Sketsa News
Home Berita Terkini, Opini Pesantren Modern dan Full Day School

Pesantren Modern dan Full Day School

Sketsanews.com – Polemik Full Day School (FDS) belum juga selesai. Pihak pihak yang pro-kontra masih terus saling memberikan argumentasi argumentasi yang mereka punya. Beberapa kesempatan bahkan terdengar argumen bernada ancaman dari pihak pihak yang berkepentingan.

Saya sendiri sebagai praktisi pendidikan tidak dalam posisi memihak salah satu kubu. Tulisan singkat ini hanya ingin menggaris bawahi satu hal saja, yaitu akar permasalahan yang nampaknya bersumber dari pemisahan/dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum.

Komposisi kurikulum pendidikan di Indonesia memang sangat dikotomis dan sekularistik. Ilmu pengetahuan umum terpisah dari ilmu keagamaan. Sekolah pada umumnya lebih menekankan pada pengajaran ilmu umum sementara sekolah agama seperti madrasah diniyah dan pesantren nyaris hanya menekuni kajian keagamaan.

Dalam beberapa catatan sejarah perdebatan antara idealisme pendidikan ini berjalan sangat alot. Pertarungan idealisme antara pendidikan umum warisan Belanda dan pendidikan agama tradisi pesantren (tradisional) dimenangi oleh pendidikan umum. Meskipun begitu, pesantren tetap berjalan karena sejak awal mereka bersifat mandiri.

Uniknya, ada kubu yang nampaknya tidak ingin berpanjang lebar berpolemik. Justru mereka secara sadar mengambil sikap untuk mengambil jalan tengah dengan mengambil kebaikan dari kedua sistem dan digabung menjadi sistem yang baru. Salah satunya adalah kemunculan sistem Pondok Modern yang diiniasi oleh Pondok Modern Gontor.

Alih alih berdebat berkepanjangan, Pondok Modern justru menyatukan keunggulan dua hal tersebut dan menyatukan ilmu umum dan ilmu agama.
Tidak ada dikotomi ilmu umum dan ilmu agama. Karena pada hakikatnya justru semua ilmu berasal dari sumber yang sama.
Itulah kenapa perdebatan full day school tidak ditemukan dalam lingkunga pesantren modern. Dalam sistem yang pondok modern jalankan, justru kedua hal tersebut bisa berjalan bersinergi beriringan.

Dalam banyak kesempatan, sering disampaikan oleh para Kyai di Pondok Modern memiliki komposisi kurikulum yang ada adalah 100% agama dan 100% umum. Maksudnya adalah Pondok modern tidak memisahkan antara ilmu pengetahuan agama dan umum. Justru keduanya disatukan dalam proses yang disebut sebagai Integrasi ilmu pengetahuan.

Ilmu – ilmu umum yang sejak awal telah dimasukkan dalam struktur kurikulum pondok modern disisipi dengan nilai nilai keislaman. Ilmu tentang biologi perkembangan hidup manusia misalnya, bukan dianggap sebagai ansich ilmu umum. Justru ilmu tersebut dikupas dengan membahas ayat ayat Al Quran terkait hal tersebut.

Proses integrasi keilmuan itu bisa sangat efektif mengingat dilaksanakan dalam lingkungan yang terjaga kondusifitasnya dalam kehidupan berasrama santri selama 24 jam. Full day and night school.

Dalam konsep pendidikan di pondok modern, integrasi itu digabung dengan internalisasi ilmu pengetahuan kedalam kepribadian santri. Seluruh kegiatan santri baik yang diajarkan di dalam sekat sekat kelas ataupun yang dijalankan di kehidupan asrama mempunyai muatan nilai nilai keislaman.

Sholat berjamah, tidur, makan, mandi, olahraga, bahkan antri adalah kurikulum yang di sengaja disain untuk kepentingan praktek pendidikan berlandaskan ajaran agama.

Dan itulah kenapa nampaknya pondok pondok modern seperti Gontor dan pondok-pondok alumninya tidak terlalu bersuara dalam polemik FDS ini. Karena memang muatan kebaikan dalam kedua sistem sudah berhasil disinergikan dan dijalankan oleh mereka.

Wallahu a’lam bisshowab.

Cidokom, 11/8/17

 

by Ayah Dedy

 

(in)

%d blogger menyukai ini: