Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, News, Tekno-Sains Alasan pemerintah hanya blokir web Telegram & tak sampai aplikasinya

Alasan pemerintah hanya blokir web Telegram & tak sampai aplikasinya

Telegram messenger. ©2014 Merdeka.com

Sketsanews.com, Jakarta   —  Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) memutuskan memblokir layanan perpesanan Telegram. Diblokirnya layanannya itu lantaran dimanfaatkan kelompok teroris untuk menebar paham radikalisme dan dijadikan alat komunikasi untuk melancarkan aksi teror. Tentu saja hal itu bertentangan dengan peraturan perundang-undangan di Indonesia.

Kendati begitu, yang diblokir hanyalah webbase-nya saja. Dampak dari pemblokiran itu tidak bisa diaksesnya layanan perpesanan melalui desktop komputer. Sementara bila diakses menggunakan mobile aplikasinya tak ada masalah sama sekali. Pengguna Telegram masih bisa mengkasesnya bebas begitu saja.

Dirjen Aplikasi Informatika (APTIKA) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), Semuel A. Pangerapan menjelaskan, pemblokiran memang hanya dilakukan di sisi webbase-nya saja dan tidak sampai ke sisi mobile aplikasinya. Sebab, Telegram memiliki keunggulan untuk mentransfer file besar ukuran Gigabyte jika menggunakan webbase.

“Jadi memang, dengan webbase mempunyai kemampuan lebih dan bisa transfer file hingga 1.5GB. Proses penyebaran pesannya itulah yang mereka lakukan menggunakan webbase. Makanya kita melakukan pemblokiran dari sisi webbase-nya saja,” ujarnya saat konferensi pers di Gedung Kemkominfo, Jakarta, Dikutip dari Kantor Merdeka Senin (17/7).

Dikatakannya, ada 11 Domain Name System (DNS) yang telah diblokir pihak Kemkominfo terkait layanan perpesanan Telegram ini. Adapun ke-11 DNS tersebut adalah t.me, telegram.me, telegram.org, core.telegram.org, desktop.telegram.org, macos.telegram.org, web.telegram.org, venus.web.telegram.org, pluto.web.telegram.org, flora.web.telegram.org, dan flora-1.web.telegram.org.

Pria yang akrab disapa Semmy ini mengatakan, langkah pemblokiran merupakan cara yang efektif mencegah merebaknya konten-konten negatif di layanan perpesanan besutan Pavel Durov itu. Terbukti, dia menyebut bahwa pergerakan teroris dalam berkomunikasi pun kalang kabut. Meskipun dia mengakui, akan ada aplikasi perpesanan lain yang akan disigahinya lagi.

“Kalau saya bilang ini efektif. Pergerakan mereka sudah kalang kabut. Mereka mau pindah, pindah saja. Tetapi, kemampuan layanan perpesanan chat lain berbeda dengan Telegram. Sekali lagi, kita tekankan adalah kita hanya memantau niatan jahat kepada bangsa,” jelasnya.

[As]