Ali Imron, Mantan Teroris Berbagi Kiat Menangkal Radikalisme Sejak Dini

Eks teroris Bom Bali Ali Imron membagi pemikiran dalam kajian "ekstrimisme dan menghalau ekstrimisme sejak dini" di Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta, Selasa (27/11/2018). (Foto: Tagar/Morteza Syariati Albanna)

Kajian stratejik di Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta, Selasa (27/11/2018), membedah buku berjudul “Menghalau Ekstrimisme” dan “Ketahanan Keluarga”. (Foto: Tagar/Morteza Syariati Albanna)

Sketsanews.com, Jakarta – Ali Imron teroris bom Bali yang sudah kembali ke jalan yang benar itu hadir dalam kajian ekstrimisme di Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta, Selasa (27/11). Ia bermetamorfosis menjadi seseorang yang mengambil peran untuk menjaga agar jangan sampai orang-orang terjerumus seperti dirinya dulu.

Perlu digarisbawahi dalam kajian ini, bahwa peran keluarga sangat penting dalam membentuk karakter serta kepribadian anak. Dengan mengerti dan lebih memahami persoalan agama, orangtua berperan besar dalam mengayomi anak, untuk mempertahankan nilai-nilai tenggang rasa dan toleransi yang sejak lama menjadi rantai pemersatu bangsa Indonesia yang hidup heterogen ini.

Ali Imron mengatakan, dalam era globalisasi yang semuanya serba cepat dan mudah seperti sekarang ini, harus ada formula khusus guna memantau perkembangan dan sisi kepribadian anak, agar tidak terjerumus dalam ideologi ekstrimisme dan radikalisme. Ideologi radikalisme harus ditangkal dan disembuhkan secepat mungkin.

“Radikalisme ini bukan seperti persoalan narkoba, karena ini menyangkut kepribadian seseorang dan sudah berbicara hingga akhirat,” jelas Ali Imron, seperti dikutip dari Tagar.

Ia mengutuk peristiwa teror bom bunuh diri di Surabaya yang terjadi beberapa bulan lalu dimana pelakunya melibatkan anak istri.

“Mau mati syahid kok malah mengajak anak dan istri. Dulu kita saja merahasiakan, kalau bisa istri tidak tahu kita sedang berjihad,” kenang Ali Imron.

“Itu hawa nafsu. Aksi itu tidak bisa dibenarkan. Jika mau jadi teroris, di Filipina saja, karena Indonesia ini negara damai,” lanjutnya.

Menurut Ali Imron dalam membendung paham radikal di Indonesia, sudah sewajibnya orangtua lebih selektif lagi dalam menyekolahkan ataupun mencari sekolah yang terbaik untuk anak. Karena menurut dia, pendidikan anak di bangku SMA sedang  memasuki tahap paling kritis.

“Harus dihindari, jangan sampai anak selepas menginjak masa bangku sekolah, justru menganut paham yang mengkofar-kafir kofar-kafirkan orang lain,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Marella Al Fatton penulis buku Ketahanan Keluarga: Paradoks Radikalisme Dalam Keluarga Indonesia mengatakan, saat ini melalui media sosial anak dapat dengan mudah terpapar ideologi atau paham radikal, karena dapat berkomunikasi langsung dengan tokoh-tokoh teroris yang bergerak melalui media sosial atau internet.

Eks teroris Bom Bali Ali Imron membagi pemikiran dalam kajian “ekstrimisme dan menghalau ekstrimisme sejak dini” di Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta, Selasa (27/11/2018). (Foto: Tagar/Morteza Syariati Albanna)

“Ada juga proses infiltrasi masuk sekolah-sekolah, perguruan tinggi dan buku. Baik itu ditemukan melalui kegiatan rohis, ataupun oknum guru yang sudah terpapar radikalisme lebih awal, lalu mengideologi paham tersebut ke anak muridnya,” ujar Marella.

Marella lebih lanjut mengatakan, harus ada upaya dari Kementerian Pendidikan untuk melakukan penyisiran langsung terhadap guru yang terindikasi bahkan sudah terpapar radikalisme, dan harus dibimbing kembali. Selain itu, menurutnya ada juga radikalisme yang sudah masuk dalam literatur buku pelajaran.

“Jangan sampai terlambat dan jangan sampai di lingkungan kita dan keluarga kita, ada yang terpapar radikalisme hingga terorisme. Untuk menyembuhkan itu merupakan peran setiap orang, lingkungan, negara,” kata dia.

Dalam acara ini juga dihadirkan Eko Ibrahim alias Baim mantan narapidana terorisme yang pernah mendekam di LP Nusakambangan.

Baim mengatakan, keluarga merupakan titik terpenting dan dapat membuat segalanya berubah. Keluarga membuatnya menjadi manusia yang lebih baik. Setelah bertaubat, kata Baim, ia lebih banyak berkumpul dengan keluarga dan buah hatinya.

“Saya kembali ke keluarga, karena itu adalah hal yang terpenting, dan anak lah segala sumber yang membuat saya harus kembali menarik diri karena saya berpikir, buat apa harus kembali ke sel penjara karena menganut ideologi yang bertentangan dengan Pancasila,” ucap pria asal Aceh itu.

Ia juga menyampaikan imbauan pada masyarakat muslim Indonesia, untuk tidak lagi mengkafir-kafirkan orang, apalagi bagi sesama muslim. “Kita semua bersaudara, kita harus saling mengingatkan. Itulah pentingnya persaudaraan,” ucap dia. (Is)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: