Sketsa News
Home Citizen-Jurnalism Japan Bashing, Sangsi Sosial di Jepang Bagi Public Figure yang Asal Bicara

Japan Bashing, Sangsi Sosial di Jepang Bagi Public Figure yang Asal Bicara

Sketsanews.com – Hourei Junshu (法令遵守) memiliki arti kepatuhan terhadap hukum, norma, peraturan yang berlaku dalam masyarakat (meski tidak dicantumkan secara tertulis) yang dijalankan dalam bisnis, perusahaan, perkantoran, ataupun institusi fomal lainnya.

Di sekolah-sekolah Jepang, hourei junshu ini biasanya masuk dalam pelajaran “Dotoku” (pendidikan moral) dengan tujuan; menghargai, menghormati perjuangan para leluhur & sesama generasi, membuat lingkungan masyarakat yang lebih nyaman, memahamkan tentang pentingnya rasa kebersamaan, keterikatan antar sesama, membiasakan diri untuk melihat secara objektif mana yang dikatakan baik atau tidak secara norma moral dan lain lain.

Tidak salah, jika ada publik figur yang melakukan perbuatan melanggar norma seperti: suami atau istri selingkuh, berhubungan dengan dunia hitam ‘yakuza’, atau melakukan ucapan yang tidak sesuai norma seperti pelecehan, menghina satu golongan atau merendahkan beberapa kelompok, maka masyarakat akan memberikan sanksi “bashing” sebagai “tamparan keras” untuk menyadarkan pelaku.

Tamparan yang biasa dilakukan biasanya berupa ‘black list’, kritikan pedas dari masyarakat dan media massa dengan tidak meliput kembali publik figur tersebut, home production tidak memunculkan kembali wajahnya dalam periode lama baik dalam dunia pertelevisian, perfilman ataupun dunia publik. Yang lebih keras adalah mem-blacklist para publik figure tersebut hingga hilang dari dunia sorotan.

Biasanya, para publik figur yang merasa sudah melanggar norma hourei junshu, akan mengadakan “Kisha Kaiken” mengumpulkan mass media & melakukan wawancara terbuka dengan dengan tujuan:
– meminta maaf karena membuat masyarakat tidak nyaman dengan perbuatan/ucapannya.
– berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan / ucapannya.
– Sebagai rasa bersalah, atas kesadaran diri, mereka biasanya akan mengundurkan diri dari dunia yang telah membesarkan namanya, sebagai tanda bukti penyesalan dan tanggung jawab kepada masyarakat.

Di bawah adalah beberapa publik figur Jepang yang mendapat black list ‘dihilangkan’ dari dunia hiburan karena ucapan/tindakan mereka yang dianggap keluar dari norma hourei junshu.

1. Sawajiri Erika

Selebritis yang laris manis dalam dunia layar kaca, cinema ataupun mass media di tahun milenium. Wajahnya yang cantik menjadi alasan baginya untuk menjulang terkenal dalam deretan artis papan atas di Jepang. Masyarakat memberinya gelaran “Erikasama…(Tuan Putri Erika)”

Tahun 2007, merupakan titik tolak tamparan bagi Erikasama hingga akhirnya menghilang dari dunia layar lebar. Dalam acara promosi film yang diperankannya, ia datang dengan wajah tak bersahabat, kedua tangan dilipat & menjawab seenaknya pertanyaan mass media.

“Bagian mana yang paling berkesan saat anda memainkan film ini?”

“Bagaimana kesan anda saat diminta peran untuk membuat kue-kue kering…?”

Erikasama memberikan jawaban ketus utk 2 jawaban di atas:
特にない。。。“tokuni nai…!” (Ngga ada kesan khusus tuh…!)

別に。。。“betsu ni…! ({Ngga minat, ngapain juga nanya-nanya!})

Masyarakat, mass media, production house memberinya bashing dengan melakukan ‘black list’ semua film / majalah dan juga acara yang mendatangkan Erikasama, karena dianggap tidak sopan, tidak pantas dijadikan idola & tidak profesional dlm kerja. Hingga perlahan wajahnya mulai menghilang dari dunia selebritis.

 

2. Koda Kumiko

Penyanyi pop R&B yang terkenal dengan sebutan Utahime (Diva Pop). Beberapa kali mendapatkan penghargaan dalam dunia tarik suara & lagu-lagunya kerap menempati urutan pertama dalam top chart single song.

Tahun 2008, utahime ini mendapatkan sanksi bashing dari masyarakat. Ketika acara wawancara dengan salah satu radio ternama khusus anak muda. Utahime ini mengeluarkan kalimat yang dianggap tidak sopan & menyinggung perasaan satu kelompok generasi.

“35歳をまわるお母さんの羊水は腐ってくるんですよね”
Air ketuban / rahim ibu-ibu yang umurnya sekitar 35 thn itu (kondisinya) membusuk kali ya…

Pernyataan tidak sopan ini dianggap menyinggung para ibu terutama kelompok para istri berusia 30 tahun ke atas yang sedang menjalani terapi infertilisasi ingin memiliki keturunan.

Tamparan dari masyarakat menyebabkan utahime ini tenggelam dalam sanksi black list, hingga ia mengundurkan diri & tak terdengar lagi namanya dalam dunia tarik suara.

3. Tatsuya Kawagoe

Juru masak, chef terkenal pemilik restaurant ternama. Keahlian, kepandaian dan wajahnya yang menawan bagi kaun hawa menjadikan dirinya sering menghiasi layar kaca untuk berbagi tips memasak ataupun menjadi juri lomba memasak.

Tamparan terjadi ketika ia mengkritisi masyarakat dengan pendapatan menengah ke bawah.

年収300万円、400万円の人は“お水にお金がかかるような高級店”には行ったことがないはず…
“Buat orang yang penghasilannya hanya 3 ~ 4 juta yen pertahun, pastinya ngga pernah deh pergi ke restaurant high class, dimana untuk minum saja harus bayar…. “

Kawagoe ‘didepak’ dari dunia layar kaca & namanya menghilang dari popularitas karena dianggap melecehkan masyarakat menengah ke bawah.

 

Shinagawa Hitoshi

4. Shinagawa Hitoshi

Pelawak terkenal yang tidak hanya dalam lawakannya, tapi juga penulis cerpen dan komentator bbrpa acara variety show.

Merasa di atas angin dengan ketenaran. Dalam salah satu acara Ia mengeluarkan kalimat yang merendahkan juniornya yang sama-sama pelawak.

お前の話は、作り過ぎている感じがして、ちょっと笑えへん…
“Omongan loe tuh ya, terlalu dibua-buat, susah buat gue untuk ketawa, tahu…!”

Masyarakat yang melihat memberikan komentar pedas 後輩潰しがひどい “Kejam banget cara dia ngejatuhin juniornya…!”

Masyarakat (penonton) merasa sikap Shinagawa dianggap keterlaluan tidak mendukung perjuangan dari pelawak muda, tidak menghormati norma antar sesama pelawak yaitu menjatuhkan citra.

Bashing yang diterima, adalah banyaknya komentar pedas atas pelawak yang merasa senior tersebut. Dengan kesadaran diri, Shinagawa Hitoshi mengundurkan diri dari dunia pelawak. Ia meminta maaf pada masyarakat karena telah keterlaluan dalam kata-kata.

Masyarakat di luar Jepang, mungkin merasa ucapan para public figure di atas berada dalam batas wajar “Yaah… cuma gitu doang kok dapat bashing…diblack list?!”

Tapi tidak bagi masyarakat Jepang yang memiliki peraturan tidak tertulis berupa hourei junshu. Semua dikembalikan kepada moral. Asal mula Ijime (bulying), Jisatsu (bunuh diri), chikan (cabul), sekuhara (pelecehan sex) umumnya berawal dari ucapan yang tidak sesuai norma. Masyarakat sepakat untuk memberi tamparan black list kepada publik figur yang asal bicara tanpa perasaan norma, dengan tujuan;
平和な日本であって欲しい… Ingin menjadikan Jepang negara yang damai …

Bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia memiliki ideologi dasar negara yaitu Pancasila. Yang menjadi “Ruh” bagi seluruh rakyat Indonesia dalam menjalani kehidupan.

Didalam Pancasila, diatur pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa,
2. kemanusiaan yang adil dan beradab,
3. persatuan Indonesia,
4. kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
5. keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Berdasarkan Pancasila, setiap perbuatan / ucapan yang menyinggung SARA (suku, agama, ras, antar golongan) adalah pelanggaran. Pancasila hanya akan menjadi simbol semata tanpa “ruh” jika bashing “tamparan” bagi pelanggar SARA tidak ditegakan.

 

sumber : facebook| Narasiana

 

(in)

%d blogger menyukai ini: