BNN Grebek Pabrik Narkoba di Tasikmalaya dan Gudangnya di Jawa Tengah, Modus Pabrik Produksi Sumpit

Pabrik narkoba jenis PCC di Tasikmalaya serta dua gudangnya di Jawa Tengah digrebek BNN. Modusnya adalah disamarkan menjadi pabrik sumpit.

Sketsanews.com – Pabrik narkoba jenis Paracetamol Caffeine Carisoprodol (PCC) di Tasikmalaya dan dua gudang penyimpanan di Jawa Tengah digrebek BNN.

Penggrebekan tersebut dilaksanakan pada Selasa (26/11/2019).

Dalam penggrebekan tersebut BNN bekerja sama dengan Direktorat 4 Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri.

 

BNN Grebek Pabrik Narkoba di Tasikmalaya dan Gudangnya di Jawa Tengah, Modus Pabrik Produksi Sumpit 2019Wartakotalive.com/Budi Sam Law Malau | Pabrik narkoba jenis PCC di Tasikmalaya serta dua gudangnya di Jawa Tengah digrebek BNN

BNN dan Polri telah menyita barang bukti narkoba berupa 1,5 juta butir pil PCC siap edar.

Bahan baku pembuatan PCC di pabrik produksi narkoba Tasikmalaya 2019Bahan baku pembuatan PCC di pabrik produksi narkoba Tasikmalaya (Wartakotalive.com/Budi Sam Law Malau)

Dilansir dari Wartakota.com, lokasi pabrik narkoba jenis PCC berada di di Kawalu Tasikmalaya.

Barang bukti yang disita selain pil PCC adalah peralatan laboratorium, mesin cetak pil, bahan-bahan baku siap cetak dan bahan kimia cair dan padat.

Selain pabrik produksi, BNN dan Polri juga berhasil menggrebek dua gudang penyimpanan yang berlokasi di Jawa Tengah.

Satu pabrik penyimpanan berlokasi di Gubug Mang Engking Putra Gombong, Jalan Yos Sudarso KM 07, Desa Kretek Gombong, Kebumen, Banyumas, Jawa Tengah.

Sedangkan gudang penyimpanan narkoba lainnya berada di Jalan Patimura 1, Desa Buntu, RT 01 RW 04, Kroya, Cilacap, Jawa Tengah.

Pabrik disamarkan sebagai produsen sumpit

Lokasi pabrik dan gudang pil PCC yang digrebek BNN dan Polri. 2019Lokasi pabrik dan gudang pil PCC yang digrebek BNN dan Polri. (Wartakotalive.com/Budi Sam Law Malau)

Dikatakan oleh Deputi Pemberantasan BNN, Irjen Arman Depari, pabrik narkoba tersebut disamarkan menjadi pabrik produksi sumpit atau chopstick.

Namun sebenarnya dalam ruangan tersebunyi terdapat unit produksi PCC.

“Namun di dalam ruangan yang tersembunyi diproduksi obat-obatan yang mengandung narkotika jenis PCC,” jelas Arman.

Arman juga menjelaskan bahwa pabrik di Tasikmalaya hanya fokus memproduksi narkoba jenis PCC.

Sedangkan penyimpanan dilakukan di dua gudang penyimpanan di Banyumas dan Cilacap yang juga telah diperiksa.

Pil PCC yang telah diproduksi tersebut kemudian direncakanan akan diedarkan ke daerah Kalimantan, Jawa, dan Bali,

“Dari tempat produksi di wilayah Tasikmalaya, hasilnya dikirim dan disimpan dalam gudang yang berlokasi di Banyumas dan Cilacap, Jawa Tengah,” jelas Arman.

“Rencana pil (PCC) tersebut akan diedarkan ke daerah Kalimantan, Jateng, Jatim, Bali dan Jabar,” lanjutnya.

Dari sejumlah tempat itu kata Arman pihaknya membekuk beberapa orang yang diduga terlibat dalam kasus pembuatan dan peredaran pil PCC ini.

“Semuanya masih kita periksa untuk mendalami dan mengembangkan kasus ini,” kata Arman.

Tentang Pil PCC

Lokasi pabrik dan gudang pil PCC yang digrebek BNN dan Polri. 2019Lokasi pabrik dan gudang pil PCC yang digrebek BNN dan Polri. (Wartakotalive.com/Budi Sam Law Malau)

Sebelumnya, Deputi Pemberantasan BNN, Irjen Arman Depari pernah menjelaskan mengenai PCC dan bahayanya jika dikonsumsi.

Penjelasan tersebut dipaparkan Arman ketika menangani kasus 53 siswa siswa SD dan SMP mengalami kejang-kejang akibat mengonsumsi pil bertuliskan PCC.

Kejadian tersebut terjadi di daerah Kendari, Sulawesi Tenggara, pada Rabu (13/9/2017) lalu.

Akibatnya, 1 dari 53 siswa yang mengonsumsi pil PCC dikabarkan meninggal dunia.

Dijelaskan oleh Arman, PCC adalah obat keras yang biasa dikonsumsi sebagai obat penghilang rasa sakit.

Selain itu PCC juga digunakan sebagai obat penyakit jantung.

PCC adalah jenis obat-obatan yang tidak bebas diperjualbelikan.

Bahkan untuk mendapatkan PCC, pasien yang sangat membutuhkan sekalipun, harus mendapatkan izin dan menggunakan resep dari dokter.

“Nah, kalau dilihat dari kegunaannya, bisa kita simpulkan bahwa ini adalah obat keras. Obat yang tidak boleh bebas beredar,” cetus Arman.

PCC kerap dikaitkan dengan obatb jenis narkoba lain yaitu Flakka.

Namun BNN membantah dan menyatakan pil PCC berbeda dengan Flakka.

“Flakka sendiri itu sangat berbeda dengan kandungan zat atau obat-obat yang dikonsumsi, yang terkandung di dalam obat atau pil PCC yang digunakan oleh anak sekolah di Kendari,” papar Arman.

Pil PCC adalah obat keras yang apabila dikonsumsi secara berlebihan, dapat membuat orang kejang-kejang, mual-mual, dan seluruh badan terasa sakit.

(TRIBUNNEWSWIKI/Magi, WARTAKOTA/Budi Sam Law Malau/Dennis Destryawan)

Sumber :tribunnewswiki.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: