Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, News, Pendidikan Belajar dari Kasus Sekolah Bhinneka Yogya: Jaga Asa Penerus Bangsa

Belajar dari Kasus Sekolah Bhinneka Yogya: Jaga Asa Penerus Bangsa

Para siswa Sekolah Bhinneka belajar di pengungsian. (Foto: Usman Hadi/detikcom)

Sketsanews.com, Yogyakarta – Konflik antara yayasan dengan para guru di Sekolah Bhinneka Tunggal Ika Yogyakarta, berujung runyam. Siswa SD dan SMP sekolah tersebut memilih belajar di pengungsian. Mereka tak lagi datang ke sekolah di Jalan Kranggan, namun memilih belajar secara darurat, ngungsi di Ndalem Notoprajan.

Didukung para orang tua, anak-anak tersebut belajar dengan para guru mereka yang telah diberhentikan pihak yayasan. “Pindah di sini untuk yang terbaik bagi anak-anak, soalnya kalau diteruskan di sana (ikut yayasan) tidak bagus,” kata Retno, salah satu orang tua siswa, Senin (17/7) kemarin.

Pihak yayasan berang. Pengawas Yayasan Bhinneka Tunggal Ika Yogyakarta, Bambang Siswanto, menilai aktivitas belajar-mengajar di Ndalem Notoprajan bukan bagian dari sekolah Bhinneka Yogya. Bambang menyebut itu sebagai kegiatan pribadi para mantan guru di sekolahnya.

“Seumpama mereka mau mendirikan sekolah baru ya silakan, cuma tidak usah pakai Bhineka. Mau mengajar di mana dan membawa murid semua, ya silakan,” sergah dia.

Para guru bahkan hingga kepala sekolah SD maupun SMP Bhinneka Tunggal Ika, memang telah diberhentikan pihak yayasan. Mereka mengakui telah membangkang aturan baru yayasan yang dinilai mengada-ada.

“Kepala sekolah dan guru kok tiba-tiba harus mengirimkan lamaran baru,” ujar Kepala SD Bhineka Tunggal Ika Yogyakarta, Retyas Budi Indarwanto.

Hal serupa juga diungkapkan Kepala SMP Bhinneka Tunggal Ika Yogyakarta, Thereshia Nariza. Bahkan disebutnya, banyak guru yang tidak dibayar gajinya hingga 3 bulan.

Budi melanjutkan, ada 2 orang yang disebutnya sebagai oknum di internal yayasan. Kedua orang tersebut masing-masing menjabat sebagai pembina dan pengawas.

“Pembina kok mengurusi keuangan. Nah orangtua dan wali murid mengendus permasalahan ini. Kami juga diminta mengajukan surat lamaran baru. Kalau tidak, kami dianggap sudah tidak bekerja di lingkungan sekolah lagi,” imbuhnya.

Pihak yayasan menampik semua tuduhan. Bambang Siswanto menilai para guru SD dan SMP telah berbohong dengan segala tudingan itu. Konflik itu, kata dia, berawal saat yayasan berusaha merapikan data internal. Alasannya yayasan mengaku tidak memiliki data guru maupun data kontrak kerjanya.

Operasional Yayasan Bhinneka Tunggal Ika Yogyakarta, Andreas Candra Wibowo, mengatakan Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta mempersyaratkan ijazah tenaga pendidik SD minimal S-1 PGSD. Karenanya perlu dilakukan pengaturan ulang posisi berupa penandatanganan kontrak baru.

Hal itulah yang ditolak oleh para guru. Beberapa kali dipanggil, para guru menolak. Kesempatan terakhir diberikan pihak yayasan pada 5 Juli lalu. Namun tetap saja para kepala sekolah serta para guru SD dan SMP tidak bersedia hadir.

Masalah bergulir tanpa menemukan jalan temu, bahkan hingga saat anak-anak didik sudah harus memasuki tahun pelajaran baru, kemarin. Akhirnya, anak-anak yang memilih bergabung dengan para guru, memilih untuk belajar di pengungsian. Tempatnya di Ndalem Notoprajan, Yogyakarta.

Kasus ini sepertinya masih akan berlanjut panjang. Pihak orang tua siswa secara resmi telah mengadukannnya ke Ombudsman RI (ORI) Perwakilan DIY, karena menyangkut layanan publik.

Asisten Bidang Penanganan Laporan ORI Perwakilan DIY, Nugroho Andriyanto, mengaku tidak berwenang mengurusi persoalan internal yayasan namun punya kewenangan menangani proses penyelenggaraan layanan publik di dalamnya.

Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta mengaku jauh-jauh hari sudah menugaskan pengawas sekolah untuk memediasi persoalan di Sekolah Bhinneka Yogya. Upaya mengumpulkan kedua belah pihak yang berseteru juga sudah dilakukan, mamun diakui belum membuahkan hasil.

“Itu masalah internal, sebaiknya diselesaikan secara arif dulu di internal mereka. Dinas Pendidikan tentu berharap anak-anak tetap mendapatkan pendidikan yang layak, dan proses pembelajaran berlangsung dengan baik,” Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Yogyakarta, Edi Heri Suasana.

Edi benar. Yang jauh lebih penting dari silang sengkarut kepentingan itu adalah nasib pendidikan peserta didiknya. Para siswa di sekolah itu juga berharap konflik segera selesai sehingga mereka bisa kembali belajar di gedung sekolah, tak lagi belajar di pengungsian.

“Semoga masalahnya cepat diselesaikan,” ujar Kanya Launa Dira, salah satu siswi SMP Bhinneka Tunggal Ika Yogyakarta.

Kanya dan teman-temannya mengaku bingung kenapa harus pindah ke pengungsian, yang tentunya kurang memadai untuk kegiatan belajar secara ideal. Dia hanya mendapat informasi gedung sekolah sedang direnovasi.

Jika memang persoalannya karena gedung sekolah sedang direnovasi, Kanya berharap renovasi segera dirampungkan. Namun jika ada konflik internal antara pihak yayasan dengan para guru, dia berharap persoalan itu segera dicarikan jalan keluar.

Sebaiknya memang semua pihak berpikir dengan dingin dalam mengurai persoalannya. Tentu saja muara utama dari penyelesaiannya adalah bukan menitikberatkan pada kepentingan pribadi atau kelompoknya, melainkan lebih mementingkan pada nasib pendidikan para siswanya.

Itu jika memang semua pihak masih peduli pada dunia pendidikan. Toh mereka sejak awal seharusnya menyadari bahwa ketika mengelola yayasan pendidikan maupun ketika memilih profesi guru maka kepentingan pendidikan peserta didik jauh lebih penting daripada kepentingan pribadi.

Demikian juga kepada para orang tua dan wali siswa. Tugas utama pendidik dan juga orang tua adalah mengantarkan generasi penerus ke masa depan yang gemilang. Jaga asanya demi masa depan. Jangan padamkan api semangatnya hanya demi remah-remah persoalan kecil kepentingan kelompok.

Sastrawan besar Kahlil Gibran, pernah menggambarkan dengan sangat apik tentang peran ideal bagi orang tua dan guru terhadap anak;
….
engkau adalah busur
darimana bagai anak panah kehidupan
putra-putrimu melesat ke masa depan.

Kita tak akan bisa menarik tali busur kuat-kuat, jika busurnya retak. Kita takkan mampu jauh melesatkan anak-anak itu melebihi harapan kita jika kita sendiri menghalang-halangi terwujudnya harapan itu. Dikutip dari Detikcom.

(FYa)