Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Headlines, News, Pendidikan Sebagian Besar SMP Negeri di Banyumas Terapkan Full Day School

Sebagian Besar SMP Negeri di Banyumas Terapkan Full Day School

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas Purwadi Santoso saat jumpa pers, Jumat (26/6/2015). (tribunjateng/abdul arif)

Sketsanews.com, Banyumas – Sebagian besar Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Negeri di Banyumas, Jawa Tengah mulai tahun ajaran 2017/ 2018 ini, menerapkan lima hari sekolah atau full day school (FDS). Namun, baru sekitar 25 persen yang melaporkan secara resmi kepada Dinas Pendidikan (Dindik) Banyumas.

Kepala Dindik Kabupaten Banyumas Purwadi Santosa mengatakan mengatakan, setelah mendapatkan surat dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, terkait Permendikbud No.23 tahun 2017. Kemudian pihaknya membuat surat edaran, kepada SMP Negeri yang ada di Banyumas, untuk menerapkan full day school atau tidak.

“Bagi yang akan menerapkan full day school, harus melalui proses pertemuan dengan orang tua siswa, permintaan kepada siswa didik dan juga penyiapan sarana pendukung. Untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran, yang dilaksanakan hingga sore hari,” kata Purwadi, Jumat (11/8).

Purwadi menegaskan, pelaksanaan Full Day School di sekolah harus menyenangkan bagi peserta didik. Pihaknya juga melarang penambahan jam pelajaran atau intrakurikuler. Adapun yang diperbelehkan ada kokurikuler dan ekstarkurikuler.

Kata Purwadi, jumlah keseluruh SLTP Negeri di Banyumas mencapai 71 sekolah. Hampir selurunya, kata dia, melaksanakan full Day School.

“Sudah mendaftar, edaran itu menyebutkan tata cara melaksanakan. Yaitu supaya mendaftarkan diri ke Dindik, saya mengusulkan, saya tidak melaksanakan full day school. Syaratnya semua guru sudah siap, TU sudah siap,” jelasnya.

Mengutip dari GATRAnews, pelaksanaan Full Day School, kata Purwadi, juga harus atas persetujuan orang tua siswa. Setelah adanya kesepakatan antara pihak- pihak tersebut, Full Day School baru bisa dilaksanakan. “Kemudian rapat dengan komite menyatakan sudah setuju, siswa diberi sosialisasi dan ditayangkan. Kemudian orang tua dikumpulkan, untuk dimusyawarahkan,” tandasnya.

Terkait polemik yang terjadi di masyarakat yang menolak full day school, Purwadi Santosa mengatakan pelaksanaan full day school meniru pendidikan karakter yang diajarkan di pondok pesantren, maupun madrasyah diniyah. Itu sebabnya, anak- anak yang sudah mendapatkan pendidikan keagamaan di pondok pesantren tidak boleh diganggu.

“Sedangkan untuk yang belum mendapatkan akan diberikan pada saat full day school,” jelas dia.

Purwadi menambahkan, pelaksanaan full day school untuk tingkat SMA Negeri di Banyumas, sudah dilakukan satu tahun lalu atau tahun ajaran 2016/2017. Sementara, untuk sekolah dasar, hanya ada beberapa sekolah yang melaksanakan full day school, terutama sekolah-sekolah terpadu.

(Wis)

%d blogger menyukai ini: