Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Headlines, Internasional, News Beredar Surat Intelijen Malaysia Minta Bantuan CIA Menangkan Najib Razak

Beredar Surat Intelijen Malaysia Minta Bantuan CIA Menangkan Najib Razak

Bekas Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak, tiba di kantor Komisi Pemberantasan Korupsi Malaysia (MACC) untuk memenuhi panggilan dalam pemeriksaan kasus skandal 1MDB, Selasa pagi, 22 Mei 2018. NSTP/MOHD FADLI HAMZAH

Sketsanews.com, Kuala lumpur – Sebuah surat dilaporkan ditulis dari Kantor Perdana Menteri Malaysia kepada Badan Intelijensi Pusat AS (CIA).

Dilansir Kompas (19/7/2018), surat itu berisi bantuan kepada CIA agar mendukung mantan PM Najib Razak dalam Pemilihan Umum Malaysia.

Surat setebal tiga halaman itu ditulis dari Divisi Riset Kantor Perdana Menteri yang merupakan unit intelijen.

Dalam surat tersebut, loyalis Najib menekankan pentingnya Direktur CIA Gina Haspel untuk mendukung politisi berusia 64 tahun itu.

Sebab, Najib diklaim merupakan sekutu utama AS di kawasan Asia Tenggara, dan terus mendukung keberadaan AS di sana.

Tanpa Najib, AS dikatakan bakal kehilangan partner di Asia Tenggara. Sebab, Filipina disebut mulai merenggangkan hubungan dengan Washington.

“Singapura dan Brunei Darussalam terlalu kecil memberi pengaruh, Indonesia sibuk dengan politik internalnya, dan negara Indo-China terlalu condong ke Beijing,” bunyi surat itu.

Selain itu, geliat koalisi Pakatan Harapan dalam menantang koalisi Barisan Nasional di pemilu juga mengkhawatirkan.

Surat itu mengatakan, Pakatan Harapan mengusung Mahathir Mohamad yang notabene adalah mentor politik Najib sebagai jagoannya.

Tidak seperti Najib, surat tersebut menjelaskan bahwa Mahathir dikenal sebagai politisi anti-Barat dan anti-Semit.

“Selain itu, di masa lalu Mahathir melanggar HAM dan konstitusi yang berlalu sehingga memerintah lebih dari dua dekade,” ulas surat tersebut.

Surat itu kemudian meminta agar Haspel melaporkannya kepada Menteri Luar Negeri Mike Pompeo perihal Pemilu Malaysia.

“Indikasi pemerintah AS membantu Najib bisa memperkuat hubungan kerja sama yang dibangun dua negara,” lanjut isi surat itu.

Malaysia Kini memberitakan, dalam surat tersebut terdapat nama Direktur Jenderal Datuk Hasanah Ab Hamid.

Menteri Luar Negeri Saifuddin Abdullah mengaku tidak tahu dengan adanya surat itu. Namun, dia memastikan intelijen bertanggung jawab terhadap keamanan negara.

“Bukannya berusaha memengaruhi pemilu. Karena pemilu adalah kehendak rakyat, tentang demokrasi,” tegas Saifuddin.

Surat tersebut ditulis pada 4 Mei 2018, atau lima hari sebelum pemilu yang digelar pada 9 Mei lalu.

Sementara Free Malaysia Todaymemberitakan, Najib berkilah dia tidak tahu bahwa ada surat yang dikirim dari kantornya kepada CIA.

(Wis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: