Amien Rais Lawan Wiranto di Bulan Mei 1998 Terulang di Mei 2019

Foto : istimewa

Foto : istimewa

Sketsanews.com, Jakarta – Wiranto dan Amien Rais sama-sana priyayi Solo. Tapi meski sekampung, dalam politik keduanya berseberangan. Pada Mei 1998 Amien Rais bersama mahasiswa hendak “kuasai” Monas, tapi dihadang Menhankam/Panglima TNI Wiranto. Mei 2019 Amien Rais hendak “people power” kembali dihadang Wiranto lewat Tim Asistensi Hukum. Mati kutu!

Di kota Solo, Amien Rais, 75, berasal dari Kelurahan Kepatihan Kulon, Jebres. Sedangkan Wiranto, 72, berasal dari Kelurahan Punggawan, Kecamatan Banjarsari. Dalam bingkai akal sehat, ketemu orang sekampung di tanah perantauan biasanya menjadi akrab dan hangat. Tapi naluri ini tak berlaku bagi Amien Rais,  sesepuh PAN dan Wiranto yang Menko Polhukam.

Dalam perjalanan nasib di Jakarta, keduanya selalu berseberangan dan berlawanan. Tahun 1998, tepatnya bulan Mei, Amien Rais Ketum PP Muhammadiyah bersama mahasiswa mendobrak kepemipinan Orde Baru. Tanggal 2 Mei Amien Rais memimpin mahasiswa untuk menguasai Monas.

Wiranto yang kala itu Menhankam/Panglima TNI, jika Amien dan mahasiswa mengusasi Monas, sebentar lagi bakal menjangkau Istana. Maka Amien Rais pun ditelepon, diminta membatalkan niatnya. Jika tidak, akan disikat habis. Ketimbang terjadi pertumpahan darah, Amien Rais membatalkannya. Tapi perjalanan sejarah menentukan, Pak Harto tetap juga lengser 21 Mei di tahun yang sama.

Di era reformasi, baik Wiranto maupun Amien Rais menapaki nasibnya sendiri-sendiri. Amien Rais berada di kubu Capres Prabowo sejak tahun 2014 hingga Pilpres 2019. Sedangkan Wiranto ditunjuk Presiden Jokowi yang asal Cinderejo Solo juga, sebagai Menko Polhukam. Nah, di sinilah keduanya seakan rematch dengan kekuasan masing-masing.

Amien Rais sebagai bagian dari BPN Prabowo, menilai bahwa pelaksanaan Pemilu berlangsung curang. Karena itu dia bermaksud menggelar massa yang diistilahkannya “people power”, untuk mendelegitimasi KPU. Seruan Wiranto agar kecurangan itu digugat ke Bawaslu dan MK tak digubris Amien Rais.

Karena dampak agitasi “people power” bisa mengancam keselamatan negara, maka Wiranto pun membentuk Tim Asistensi Hukum (TAH) yang dianggotai 24 pakar hukum. Dampaknya, Eggi Sudjana yang getol kampanye “people power” ditangkap polisi. Amien Rais pun menghentikan “people power” diganti dengan gerakan “kedaulatan rakyat”. (Gs)

 

sumber : poskotanews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: