu hamil tidak was-was dengan risiko CMV dan kaitannya dengan cacat lahir yang mungkin terjadi pada calon buah hatinya.

Untuk pemeriksaan kehamilan, staf pengajar Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada tersebut mengatakan, idealnya pemeriksaan dilakukan satu bulan sekali, terutama bagi wanita dengan usia kandungan baru memasuki trimester 1 dan 2.

“Di antara mitos-mitos itu sebenarnya ada care. Kita jadi peduli terhadap kehamilan kita. Dari situ kita akan betul-betul menjaga kehamilan dengan baik, nutrisinya baik, hatinya gembira, ditambah supporting dari pihak keluarga, terutama suami,” urainya.

(Ad)