BNN: 90 Persen Masyarakat Aceh tak Bisa Pisah dari Ganja

Ladang ganja di hutan Mandailing Natal. ©2017 Merdeka.com/yan muhardiansyah

Ladang ganja di hutan Mandailing Natal. ©2017 Merdeka.com/yan muhardiansyah

Sketsanews.com, Bogor — Kasubdit I Masyarakat Pedesaan BNN Hendrajid Putut Wigdado mengatakan, masyarakat Aceh tidak bisa dipisahkan dari Ganja. Sebab, Ganja menjadi tanaman yang bermanfaat untuk diberdayakan.

“92 Persen ganja di Indonesia itu kan dari Aceh, kemudian 90 persen masyarakat Aceh itu kan tidak bisa dipisahkan oleh Ganja, karena akar budayanya dia itu seperti akar Ganja nya juga, dia makan berobat itu dari situ,” ujar Hedrajid di Santa Monica Resort Bogor, Jawa Barat, Sabtu (14/10).

Oleh sebab itu, BNN ingin menggalakkan program Grand Design Alternative Development (GDAD). Yaitu program yang membuat petani Aceh tak menanam ganja lagi. Melainkan menanam bahan-bahan yang produktif dan juga legal. Sebab, banyak petani di desa-desa di Aceh yang menanam Ganja karena kemiskinan dan pengangguran.

“Artinya kalau kita mau lakukan terobosan, ya terobosannnya ganti dong aceh dengan tanaman lain, yaitu AD (Alternative Development),” tuturnya.

Selain itu, senada dengan Hedrajid, Kepala Bagian Humas BNN menjelaskan bahwa pihaknya ingin merubah kehidupan petani Aceh supaya sejahtera dan bisa membuat bahan baku dengan cara menanam tanaman yang produktif juga legal.

“kita ingin merubah sedemikian rupa, sehingga masyarakat petani aceh bisa menjadi ditansformasikan baik dari mindset, sikap, karakter perlilaku, sehingga menjadi petani tanaman produktif. Juga bisa mengolah pertaniannya sehingga menjadi komoditas bahan baku,” kata Sulistyandri pada forum silaturahmi Humas BNN dengan Media Massa, di Hotel Santa Monica Resort Bogor, Jawa Barat, Jumat (13/10), dikutip dari Merdeka.

(Ad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: