Apakah Kanker Mulut Bisa Menular Lewat Terompet ?

Pedagang menyelesaikan pembuatan terompet buatannya untuk dijual di kawasan Glodok , Jakarta Barat, Rabu 27 Desember 2017. (SP/Joanito De Saojoao/SP/Joanito De Saojoao)

Sketsanews.com – Tahun baru identik dengan meniup terompet. Namun, kini kebiasaan ini berubah.

Ada sebagian masyarakat yang mulai ragu meniup terompet karena ada isu yang beredar mengenai berbagai penyakit berbahaya termasuk kanker mulut, kanker lidah, kanker darah, hepatitis, Human Immunodeficiency Virus (HIV), Tuberculosis (TBC) dan penyakit-penyakit menular lain yang ditularkan melalui terompet.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof Ari F Syam menegaskan bahwa kabar tersebut tidak benar.

“Jika membaca informasi tersebut orang awampun sebenarnya sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa berita tersebut tidak benar,” ujar Prof Ari kepada Wartakotalive.com (Tribunnews.com Network), Minggu (30/12/2018).

Ia mengatakan, kanker termasuk kanker mulut, lidah atau kanker darah tidak dapat menular dari satu orang ke orang lain.

“Betul memang penyebab dari kanker mulut disebabkan oleh virus yang kita namakan virus Human Papilloma Virus (HPV). Virus ini memang bisa menyebabkan kanker lidah, kanker amandel atau kanker tenggorongan Tetapi penularan virus tersebut melalui mulut terutama melalui aktivitas seksual misalnya oral seks. Sedang penggunaan alat makan atau sedotan secara bersamaan tidak akan menularkan penyebaran virus tersebut,” ujarnya.

Lalu bagaimana bila kita meniup terompet bekas orang yang terinfeksi virus tersebut?

Seperti diketahui, terompet sebelum kita beli pasti telah dicoba setidaknya oleh pembuat terompet atau calon pembeli yang lain.

“Orang yang meniup terompet habis ditiup oleh orang yang terinfeksi virus ini tidak dapat tertular infeksi tersebut. Begitu pula penularan virus HIV penularan juga tidak mudah harus melalui hubungan seksual, jarum suntik, atau komponen darah yang ditansfusi dari satu pasien ke pasien lain,” kata Prof Ari.

Lalu bagaimana seputar info penularan kuman TBC melalui terompet?

Prof Ari menjelaskan, kuman TBC ditularkan dari satu orang kepada orang lain bukan melalui kontak yang singkat.

Tidak seperti infeksi virus influenza bahwa seseorang dapat tertular dengan orang yang sedang mengalami flu dengan sekali kontak. Untuk penularan TBC butuh kontak yang lama dan terus menerus.

Selain itu kuman ini ditularkan melalui udara, bukan langsung dari air liur seperti misal setelah meniup terompet.

Biasanya orang tertular penyakit TBC jika tinggal serumah dengan orang yang sedang mengalami TBC paru aktif atau teman sekantor di mana kita selalu kontak dengan teman sekantor tersebut dalam ruangan tertutup.

Pembantu rumah tangga yang menderita TBC paru aktif dapat menularkan infeksi TBC kepada anak-anak yang diurusnya.

Ujung terompet memang bisa jadi sumber penularan penyakit melalui droplet atau air liur yang tersisa pada ujung terompet tetapi tentu bukan penyakit TBC atau penyakit lain yang disebutkan dari informasi yang beredar tersebut.

Kalaupun bisa menularkan penyakit melalui air liur yang tersisa, diantaranya batuk pilek. Bukan penyakit yang berat seperti kanker yang disebutkan diatas.

Disisi lain ternyata ada klaim bahwa untuk mengetes apakah terompet ini suaranya nyaring atau tidak pembuat terompet tidak perlu meniup langsung terompet tersebut tapi dengan bantuan alat yang bisa menghasilkan hembusan sehingga dapat menghasilkan suara.

Bila ragu dan tidak ingin tertular penyakit yang ditularkan melalui ujung terompet tersebut, Prof Ari menyarankan agar membersihkan dulu ujung terompet yang akan kita gunakan.

Kalau perlu gunakan penyaring khusus ketika ujung terompet tersebut akan kita gunakan kalau kita ragu apakah telah beberapa mulut mencoba terompet tersebut. (Lis/TribunNews)

(in)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: