Axact, Pabrik Ijazah Bodong Bertaraf Internasional

Ilustrasi ijazah. Getty Images/iStockphoto

Sketsanews.com, Jakarta – Terkuaknya sindikat jual beli ijazah bodong di lingkungan Kemenristekdikti yang melibatkan politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) bukanlah fenomena yang hanya terjadi di Indonesia. Ada ratusan kampus internasional fiktif yang menukar gelar akademik, lengkap dengan ijazahnya, dengan sejumlah uang.

Adalah tiga jurnalis BBC, Helen Clifton, Matthew Chapman, dan Simon Cox, yang mengungkap hal ini pada 21 Januari 2018. Menurut laporan yang mereka buat, ada ribuan warga Inggris yang membeli ijazah bodong dari kampus-kampus fiktif yang digerakkan dari Pakistan.

Sebuah perusahaan perangkat lunak di Pakistan bernama Axact menjadi markas di balik beroperasinya ratusan universitas bodong yang tersebar via online. Sejak 2013 sampai 2014, ada lebih dari 3.000 ijazah bodong yang dikeluarkan Axact kepada warga Inggris dengan berbagai macam jenjang gelar, dari master, doktor hingga PhD.

Pada 2015 saja, Axact sudah menjual lebih dari 215.000 ijazah palsu secara global, dikeluarkan lewat 350 sekolah menengah dan universitas fiktif. Dengan angka penjualan itu, Axact mampu mengantongi 51 juta USD atau sekitar Rp740 miliar.

Para pembeli ijazah bodong di Inggris berasal dari beragam profesi, mulai dari konsultan, perawat medis, psikolog, dokter mata, kontraktor dan lainnya. Seseorang mengaku kepada BBC bahwa ia merogoh kocek sebesar 500.000 euro atau Rp8,2 miliar untuk selembar ijazah.

Seorang konsultan di sebuah rumah sakit di London mengaku membeli gelar akademik pengobatan internal pada 2007 dari kampus bodong bernama Belford University. Kampus bodong ini adalah rekaan Axact. Seorang ahli anestesi membeli gelar manajemen rumah sakit meski ia mengaku belum memakai ijazah palsunya itu untuk kepentingan pekerjaan di Inggris.

Ada pula seorang konsultan di lingkungan kedokteran anak yang membeli gelar master dalam teknologi perawatan kesehatan dan mengaku terkejut saat BBCmemberitahukan bahwa ijazah yang ia dapat adalah palsu.

Fenomena ini tentu saja ironis dan bikin geger publik Inggris. Kepala eksekutif Higher Education Degree Datacheck (HEDD) di Inggris, Jayne Rowley, menyebut hanya 20 persen perusahaan di Inggris yang menjalankan pemeriksaan ketat atas ijazah para pelamar kerja mereka.

Di Inggris, membeli ijazah palsu memang tidak ilegal. Tetapi ketika digunakan, para pemilik ijazah bodong dapat diringkus kepolisian atas dakwaan penipuan dan dapat dihukum selama 10 tahun penjara.

Foto : istimewa

Membongkar Axact

Laporan BBC hanyalah lanjutan dari laporan panjang The New York Times pada 2015 yang pertama kali menguak aktifitas aneh perusahaan IT yang bermarkas di Karachi, Pakistan itu. Berjudul “Fake Diplomas, Real Cash: Pakistani Company Axact Reaps Millions”, jurnalis Declan Walsh menguak betapa Axact secara masif dan sistematis membangun kerajaan pendidikan fiktif yang menjual gelar dan ijazah palsu secara online berskala global.

Axact menyebut diri sebagai perusahaan pengekspor perangkat lunak terbesar di Pakistan dengan mempekerjakan lebih dari 2.000 orang. Namun, berdasarkan penelusuran terhadap mantan pekerja Axact, catatan perusahaan, dan analisis terperinci situsweb mereka, bisnis utama Axact tak lain ialah jualan gelar akademik palsu.

Dalam catatan The New York Times, ada lebih dari 370 situs sekolah menengah, kampus hingga badan akreditasi online fiktif yang menginduk ke Axact. Ciri khas nama-nama sekolah atau kampusnya bergaya Amerika, Inggris, dan Arab untuk lebih terdengar akrab dan berkelas.

Contoh nama-nama institusinya adalah Wilford University, Rochville University, Paramount California University, Johnstown University, Online University Programs Pro, Barkley University, West Coast High School, Ford Worth High School, Al Khaleej University, Al Arab University, dan masih banyak lagi.

Dalam menjajakan jasa pendidikan tinggi bodong, Axact bekerja semeyakinkan mungkin. Mereka menampilkan gambar-gambar penampakan bangunan gedung kampus, membikin artikel berisi puja-puji kehebatan kampus, juga menampilkan video testimoni, rektor, dosen, mahasiswa yang hanyalah orang bayaran untuk kebutuhan iklan.

Berbagai situs kampus abal-abal itu terhubung dengan badan akreditasi fiktif bikinan Axact sendiri. Mereka menulis laporan fiktif tentang Axact di iReport sebuah situs jurnalisme warga yang dimiliki CNN. Mereka juga membikin akun fiktif di LinkedIn yang isinya alumnus kampus yang bekerja di perusahaan bonafid dan memuji kampus milik Axact.

Pekerja di Axact yang fasih berbahasa Inggris dan Arab dengan sigap menerima telepon para calon pembeli dan menawari mereka berbagai ijazah, mulai dari sekolah menengah atas yang dibanderol sekitar 350 USD hingga gelar doktor seharga 4.000 USD ke atas.

Allan Ezell mantan anggota FBI yang menulis buku tentang kiprah kampus bodong, sindikat Axact tidak cuma menjajakan ijazah palsu, melainkan juga penjualan berbagai sertifikat lainnya untuk memeras.

Modusnya, pembeli gelar atau ijazah palsu mendapat telepon yang seolah berasal dari kedutaan atau pihak penegak hukum setempat. Mereka kemudian menekan para mahasiswa agar mengurus beberapa dokumen tambahan untuk menunjang gelar palsu yang mereka miliki. Jika tidak, mereka yang mengatasnamakan penegak hukum akan mengancam menangkap mereka atas dasar kepemilikan ijazah bodong.

“Ini permainan baru,” kata Ezell seperti dilansir BBC.

Saat The New York Times melempar pertanyaan kepada Axact untuk mengkonfirmasi sejumlah temuan, lewat pengacara mereka, Axact menolak sambil balik menuduh bahwa jurnalis datang dengan data setengah matang disertai teori konspirasi.

Setelah laporan panjang tersebut dipublikasikan, Axact menyebut laporan The New York Times sebagai fitnah. Beberapa video testimoni dan konten situs kampus bodong yang dikutip dalam laporan tersebut juga kedapatan dihapus tanpa penjelasan.

Di Pakistan sendiri, sedikit orang yang tahu bahwa Axact adalah raksasa yang memainkan ratusan kampus fiktif penghasil ijazah dan gelar bodong. Publik Pakistan umumnya hanya tahu sosok pendiri dan presiden Axact, Shoaib Ahmed Shaikh, sebagi pengusaha sukses.

Shaikh pernah mengklaim bahwa dirinya menyumbang 65 persen dari pendapatan perusahaan untuk kegiatan amal. Ia juga menjanjikan akan membikin program pendidikan untuk 10 juta anak-anak Pakistan pada 2019. Shaikh juga sedang membangun perusahaan media dan merekrut sejumlah jurnalis terkemuka saat laporan tersebut dibuat.

Setelah laporan The New York Times rilis, pemerintah Pakistan melakukan serangkaian investigasi. Kantor Axact disegel, CEO dan para pejabatnya ditangkap dan menjalani serangkauan penyelidikan.

Diwartakan Dawn, setelah sempat lolos dari jerat hukum di tingkat pengadilan daerah pada 2016, Federal Investigation Agency (FIA) Pakistan terus mengejar kasus Axact dengan cara melakukan banding ke Pengadilan Tinggi Sindh (SHC). Upaya FIA berhasil. Pada Februari 2018, mereka kembali mengantongi surat perintah penangkapan Shoaib Ahmed Shaikh selaku pendiri dan presiden Axact IT Company.

Pada 5 Juli 2018, Pengadilan Islamabad menjatuhkan pasal berlapis dengan akumulasi hukuman 20 tahun penjara kepada Shaikh dan 22 orang lainnya. Masing-masing dari mereka juga dijatuhi denda total 1,3 juta rupee Pakistan oleh Pengadilan Islamabad. (As)
sumber : tirto.id

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: