Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Hidup Sehat Penggunaan Instagram Bisa Mengindikasikan Depresi

Penggunaan Instagram Bisa Mengindikasikan Depresi

Penggunaan Instagram Bisa Mengindikasikan Depresi.(Ilustrasi).

Sketsanews.com, London — Yayasan amal kesehatan mental Inggris, Mind mengungkapkan, bahwa depresi merupakan kondisi kejiwaan yang semakin banyak terjadi. Di mana depresi menyerang 3,3 dari 100 orang. Namun penderita depresi sulit mendapatkan diagnosis untuk penanganan yang tepat.

Namun sebuah penelitian yang dipublikasikan di EPJ Data Science mengungkapkan, bahwa pola penggunaan Instagram bisa menjadi indikasi depresi. Penulis penelitian, Andrew G Reece dan Christopher M Danforth meneliti 44 ribu foto dari 166 peserta. Sebanyak 71 di antaranya masuk dalam diagnosa depresi dengan alat yang diciptakan oleh peneliti menganalisa foto beserta keterangan fotonya.

Untuk postingan gambar, umumnya mereka yang mengalami depresi selalu menggunakan tone warna yang lebih gelap seperti biru, abu-abu, atau hitam. Dilansir dari Quartz, penggunaan Instagram yang sering menampilkan gambar dengan komposisi warna hitam putih dikategorikan orang yang depresi.

Sebelum memposting foto atau video, pengguna Instagram dihadapkan pada pilihan filter. Penelitian ini pun menunjukkan, mereka yang kerap menggunakan filter inkwell dikategorikan depresi, sedangkan filter valencia merupakan sebaliknya. Postingan yang masuk kategori depresi, lebih sedikit menampilkan wajah orang karena dianggap menarik diri dari kelompok sosial.

Sementara mereka yang senang, sering memperlihatkan wajah dan cenderung memposting jepretan dengan banyak orang di dalamnya. Hasil dari alogoritma yang digunakan ini menghasilkan tingkat akurasi mencapai 70% dibandingkan dengan pemeriksaan ke dokter yang hanya ditemukan 42%.

“Anda bisa membangun alat yang bisa membantu lebih cepat. Pada akhirnya, ini akan menciptakan sesuatu yang memonitor suara seseorang bagaimana mereka bergerak dan seperti apa jejaring sosial mereka,” papar penulis studi Chris Danfort, co-director di University of Vermont’s Computational Story Lab.

Hasil penemuan ini pun diharapkan bisa menjadi acuan untuk kepentingan psikologi sehingga mereka yang depresi bisa diteliti dari hasil analisis media sosialnya.

(Ad)

%d blogger menyukai ini: