Sketsa News
Home Berita Terkini, Citizen-Jurnalism Investigasi Prostitusi Terbuka Dolly Mini di Singosari, Malang

Investigasi Prostitusi Terbuka Dolly Mini di Singosari, Malang

Sketsanews.com, Malang – Ada praktik prostitusi yang begitu terbuka di Desa Randuagung, Singosari. Disebut terbuka karena ”eksekusi”-nya benar-benar di lahan kosong yang terbuka. Lokasinya dekat dengan pemukiman warga. Seperti apa?

***

Wartawan Jawa Pos Radar Malang selama tiga kali melakukan investigasi keberadaan prostitusi di Singosari ini. Khalayak ramai menyebutnya sebagai Mini Dolly. Kenapa disebut Mini Dolly? Sebab, aktivitas di tempat ini layaknya praktik prostitusi seperti di Gang Dolly Surabaya yang kini sudah tutup.

Bahkan, di sini bisa disebut lebih parah dari Gang Dolly. Karena ternyata, pria hidung belang melakukan negosiasi plus ”eksekusi” dengan pekerja seks komersial (PSK) di lahan terbuka. Tidak ada ruang tertutup sama sekali. Hanya sedikit sekat tembok tanpa atap.

Memang, jika dilihat dari jalan utama Malang–Surabaya, tanah kosong ini tertutup karena terhalang tembok. Namun, ketika masuk dari sebelah utara, terlihat kalau tanah kosong ini begitu terbuka. Sebab, di sebelah utara yang biasa dijadikan pintu masuk ke tanah kosong itu tak ada temboknya.

Tanah kosong itu terlihat tidak ada tanamannya. Hanya ada rumput ilalang yang tingginya sekitar 2–3 meter. Luas tanah kosong ini sekitar dua kali lapangan sepak bola. Semakin ke timur lahan kosong semakin luas, berupa sawah yang menghampar. Wartawan koran ini tiga kali ke tempat tersebut, yakni Sabtu malam (4/3), Sabtu malam (11/3), dan Jumat sore (17/3).

Saat penelusuran pertama, malam sudah mulai larut ketika wartawan koran ini tiba di tempat itu sekitar pukul 21.30. Karena sudah malam, tinggal ada satu PSK yang mangkal. Di tempat ini, setiap hari rata-rata ada tujuh hingga dua belas PSK yang menjajakan diri kepada pria hidung belang. Mereka beroperasi mulai sekitar pukul 17.00–23.00. ”Sudah kemalaman Mas, ayo sama saya saja,” rayu Wulan, bukan nama sebenarnya kepada wartawan koran ini.

Wulan ketika itu terlihat baru melayani tamu yang umurnya sekitar 30 tahunan. Karena ada seorang pria memakai helm dari lokasi lahan kosong itu berjalan menunduk saat berpapasan dengan wartawan koran ini. Rupanya pria ini malu. Di lahan kosong itu juga tampak ada karpet warna merah yang masih tergelar.

Wulan menyatakan, usia PSK yang praktik di tempat tersebut memang terbilang kedaluwarsa. Rata-rata umurnya 40 tahunan seperti dirinya. ”Makanya, kami ”jualan” di tempat terbuka gini. Kalau yang muda-muda tidak mungkin mau,” ungkap Wulan dengan suara manja.

Untuk melayani tamu hidung belang, perempuan yang mengaku sudah empat tahun mangkal di tempat tersebut hanya berbekal sebuah karpet kecil dan air saja. ”Satu malam rata-rata dapat tujuh tamu, kalau sedang ramai bisa sampai dua belas orang,” kata perempuan asal Pandaan, Pasuruan tersebut.

Lantas berapa penghasilannya tiap malam? ”Ya lumayan, cukup buat makan,” imbuhnya.

Aktivitas prostitusi di tempat ini, imbuh Wulan, diperkirakan sudah ada 20 tahunan. Ini berdasar cerita temannya sesama PSK yang sudah mangkal lebih lama. ”Ada yang dua puluh tahun di sini,” imbuhnya. Selama mangkal di tempat itu, menurut Wulan, sama sekali tidak ada penindakan dari aparat. Dulu sempat ada pria berbadan tegap yang meminta uang Rp 5 ribu tiap hari kepada setiap PSK, tapi sekarang sudah tidak ada.

”Kalau pelanggannya ya dari mana-mana, ada orang muda kayak tadi yang baru bersama saya, tapi ada juga orang yang sudah tua,” imbuhnya.

Wulan bercerita awal mula dia terjerembab ke dunia prostitusi. Dulu dia di Pandaan adalah pedagang sukses di pasar tradisional. Tapi, harta berupa rumah dan mobilnya ludes terjual karena dibuat mengobati sang suami yang terkena kanker tenggorokan. ”Dulu saya obati terus, masak suami sakit parah ditinggal. Karena itu, harta saya ludes,” kata perempuan yang mengaku punya seorang anak ini.

Ketika suaminya meninggal delapan tahun lalu, Wulan sudah tidak punya apa-apa. Dia sempat menjadi pembantu rumah tangga, tapi tidak berlangsung lama karena kondisi fisiknya yang tidak kuat. ”Makanya, ada yang ngajak bekerja beginian, saya ikut saja,” imbuhnya.

Setelah selesai bercerita, wartawan koran ini memberi uang Rp 50 ribu. Wulan tidak henti-hentinya bersyukur. ”Terima kasih banget ya, ini cuma cerita saja dikasih uang, kalau melayani tamu bisa dua tamu ini,” ucapnya lantas terkekeh.

Sedangkan saat wartawan koran ini ke tempat tersebut untuk kali ketiga, hari masih sore. Sekitar pukul 17.00. Ketika itu ada tujuh PSK yang menyebar di berbagai titik. Ada juga tiga pemuda yang mendekati mereka. Sekilas, para pemuda ini menawar mereka. ”Tiga puluh lima ribu rupiah tidak boleh Mas, paling minim empat puluh ribu. Ayo, ini buat pelaris (penjualan pertama),” kata Niken, bukan nama sebenarnya.

Saat wartawan koran ini menanyakan Wulan, Niken yang mengaku berumur 42 tahun itu menyatakan kalau Wulan ke tempat itu malam hari. ”Kalau sore tidak laku Mas, dia sudah sepuh,” kata Niken.

Tidak lama berselang, ada pria berumur sekitar 50 tahun yang menghampiri Niken. Kayaknya mereka sudah saling kenal. Tanpa banyak basa-basi, keduanya menuju selatan, tempat kami bernegosiasi dengan Niken. Dengan dihalangi rumput ilalang sekitar dua meter, Niken terlihat membeber karpet yang dia bawa.

Sekitar 15 menit berselang, keduanya keluar dari rerimbunan rumput ilalang itu. Lalu, si pria memberi satu lembar pecahan uang Rp 50 ribu. ”Terima kasih Pak,” kata Niken. Si pria tersebut kemudian berlalu begitu saja.

Tidak lama berselang, ada orang lain yang mem-booking Niken. Dari pengamatan koran ini, Niken merupakan ”primadona” di tempat ini. Karena itu, dia mematok tarif sedikit lebih tinggi dari teman-temannya.

Tidak lama berselang, orang yang mem-booking Niken keluar dari rerimbunan rerumputan. Setelah dikuntit, rupanya yang mem-booking Niken itu sopir pikap. Dia memarkir mobilnya di pinggir jalan.

Setelah melayani dua orang, Niken menunjuk salah seorang temannya yang baru diantar seorang lelaki. Menurut keterangan Niken, PSK itu saban hari diantar suaminya untuk ”berjualan” di tempat tersebut. Hanya, si perempuan itu ketika didekati dan dikonfirmasi, membantahnya. ”Kamu kok tahu nama saya, kalau yang tadi bukan, itu tukang ojek,” kata Siti, sebut saja namanya demikian.

Sementara itu, adanya prostitusi terbuka ini membuat kondom bertebaran di tanah kosong. Dari pengamatan wartawan koran ini dan sempat terpotret oleh fotografer, terlihat bungkus kondom berserakan di tengah rumput ilalang. Praktik yang sudah berjalan 20 tahunan ini, sayangnya sama sekali tidak ada tindakan dari aparat. (riq/c2/abm/RadarMalang)

(in)

%d blogger menyukai ini: