Sketsa News
Home Berita Terkini, Citizen-Jurnalism Ini Kisah NOVEL – ku

Ini Kisah NOVEL – ku

Sketsanews.com – Tak banyak yang tahu tentang diriku. Aku adalah cucu pendiri Republik Indonesia ini, bapak Abdurrahman Baswedan. Seorang jurnalis pejuang kemerdekaan Indonesia yang gigih menorehkan bait-bait penolakan pada kebiadaban penjajah, seorang diplomat ulung yang disegani banyak lawan dan salah seorang sastrawan terbaik di masanya.

Aku adalah racun bagi para koruptor di negeri ini. Penyidik yang berperan dalam mengungkap kasus dugaan korupsi proyek simulator ujian SIM Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri. Penyidik yang membongkar skandal korupsi yang melibatkan mantan Bendahara Partai Demokrat, M. Nazaruddin, yang kemudian menyeret banyak tokoh penting di Republik ini. Salah satu dari lima penyidik yang memilih bertahan di KPK, saat Polri memutuskan menarik 15 penyidiknya yang diperbantukan di KPK. Itulah aku.

Aku adalah pria kelahiran Semarang yang tertarik pada fisika dan memiliki keunggulan disana, begitu kata guru SMA ku, guru SMAN 2 Semarang. Bapak Sumarno sebagai guru Fisikaku menceritakan, walaupun aku tidak terlalu menonjol, rata-rata nilai pelajaranku cukup bagus. “Yang saya ingat itu anaknya halus, pendiam, sederhana, saat itu tidak terlalu kocak juga, tidak menonjol, pembawaan kalem, rata-rata nilai bagus,” kata bapak Sumarno.

Aku memiliki nama belakang Baswedan. Nama yang sangat familiar di telinga kalian, bukan? Ya, aku merupakan sepupu bapak Anis Baswedan yang saat ini, alhamdulillah, akan menjabat sebagai gubernur terpilih DKI Jakarta. Bahkan sebagai saudara sepupunya, aku selalu diberikan semangat disaat kondisiku terpuruk seperti ini. Beliau pernah berkata bahwa Ini adalah periode paling menentukan dalam pemberantasan korupsi apakah KPK akan menang atau atau yang akan kalah. Tidak tidak, aku tidak sedang merasa paling membenarkan KPK, aku hanya sedang memperjuangkan kebenaran!

Saat ini aku tengah dalam kondisi yang cukup baik. Walau beberapa waktu lalu sempat diberi siraman air keras oleh oknum yang membenciku, atau mungkin membenci apa yang kuperjuangkan, tapi aku tlah kembali dan kini siap berjuang kembali. Tak pelak, Mata Najwa sendiri pun sampai mengundangku di acaranya. Ngobrol ini ngobrol itu, dan entah berhubungan atau tidak, setelah acara itu beliau mengundurkan diri sebagai host Mata Najwa. Hmm.

Walau kini kondisiku tlah pulih, tapi mata kiriku sudah tidak bisa melihat kembali. Bahkan aku sudah tidak bisa lagi membaca Alquran. Aku sudah mencoba untuk membaca Alquran dengan ukuran yang lebih besar, ternyata aku tidak bisa membaca dengan baik karena kurang bisa melihat. Qadarullah, mungkin Allah terlalu rindu dengan mataku dan ingin menjaganya sendiri dengan caraNya. Meski begitu, aku akan selalu membawa Alquran.

Ini kisah Novel-ku, dan aku akan terus berjuang menyelesaikan endingnya hingga titik darah penghabisan. Aku bisa saja dihabisi, tapi tidak dengan kebenaran.

Akhukum fillah,
Erwin Pandu Pratama
( Follow IG : @erwinpandupratama )

*Tulisan saya buat berdasarkan biografi asli dan cerita fakta bapak Novel Baswedan

 

 

(in)

%d blogger menyukai ini: