Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, News, Tekno-Sains Google Play Jadi Sarang untuk Sebarkan Ransomware Mobile?

Google Play Jadi Sarang untuk Sebarkan Ransomware Mobile?

ilustrasi Ransomware. foto:iStockphoto

Sketsanews.com, Jakarta – Ransomware turut menjadi ancaman bagi perangkat mobile. Meski mengetahui bahaya ransomware, tak banyak pengguna mobile seperti smartphone menyadari bahwa ransomware menyebar melalui toko aplikasi.

Dijelaskan Teritory Channel Manager Kaspersky Lab Indonesia, Dony Koesmandarin, hampir semua ransomware mobile dilancarkan hacker melalui Google Play. Seperti diketahui, toko aplikasi Android itu memungkinkan semua pengguna menjadi developer aplikasi yang mampu mengunggah karyanya.

Di sisi lain, pengguna Android juga dengan mudah men-download beragam aplikasi yang tersedia secara gratis. Hal ini menjadi celah bagi hacker untuk menyebarkan ransomware.

“Hampir semua mereka melakukannya melalui Google Play, karena siapa pun bisa menjadi developer, bisa unggah ke Google Play, semua bisa download,” kata Dony di Jakarta, Selasa (18/7/2017).

Tak hanya dengan menginstal aplikasi yang tersemat ransomware, pengguna aplikasi yang menyebarkan file dari aplikasi itu juga bisa terinfeksi ransomware mobile. Aplikasi untuk membuat video dengan filter unik misalnya, ketika pengguna membagikan video hasil aplikasi itu ke rekannya, secara otomatis ransomware yang tersemat turut menginfeksi rekannya tersebut.

“Aplikasi dari Google Play membawa malware dan ikut dibagikan oleh pengguna. Itulah salah satu cara cybercrime yang efektif. Padahal niat penggunanya cuma lucu-lucuan,” terangnya, seperti dikutip dari Okezone.

Hal ini menunjukkan bahwa smartphone dengan OS Android memiliki cukup banyak celah keamanan. Meski begitu, menurut Dony, smartphone dengan OS lain seperti iPhone juga memiliki celah yang sama, namun terbilang lebih aman ketimbang Android.

Sekadar informasi, untuk mengunggah aplikasi pada App Store, developer harus memiliki iOS ID. Selain itu, aplikasi di App Store lebih banyak yang berbayar ketimbang aplikasi gratis sehingga kebebasan bagi developer lebih terbatas.

(Fya)