Berikut Ini adalah Kebijakan PM Selandia Baru setelah Aksi Penembakan Christchurch

Perdana Menteri Jacinda Ardern memeluk seorang jemaah masjid di Masjid Kilbirnie (17/3) di Wellington, Selandia Baru.

Perdana Menteri Jacinda Ardern memeluk seorang jemaah masjid di Masjid Kilbirnie (17/3) di Wellington, Selandia Baru. Foto: Getty Images

Sketsanews.com, Jakarta – Beberapa keputusan dan tindakan yang diambil oleh Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern menyusul terjadinya penembakan di dua masjid di Christchurch mendapat sambutan positif dari media dan warganet.

Yang terbaru adalah keputusan Selandia Baru untuk melarang semua jenis senjata semi-otomatis seperti yang digunakan dalam penembakan masjid di Christchurch.

Aturan senjata api di Selandia Baru tersebut menjadi sorotan sejak seorang pria bersenjata membunuh 50 orang di dua masjid, Jumat lalu (15/03). Menurut PM Ardern, dia berharap undang-undang baru itu mulai berlaku pada 11 April.

Selain pelarangan senjata api tersebut, ada beberapa langkah dan tindakan PM Ardern lain yang mendapat sorotan dari media dan warganet.

1. Tidak menyebut nama pelaku penembakan

Jacinda Ardern bersumpah tidak akan pernah menyebut nama pria bersenjata yang melakukan serangan di masjid di Kota Christchurch.

“Dia mencari banyak hal dari tindakan terornya, termasuk agar menjadi terkenal – itulah sebabnya Anda tidak akan pernah mendengar saya menyebutkan namanya,” kata Ardern dalam pidato yang emosional di gedung parlemen Selandia Baru, pada Selasa (19/3).

Dilansir dari BBCIndonesia di hadapan anggota parlemen Selandia Baru, Ardern berkata, “Saya mohon, ucapkan nama-nama mereka yang meninggal ketimbang nama pelakunya.

“Dia adalah teroris. Dia adalah pelaku kriminal. Dia adalah ekstremis. Tetapi ketika menyangkut dirinya, ketika harus menyebutnya, saya tak akan menyebut namanya.”

2. “Assalamualaikum” & mengenakan jilbab

PM Jacinta Ardern bertemu dengan perwakilan komunitas muslim di Christchurch, Selandia Baru, pada 16 Maret 2019. Foto: Getty Images

Dalam pertemuan khusus dengan parlemen pada Selasa (19/03) itu, Ardern juga memulai pidatonya dengan “Assalamualaikum”.

Dia kemudian meminta platform media sosial untuk berbuat lebih banyak dalam memerangi teror, setelah pelaku serangan di Christchurch menyiarkan langsung serangannya di Facebook.

“Kami tidak bisa hanya duduk dan menerima bahwa platform ini ada dan bahwa apa yang dikatakan mereka bukanlah tanggung jawab yang menerbitkannya,” katanya.

Facebook mengatakan pada Selasa (19/03) bahwa video itu ditonton kurang dari 200 kali selama siaran langsung, dan totalnya sekitar 4.000 kali sebelum akhirnya dihapus.

Dalam catatannya, Hywel Griffith dari BBC News di Christchurch, menulis , “Mengenakan jilbab sebagai tanda penghormatan barangkali terlihat sebagai isyarat sederhana, tetapi dampaknya sungguh dirasakan kerabat dan rekan-rekan korban yang masih dilanda kesedihan.”

“Reaksi Jacinda Ardern melahirkan decak kagum, mungkin karena dia jujur ​​dan tulus. Bersikap welas asih kasih tetapi tenang, di awal-awal kejadian, dia berusaha menempatkan dirinya di sisi para korban dan keluarga mereka,” menurutnya lagi.

Demikian juga frasa yang sengaja diulangi oleh Ardern semenjak serangan itu. “Saya telah mendengar kata-katanya – “kami adalah satu, mereka adalah kami” – diucapkan kembali kepada saya oleh keluarga korban di Christchurch, dan melihatnya ditulis pada kartu yang tak terhitung jumlahnya dan poster di samping semua karangan bunga,” kata Hywell.

3. Menyiarkan azan

PM Jacinda Ardern sudah mengumumkan bahwa azan untuk salat Jumat di Selandia Baru akan ditayangkan secara nasional di televisi dan radio, dan akan ada dua menit hening untuk mengenang korban penembakan di dua masjid.

Menurut Ardern, azan yang disiarkan pada jam 1.30 waktu setempat adalah bentuk solidaritas. “Ada keinginan untuk menunjukkan dukungan bagi komunitas Muslim saat mereka kembali ke masjid pada Jumat,” katanya seperti dikutip SBS Australia .

4. Jawaban atas Donald Trump

Perdana Menteri Jacinda Ardern saat mengunjungi Masjid Kilbirnie (17/3) di Wellington, Selandia Baru. Foto: Getty Images

Salah satu tindakan dan pernyataan Ardern yang mengundang pujian adalah jawabannya terhadap Presiden AS Donald Trump.

Saat ditanya oleh Trump, bentuk dukungan apa yang bisa diberikan oleh Amerika Serikat, Ardern menjawab, “Simpati dan rasa kasih sayang bagi semua komunitas Muslim,” dia menjawab.

Terhadap pernyataan senator Australia, Fraser Anning, yang menyalahkan penyerangan itu pada kebijakan imigrasi, Ardern mengatakan bahwa si senator, “memalukan”.

Anning kemudian menjadi terkenal karena dia dilempar telur oleh Egg Boy atau pemuda Australia bernama Will Connolly.

Ashitha Nagesh dari BBC News menulis bahwa Ardern adalah “Seorang pemimpin yang menampilkan rasa kasih sayangnya secara penuh”.

Pujian akan berbagai langkah Ardern muncul di berbagai media, seperti The Guardian, The Washington Post, ABC Australia, serta Marie Claire Australia.

Foto Ardern saat menghibur korban sehari setelah serangan juga dibandingkan dengan langkah beberapa pemimpin dunia lain saat terjadi serangan serupa.

Wartawan Al Jazeera Sana Saeed menulis bahwa dia “tak ingat apakah Trudeau menunjukkan kemanusiaan sedalam ini untuk korban penembakan massal di masjid di Quebec” pada 2017, dan menambahkan bahwa mantan Presiden AS Obama pun tidak menungjungi korban penembakan Oak Creek Gurdwara di Wisconsin pada 2012, meski Ibu Negara Michelle Obama datang.(Hw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: