Agus Rubiyanto, Profesor ’’Bonek’’ yang Jatuh Cinta kepada Persebaya

Sketsanews.comSebagai guru besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Agus Rubiyanto tidak hanya berkecimpung di dunia pendidikan. Pria 53 tahun itu juga dikenal sebagai profesor Bonek karena kecintaannya terhadap Persebaya.

SEPTINDA AYU PRAMITASARI, Jawa Pos

 KEBANGGAAN GURU BESAR: Agus Rubiyanto masih rajin mendukung langsung Persebaya dari tribun. (Robertus Risky/Jawa Pos)
KEBANGGAAN GURU BESAR: Agus Rubiyanto masih rajin mendukung langsung Persebaya dari tribun. (Robertus Risky/Jawa Pos)

RUANG kerja Profesor Agus Rubiyanto dipenuhi aksesori Persebaya. Semua bernuansa hijau. Gambar buaya yang menjadi ikon khas tim kebanggaan arek-arek Suroboyo itu terpajang di beberapa sudut ruangan. Syal, jersey, jaket, bantal, hingga topi pun tersedia lengkap di salah satu sudut ruangan.

’’Semua saya pajang di ruang kerja ini. Kalau pas selesai kerja ada nobar (nonton bareng, Red), saya bisa langsung berangkat,’’ kata Agus memulai pembicaraan dengan Jawa Pos pada Selasa (14/1).

Agus memang mengoleksi berbagai perlengkapan suporter Persebaya. Meski tidak banyak, seluruh aksesori yang dikeluarkan official store Persebaya untuk suporter selalu dibeli Agus. Bahkan, saking cintanya dengan Persebaya, semua perlengkapan kantor berwarna hijau. ’’Laptop juga hijau. Sebenarnya enggak sengaja, tetapi kok nyambung ya,’’ celetuk Agus, lantas tertawa. Menurut Agus, suporter Persebaya adalah aset kota. Bukan hanya anak muda. Ada juga orang dewasa di dalamnya Bahkan dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang berbeda-beda. ’’Tidak ada suporter seperti Bonek,’’ klaimnya.

Agus pun sangat bangga menjadi bagian dari Bonek. Meski dia adalah guru besar dengan jabatan struktural sebagai kepala Pusat Penelitian Sains Fundamental di ITS, jiwanya sebagai Bonek tidak pernah berkurang sedikit pun. ’’Di kampus, saya profesional sebagai dosen, guru besar dengan amanah kepala Pusat Penelitian Sains Fundamental. Di luar itu, saya Bonek,’’ tegas dia.

Sejak SMA, Agus menyatakan rajin mbonek. Namun, belum banyak yang dilakukannya saat itu. Sebab, saat masih berstatus pelajar, dia belum memiliki uang sendiri. ’’Waktu itu, untuk membayar sekolah saja, saya harus mengumpulkan uang dulu,’’ ungkapnya.

Setelah menjadi mahasiswa, Agus mulai melakukan aktivitas mbonek. Uang hasil bekerja dikumpulkan sedikit demi sedikit untuk bisa ikut mendukung Persebaya dengan menonton di tribun. ’’Saat itu saya juga berfokus dengan pendidikan,’’ kata dia.

Hingga akhirnya menjadi dosen, Agus makin mbonek. Bahkan, di kampus terdapat komunitas Bonek. Namanya, Bonek Heroes Campus. Di dalamnya, ada dosen, mahasiswa, dan pencinta Persebaya dari berbagai departemen. Kegiatannya tidak hanya nonton bareng di tribun maupun di luar tribun, tetapi juga diskusi akademis tentang Persebaya.

’’Kami sampai mengundang Persebaya ke kampus, memberikan masukan kepada mereka agar Persebaya lebih baik,’’ jelas guru besar di bidang ilmu optika terpadu tersebut.

Sebagai bentuk dukungannya kepada Persebaya, Agus juga telah terdaftar sebagai Bonek Tribun Super Fans. Membeli tiket terusan memudahkan para suporter ikut nribun ke mana pun Persebaya main. ’’Kalau tidak ada kegiatan di kampus, saya ikut nribun. Jika jadwalnya padat, nobarnya diganti di kafe saja,’’ ujarnya.

Jiwa Bonek memang tidak pernah lepas dari Agus. Bahkan, selama tujuh tahun berada di Jerman, dia tetap mengikuti perkembangan Persebaya. Sebagai gantinya untuk tetap menumbuhkan jiwa Bonek tersebut, Agus menjadi suporter Borussia Dortmund.

Dia menilai militansi suporter Die Borussen – julukan Dortmund– mirip Bonek. Bahkan, Bonek bisa belajar dari para suporter tim yang identik dengan kostum kuning tersebut. Mereka kerap menampilkan koreografi yang mengundang decak kagum pencinta sepak bola internasional.

’’Saya melihat karakter suporter Borussia Dortmund hampir mirip Bonek. Di Jerman, saya mbonek-nya untuk Borussia Dortmund. Di Indonesia tetap Persebaya,’’ kata dia.

Kesibukannya sebagai dosen, gubes, dan kepala Pusat Penelitian Sains Fundamental memang padat. Namun, sikap profesional tetap ditunjukkan. ’’Jangan sampai Bonek tidak mempunyai sikap profesional dalam pekerjaan,’’ ujarnya.

Menurut Agus, jika dididik dan diberi pekerjaan, Bonek akan menjadi energi yang hebat. Jangan sampai image Bonek selalu disudutkan dengan kata-kata brutal. ’’Tidak semua Bonek seperti itu. Banyak kalangan terdidik yang menjadi Bonek,’’ ungkapnya.

Agus pun membawa misi mem-branding image Salam Satu Nyali menjadi berani untuk tertib, disiplin, dan terdidik. ’’Bonek itu harus beredukasi. Bukan perkara pendidikan harus tinggi, tetapi bisa tertib dan disiplin,’’ jelasnya.

Hingga saat ini, Agus juga sering membuat kliping berita-berita Persebaya dari berbagai media cetak. Hobi tersebut dilakukannya sejak 2012. Itulah bentuk rasa memiliki Persebaya.

’’Surabaya adalah Kota Pahlawan. Di dalamnya, ada perjuangan arek-arek Suroboyo. Seharusnya Bonek juga menjadi satria, bukan merusak, tetapi saling menjaga,’’ tandasnya.

Artikel ini telah dipublikasikan di www.jawapos.com dengan judul Agus Rubiyanto, Profesor ’’Bonek’’ yang Jatuh Cinta kepada Persebaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: