Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Ekonomi & Bisnis, Headlines, News Rizal Ramli: Rakyat Indonesia Tak Sejahtera Karena Menterinya Berhaluan Neoliberalis

Rizal Ramli: Rakyat Indonesia Tak Sejahtera Karena Menterinya Berhaluan Neoliberalis

Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli (tengah), Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (kiri) dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung (kanan) memberikan keterangan pers hasil sidang kabinet terbatas di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Rabu (15/6). Rapat tersebut membahas soal kebijakan pembangunan kelautan. ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf/aww/16.

Sketsanews.com, Jakarta – Ekonom senior Rizal Ramli terus mengkritisi kebijakan pemerintah yang banyak ngawurnya. Sehingga hal ini menyebabkan struktur ekonomi Indonesia ibarat sebuah “gelas anggur” sangat tak sehat.

Kondisi itu tercipta karena, para menteri ekonomi di pemerintahan Joko Widodo itu karena berhaluan neoliberalis. Makanya jangan harap kehidpan rakyat Indonesia akan semakin sejahtera.

Padahal menurut Menteri Koordinator bidang Perekonomian era Presiden Gus Dur itu, sejak 40 tahun yang lalu, semua negara di Asia, termasuk Indonesia, itu sama-sama miskin.

“Pertanyaannya, kenapa kita bisa demikian? Kenapa kita ketinggalan? Dan kenapa rakyat kita masih belum sejahtera dibanding negara lain? Setelah dipelajari baru ketahuan penyebabnya itu apa. Yaitu para menteri itu memilih kebijakan ekonomi neoliberalisme,” papar Rizal yang dibagi dalam akun twitter-nya, ditulis Minggu (13/8).

Selama ini, dia menegaskan, banyak yang bilang tidak sejahteranya rakyat Indonesia karena masih maraknya aksi korupsi.

“Banyak yang mengatakan seperti itu. Memang penjelasan tentang korupsi ini bisa benar, tapi itu penyederhanaan masalah. Karena negara lain ada korupsi juga kok, tapi rakyatnya sejahtera,” kata dia.

Ada juga yang mengatakan, kondisi tersebut karena dipicu oleh pola pikir menteri-menteri dan pejabatnya itu tak cerdas dan tidak pintar. Jelas pernyataan ini tak benar. Karena banyak menteri yg sekolahnya bagus-bagus di luar negeri.

“Saya lebih percaya dengan penjelasan ketiga yakni mereka (menteri ekonomi) memilih kebijakan ekonomi neoliberalisme yang merupakan pintu masuk neo kolonialisme yang dianjurkan oleh Bank Dunia (WB),” cetusnya.

Padahal, kata dia, di dunia ini tak ada negara di seluruh dunia yang rakyatnya makmur jika mengikuti kebijakan tersebut. Contohnya, negara-negara di Amerika Latin.

“Kita ikut itu (program WB). Bersama Filipina di Asia kita ikut. Kalau yang lain ikutnya model Asia dan dampaknya luar biasa berbeda (mereka lebih sejahtera),” tutur dia.

Dirinya pun mencontohkan hasil dari kebijakan ekonomi neoliberalisme itu menciptakan struktur ekonomi ibarat gelas anggur yang sudah berjalan puluhan tahun.

“Kondisi ekonomi di atas (ibarat media gelas tempat menampung air) itu besar dan diisi oleh BUMN yang besar-besar dan diisi oleh 200 keluarga yang punya lebih dari 100 perusahaan,” kata dia.

Tapi di bawahnya (pegangan gelas) itu, dia menambahkan, kodnisinya kecil yang menandakan tak ada kelas menengah yang independen. Dan yang di bawahnya (alas gelas) lagi, cukup besar sekali. Itu menandakan 16 juta usaha kecil dan rumah tangga.

“Dengan struktur ekonomi seperti ini jelas sangat berbahaya buat demokrasi. Karena yang di atas makin lama akan makin kaya dan yang di bawah makin miskin. Akhirnya terjadi kecemburuan ekonomi kalau dicampur dengan faktor etnis, faktor agama, itu bahaya sekali karena bisa jadi sumber integrasi di bidang ekonomi,” pungkas dia, seperti dikutip dari laman Aktual.

(Fya)

%d blogger menyukai ini: