Akhirnya Ada Berita Baik Bagi Pasar Keuangan

Sketsanews.com, Jakarta – Pasar keuangan Indonesia akhirnya mampu keluar dari keterpurukannya pada penutupan perdagangan kemarin (4/9/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah kompak membukukan penguatan. Hanya harga obligasi pemerintah yang stagnan dengan koreksi tipis.

Kemarin, bursa saham utama Ibu Pertiwi yang awalnya terjebak di zona merah, pada menit-menit terakhir langsung sprint sehingga berhasil ditutup menguat 0,13% ke level 6.269,66 poin.

Lalu, sama halnya dengan IHSG, Mata Uang Garuda juga mampu finis di zona hijau dengan mencatatkan penguatan hingga 0,49% yang membuat US$ 1 dibanderol Rp 14.150 saat penutupan perdagangan pasar spot.

Sementara itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah seri acuan tenor 10 tahun cenderung stagnan dengan hanya tercatat naik 0,3 basis poin ke level 7,363%. Kenaikan yield adalah pertanda harga obligasi sedang turun karena terpapar aksi jual.

Pasar keuangan Indonesia kompak dengan mayoritas bursa saham utama di Benua Kuning yang juga mencatatkan kenaikan. indeks Hang Seng meroket 3,9%, indeks Shanghai menguat 0,93%, indeks Kospi naik 1,16%, indeks Straits Times menguat 1,47%, dan indeks Nikkei naik 0,12%.

Pada dasarnya terdapat dua sentimen besar yang saling bertolak belakang dan mewarnai pergerakan pasar keuangan global pada perdagangan kemarin.

Pertama adalah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengatakan dia bisa mengambil langkah lebih ekstrim untuk menekan praktik dagang China apabila dia kembali memenangkan pemilihan presiden tahun depan.

“.. Lalu, pikirkan apa yang terjadi pada China ketika saya menang. Kesepakatan akan ‘LEBIH SULIT!’ Sementara itu, rantai pasokan China akan hancur, dan bisnis, pekerjaan, dan uang akan hilang!” cuit Trump.

Akan tetapi, di lain pihak, pelaku pasar lebih memilih untuk menyambut positif rilis angka PMI sektor jasa China bulan Agustus yang mencapai level tertinggi dalam 3 bulan terakhir (sejak Mei).

Caixin mencatat PMI sektor jasa Negeri Tiongkok bulan Agustus mencapai 52,1 poin, lebih tinggi dari capaian Juli yang sebesar 51,6 poin. Ekspansi tersebut didorong oleh peningkatan jumlah pesanan dan pesatnya pertumbuhan lapangan kerja ke level tertinggi sejak Juni 2018, dilansir Trading Economics.

Sebelumnya, rilis data PMI sektor manufaktur China bulan Agustus juga naik dari 49,9 poin menjadi 50,4 poin.

Tercatatnya ekspansi baik di sektor jasa dan manufaktur Negeri Tiongkok merupakan kabar baik bagi rekan dagangnya di Asia. Pasalnya, jika aktifitas bisnis China tumbuh, maka besar kemungkinan permintaan akan pulih.

Direktur Analis Makroekonomi di CEBM Grup Zhong Zhengseng mengatakan bahwa sudah terlihat tanda-tanda positif atas stimulus ekonomi yang diberikan pemerintah China dalam beberapa bulan terakhir.

“Tidak perlu terlalu pesimis terhadap ekonomi China karena ada peluncuran serangkaian kebijakan untuk mendorong pertumbuhan berkualitas tinggi,” ujar Zhong dilansir Reuters.

(BERLANJUT KE HALAMAN DUA)(dwa)

▶ Sumber ◀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: