Aliran Modal Asing Lewat Saham Capai Rp59 Triliun per 26 Juni


Sketsanews.com, Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengklaim pasar keuangan Indonesia bergerak positif meski ekonomi global sedang melambat. Hal ini terlihat dari investasi asing yang terus masuk ke dalam negeri.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan pelaku pasar asing tercatat beli bersih alias net buy di pasar saham sebesar Rp59,32 triliun sejak Januari sampai 26 Juni 2019. Tak heran, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merangkak 1,87 persen secara year to date (ytd) ke level 6.310 per 26 Juni 2019.

Tak hanya masuk lewat saham, asing juga tertarik untuk mengoleksi Surat Berharga Negara (SBN) yang diterbitkan oleh pemerintah. Mereka tercatat beli bersih mencapai Rp90,99 triliun per 25 Juni 2019.

“Pasar keuangan domestik kinerjanya terpantau cukup baik. IHSG ditutup di level 6.310,49 per 26 Juni 2019 atau naik 1,87 persen secara year to date (awal 2019 hingga perdagangan saham 26 Juni 2019),” ujar Wimboh, Kamis (27/6).

Ia menyebut nilai kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) per 26 Juni 2019 di angka Rp7.186 triliun. Sementara, khusus penutupan perdagangan Kamis (27/6) IHSG naik tipis 0,66 persen ke level 6.352.

Kendati menunjukkan angka yang positif, Wimboh mengakui bukan hal yang mudah untuk mempertahankan posisi ini di tengah ekonomi global yang bisa dibilang tak sepenuhnya positif seperti ini.

“Kami menyadari bahwa dampak dari perlambatan ekonomi global akan ditransmisikan ke ekonomi dalam negeri,” tutur dia.

Sebagai langkah mitigasi risiko, Wimboh mengaku akan mengarahkan perusahaan yang membutuhkan pembiayaan untuk melakukan ekspansi. Selain itu, OJK mendorong Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk memberi ruang gerak yang lebih leluasa untuk industri berorientasi ekspor.

“Ruangnya bukan hanya kebijakan di OJK. Tapi juga soal perpajakan (untuk industri),” terang dia.

Dengan demikian, kinerja perusahaan bisa terjaga jika industrinya tetap sehat. Ujung-ujungnya, ketertarikan pelaku pasar asing untuk menanamkan dana di Indonesia tak luntur.

Seperti diketahui, Bank Dunia merevisi pertumbuhan ekonomi dunia dari 2,9 persen menjadi 2,6 persen pada Juni 2019. Sinyal perlambatan ekonomi ini direspons oleh sejumlah bank sentral dengan menurunkan suku bunga acuan mereka.

Bank sentral India (Reserve Bank of India/RBI), misalnya, yang menurunkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 5,75 persen. Selain itu, bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia (RBA) juga turun menjadi 1,25 persen. (Slk)

Sumber: CNNIndonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: