Aula SMKN 1 Miri Ambruk, Bupati Sragen Perintahkan Disdikbud Sisir Semua Sekolah

Sketsanews.comSRAGEN — Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati, memerintahkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sragen untuk menyisir bangunan sekolah-sekolah di Sragen.

Hal itu untuk memastikan semua bangunan sekolah mulai dari SD, MI, SMP, MTs, SMA, MA hingga SMK di Bumi Sukowati dalam keadaan baik. Bupati tidak ingin peristiwa ambruknya aula SMKN 1 Miri yang menyebabkan 22 siswa terluka terulang kembali di masa mendatang.

Sukarelawan memberishkan puing-puing aula terbuka SMKN 1 Miri Sragen yang roboh, Kamis (21/11/2019). (Solopos-Moh. KHodiq Duhri.)

“Hasil penyisiran bagaimana kami belum mendapatkan laporan dari Disdikbud. Tapi, setelah ini akan kami panggil untuk menyampaikan laporan. Memang ada beberapa bangunan sekolah yang berusia lebih dari 10 tahun,” jelas dia kepada wartawan, Kamis (21/11/2019).

Dia mengaku dana alokasi khusus (DAK) tidak bisa digunakan untuk memperbaiki keseluruhan bangunan sekolah sehingga harus ada skala prioritas.

Kepala Disdikbud Jawa Tengah, Jumeri, juga memberikan imbauan serupa. Dia meminta semua sekolah memeriksa konstruksi bangunan ruang belajar siswa.

“Pastikan semuanya aman. Kita tidak menutup mata, ada bangunan yang mungkin kurang layak karena saat dibangun dananya kurang,” ucap Jumeri.

Lebih lanjut, Jumeri mengaku sudah mendapat perintah dari Gubernur Ganjar Pranowo untuk memastikan semua siswa korban aula ambruk di SMKN 1 Miri mendapat pelayanan kesehatan yang baik selama berada di rumah sakit.

Menurutnya, Gubernur juga memastikan bila seluruh biaya perawatan siswa selama di rumah sakit akan ditanggung pemerintah. Terkait ambruknya aula SMKN 1 Miri, Jumeri mengaku masih mengevaluasi dengan mendatangkan ahli bangunan.

Dia belum bisa memastikan apakah penyebab ambruknya aula itu murni karena bencana alam atau kesalahan dalam konstruksi bangunan.

Hingga Kamis (21/11/2019), masih ada 13 siswa SMKN 1 Miri yang menjalani perawatan intensif di sejumlah rumah sakit di Sragen dan Kota Solo.

Kepala SMKN 1 Miri, Sarno, mengatakan dari 13 siswa itu, tiga siswa dirawat di RS Karima Utama Kartasura, dua siswa di RS PKU Muhammadiyah Solo, satu siswa dirawat RSUD dr. Moerwardi Solo dan tujuh siswa dirawat di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen.

Dua siswa dirujuk ke RS PKU Muhammadiyah Solo karena mengalami rasa nyeri pada kepala. Cedera para siswa itu bermacam-macam. Ada yang patah tulang kaki, patah tulang tangan, patah tulang bahu, pusing di kepala.

“Anak-anak sudah bisa diajak komunikasi, namun mereka masih merasakan nyeri dan pusing. Ada yang merasakan nyeri lama, gak hilang-hilang. Setelah di-scan, hasilnya normal,” papar Sarno saat ditemui wartawan di SMKN 1 Miri.

Sebagaimana diinformasikan, bangunan aula terbuka di SMKN 1 Miri, Sragen, ambruk saat hujan deras dan angin, Rabu siang. Saat kejadian, sejumlah siswa tengah berteduh di aula itu. Sebanyak 22 siswa dan satu orang guru terluka akibat tertimpa atap bangunan.

Solopos

2019-11-21 22:44:28

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: