Sketsa News
Home Citizen-Jurnalism, Headlines Indonesia Ternyata Berlandaskan Sekulerisme

Indonesia Ternyata Berlandaskan Sekulerisme

 

Sketsanews.com, Jakarta – Indonesia adalah sebuah bangsa yang merdeka dimana telah memasuki usianya sekitar 73 tahun. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa bangsa ini telah melalui empat masa yaitu, masa orde lama, masa orde baru, masa reformasi dan masa pemerintahan rezim Jokowi.

Sebuah wilayah disebut sebagai negara apabila memenuhi beberapa persyaratan. Menurut Ibnul Khaldun dalam bukunya (Khaldun, 1986 hal 397), menyatakan bahwa sebuah negara diperlukan bagi manusia setidaknya dilatarbelakangi oleh dua faktor, yaitu: Pertama, menjamin rakyat untuk hidup berdampingan, tenteram, tenang serta bersama-sama berusaha saling melengkapi dalam rangka menciptakan berbagai bentuk kebudayaan bagi mempertahankan kehidupan. Kedua, mempertahankan diri dan komunitasnya dari serangan luar.

Jadi terminology sebuah negara adalah suatu organisasi yang tertinggi diantaranya setiap kelompok manusia yang memiliki cita-cita untuk bersatu dalam hidup pada daerah tertentu dan memiliki pemerintah yang berdaulat.

Berdasarkan Konvensi Montevideo tahun 1933 (Fakultas Hukum Universitas Andalas: 2010), ada 5 unsur yang harus dipenuhi untuk terbentuknya sebuah negara, yaitu: rakyat, wilayah, kekuasaan tertinggi, kesanggupan untuk berhubungan dengan negara lain dan pengakuan dari negara lain.

Dari paparan diatas nyatalah bagi kita, bahwa negara harus memiliki akar yang langsung tertanam dalam masyarakat, oleh karenanya dasar negara pun sesuatu paham yang hidup, dijalankan sehari-hari, yang terang dan dapat dimengerti, pendek kata yang bisa menyusun hidup rakyat sehari-hari baik secara individu maupun kelompok.

Sekarang mari kita tengok bangsa Indonesia, bagaimana dengan dasar negara yang dipakai hari ini, sudahkah memenuhi persyaratan tersebut. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa dasar negara yang dipakai adalah Pancasila dengan system pemerintahan menggunakan system demokrasi Pancasila.

Namun apabila dikaji lebih dalam lagi bahwa mereka yang mengemukakan demokrasi sebagai argumentasi ternyata justru tidak sesuai lagi dengan prinsip-prinsip demokrasi itu sendiri. Diantara prinsip-prinsip demokrasi yang terkenal adalah  golongan yang berkuasa harus mendapat persetujuan dari golongan mayoritas dan golongan minoritas yang berlainan mendapat jaminan hidup di dalam masyarakat. Dan kedua prinsip itu harus berjalin-berkelindang maksudnya yang satu tidak dapat dipisahkan dari yang lainnya. Oleh karenanya apabila hanya satu yang berjalan maka ini akan berdampak jelek karena akan menimbulkan dictator, tirani dan oligark jadi bukan lagi demokrasi dan ini yang terjadi di Indonesia.

Dan yang paling aneh adalah ketika demokrasi itu dihadapkan dengan Islam sebagai suatu paham yang ada di dalam sebuah negara maka mereka yang menyimpang akan mengatakan, “Jangan menggunakan Islam sebagai dasar negara, sebab Islam itu adalah suatu paham yang hanya didukung oleh satu golongan saja sedangkan di Indonesia terdapat banyak golongan di luar Islam”.

Penolakan inilah merupakan bentuk pelanggaran dari prinsip-prinsip demokrasi yang mereka junjung tinggi. Lantas paham apa sebenarnya yang dianut oleh dasar negara bangsa ini. Sejarah manusia pada umumnya memberikan final analisisnya hanya ada dua alternative untuk meletakkan dasar negara dalam sikap asasnya yaitu paham sekulerisme atau La Diniyah dan yang kedua adalah paham agama atau Diniyah.

Dan Indonesia lebih memilih pada paham sekulerisme dibanding paham Diniyah. Sebagai buktinya, di lapangan ilmu pengetahuan menjadikan ilmu-ilmu itu terpisah dari nilai-nilai hidup dan peradaban. Kondisi hari ini, seperti yang baru-baru ini terjadi yaitu reuni akbar 212 disinyalir adanya unsur-unsur politik sebagaimana dinyatakan oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Pernyataan ini menunjukan kentalnya paham sekulerisme karena memisahkan unsur politik dan agama. Belum lagi orang yang ingin menegakan syariat sebagai pandangan hidupnya langsung dibabat habis dengan lebel RADIKAL DAN TERORIS.

“MASIHKAH KITA RAGU MENYATAKAN INDONESIA ADALAH NEGARA SEKULER”

(Jp)

%d blogger menyukai ini: