Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, News, Peristiwa Suka Makan Darah Sapi, Sehari 37 Nyawa Orang Meregang Ditangannya

Suka Makan Darah Sapi, Sehari 37 Nyawa Orang Meregang Ditangannya

JSketsanews.com, Jawa timur– Kisah nyeleneh Wirdjo muda yang dikenal sebagai si pembantai asal Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim) ternyata masih sangat diingat oleh sang Paman Sutedjo yang saat itu hidup bersamanya. Meskipun beda rumah.

Nama Wirdjo ternyata masih sangat menempel kuat di ingatan masyarakat Banyuwangi di tahun 1987. Pasalnya, Wirdjo telah menewakan belasan orang dan melukai puluhan lainnya. Tragedi itu terjadi pada 12 Juli 1987.

Masih dalam penelusuran Tim Radar Banyuwangi (JawaPos Group) Jejak Wirdjo ini dikupas lewat sang paman, Sutedjo yang bertutur langsung soal jejak hidup Wirdjo.

Selain tempramental dan berprilaku tidak seperti pemuda kebanyak, Wirdjo juga ternyata memiliki selera makan yang tak normal.

Wirdjo pernah menanak nasi dari lima kilogram (5 Kg) beras. Bermodal satu botol minyak goreng, dia kemudian memasak nasi goreng dari hasil menanak nasi 5 Kg itu.

Sutedjo menunjukan makam Wirdjo yang mati karena gantung diri.

Sutedjo menunjukan makam Wirdjo yang mati karena gantung diri. (Radar Banyuwangi)

Ajaibnya, nasi goreng segunung itu pun habis disantap Wirdjo seorang diri. Meski akhirnya, kebanyakan makan membuat dirinya tidak bisa jalan karena kekenyangan. “Saya bilang harus berendam di air sungai biar kenyangnya hilang,” ujarnya.

Bahkan, dalam sebuah kesempatan, selera makan yang meledak-ledak ini nyaris membuat pemilik warung di sekitaran Perliman (simpang Lima) saat itu takut nasinya tidak terbayar. Wirdjo yang makan bersama sang paman mampu menghabiskan hingga lima bungkus nasi dalam waktu cepat.

Bahkan satu piring makanan dedeh (darah sapi beku yang dimasak) juga disukainya. Rasanya yang empuk, rupanya juga mengundang selera makannya.

Sutedjo pun hanya bisa mengelus dada kala itu, saat melihat proses makan Wirdjo. “Dia orangnya keras tapi ada nyelenehnya. Saya kalau ingat itu suka ketawa sampai sekarang,” kenangnya.

Sementara itu, alat yang digunakan Wirdjo untuk membantai puluhan orang di berbagai kampung pada hari nahas itu ternyata bukan celurit. Masyarakat Suku Osing, khususnya di Kampung Watu Buncul menyebut senjata itu jombret.

Bentuknya menyerupai parang. Bedanya alat ini lebih tipis dan memanjang. Tepat gi ujungnya, ada bagian yang melengkung sedikit. Di kalangan petani, jambret sering digunakan untuk memotong rumput.

Alat inilah yang digunakan Wirdjo saat kalap dan melukai puluhan orang di tahun 1987 silam. Sutedjo hanya mengingat kejadian yang melibatkan keponakannya itu terjadi sekitar bulan April 1987.

Tanggal pastinya dia lupa. Namun petunjuk atas insiden berdarah itu kemudian ada di makam Wirdjo  yang letaknya ada di makan keluarga.

Di batu nisan yang tertulis tanggal wafat Wirdjo pada tanggal 16 April 1987. “Yang pasti sebelum tanggal itu. Sebab setelah ditemukan gantung diri, dia sempat diinapkan di kamar mayat rumah sakit (RSUD Blambangan) selama semalam,” beber Sutedjo.

Lewat keterangan Sutedjo ini pula, penyebab Wirdjo berubah jadi sang pembantai mulai terkuak. Sinyal akan datangnya tragedi berdarah itu muncul saat Wirdjo mengasah jombret miliknya.

Banyak orang, termasuk Sutedjo yang bertanya apa alasan Wirdjo mengasah alat pemotong rumput. Jawaban yang keluar dari mulut Wirdjo ternyata cukup singkat. Yakni untuk menjaga diri. “Dua hari sebelum kejadian itu, dia mengasah jombret di rumahnya,” beber Sutedjo.

Semenatara itu, munculnya insiden berdarah itu pun bermula kemarahan Wirdjo terhadap istrinya. Darmi menceritakan, saat itu istri Wirdjo sedang mencangkul di sawah. Wirdjo kemudian datang dengan menuntun sapi. Wirdjo saat itu meminta sang istri untuk bergeser agar tidak tertabrak oleh ternak yang dibawanya.

Namun sang istri jawaban atas permintaan itu membuat suaminya muntab. “Istrinya bilang nggak bakalan ditabrak. Masih ada ruang sela,” kenang Darmi.

Mendengar jawaban itu, Wirdjo pun marah sejadi-jadinya. Tongkat pecut yang digunakan untuk memukul sapi, justru diarahkan kepada istrinya.

Pukulan bertubi-tubi itu rupanya membuat perempuan itu langsung kabur ke rumah orang tuanya di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah.

Melihat istrinya pergi, Wirdjo yang kalap segera mencari istrinya ke rumahnya. Karena tidak ketemu di rumah, dia kemudian berjalan menuju rumah mertuanya. Di sana, dia mengamuk dan mencari istrinya. “Wirdjo ngamuk di sana karena cari istrinya. Hansip sampai tidak berani menenangkan,” ujar Sutedjo.

Dia pun kemudian pulang ke rumah. Bermodal jombret inilah, Wirdjo memulai kisah horor dengan aksi sadisnya kala itu. Dia tidak pilih-pilih korban.

Bahkan, beberapa korban masih berstatus familinya sendiri. Dia menjalankan aksinya dengan dingin. Ada korbannya perempuan tua yang sering ngantar makanan Wirdjo saat di sawah. Dipanggil ke rumahnya langsung dibacok.

Dengan berjalan kaki, Wirdjo mampu melukai 37 orang di desa yang dilaluinya. Dari puluhan korban itu, 17 orang di antaranya harus merenggang nyawa.

Usai berkelana sehari mencari korban, Wirdjo sore harinya terlihat di dekat sebuah sungai masuk daerah Dusun Delik dan Gerangan di Desa Kemiren, Glagah. Lokasinya kurang lebih berada tidak jauh dari sungai dekat bagian timur Wisata Osing saat ini.

Keberadaannya sempat diketahui seorang pemanjat kelapa. Wirdjo masuk ke saluran air di sungai yang banyak ditumbuhi tanaman liar. “Saya sempat diberi tahu dan datang ke lokasi itu. Tapi saya biarkan dulu di sana,” ujar Sutedjo.

Keesokan harinya, Sutedjo dibantu polisi dan tentara menyisir daerah itu. Di sanalah, kemudian keponakannya itu sudah ditemukan tidak bernyawa dengan posisi gantung diri. Dia mengenakan celana pendek tanpa baju dan kakinya terendam di aliran sungai.

Sejak kejadian itu pula, istri Wirdjo juga tidak jelas keberadaannya. “Sejak kejadian itu istrinya tidak lagi ada di sana,” katanya.seperti yang dikutip dari Jawapos

(Tb)

%d blogger menyukai ini: