Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Hidup Sehat, News Cek Obesitas dengan Cara Sederhana Ini

Cek Obesitas dengan Cara Sederhana Ini

Ilustrasi obesitas. Shutterstock

Sketsanews.com, Jakarta – Secara umum, obesitas merupakan kondisi tubuh dengan penumpukan lemak yang berlebih dan berdampak bukan hanya menghambat aktivitas keseharian mereka yang mengalaminya. Menurut Imam Subekti, Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Rumah Sakit Pondok Indah, obesitas juga dapat meningkatkan risiko seseorang menderita beragam penyakit, termasuk diabetes. “Kondisi itu bisa terjadi karena lemak yang menumpuk di dalam tubuh menurunkan sensivitas tubuh terhadap insulin atau resistensi insulin,” kata Imam.

Pada awalnya, kata Imama, pankreas bereaksi dengan memproduksi lebih banyak insulin. Namun jika terus berlanjut, pankreas akan mencapai titik lelah dan terjadilah kondisi yang disebut diabetes.

Karena itu, tingkat risiko diabetes pada orang yang mengalami obesitas akan lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang memiliki berat badan normal. Mengingat risiko tersebut, menurutnya akan lebih baik seseorang memeriksakan dirinya ke fasilitas-fasilitas medis bila merasa khawatir mempunyai berat badan berlebih.

Cara pengukuran kadar lemak yang akurat adalah dengan peralatan Computerized Tomography Scanner (CT-Scan) atau dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI). Namun, lanjut dia, karena pemeriksaan dengan alat-alat tersebut tidak murah dan hanya tersedia di tempat-tempat tertentu, maka ada cara lain yang bisa digunakan. Baca: Hari Kartini 2018, Ini 4 Kebiasaan Kartini yang Patut Ditiru

Yakni lewat pengukuran indeks massa tubuh (IMT), dengan pola penghitungan, berat badan (dalam kilogram) dibagi kuadrat tinggi badan (dalam meter). IMT disebut normal jika hasilnya berada di rentang 18-22,9 dan disebut berlebih pada rentang 23-25, sedangkan obesitas I pada rentang 25-30 dan obesitas II jika berada pada lebih dari 30, dalam satuan kg/m2.

Seperti yang dikutip dari Tempo, adapun faktor-faktor yang dapat menyebabkan obesitas antara lain asupan berlebih, penggunaan energi yang kurang (kurang berolahraga), genetik dan penyakit dengan faktor pertama dan kedua yang paling banyak terjadi.
(Eni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: