Dedi Mulyadi: Kekerasan Suporter Sepak Bola Seperti Doktrin Terorisme

Ratusan bobotoh saat memadati kediaman Ricko Andrean (22) di kawasan Cicadas, Kota Bandung, Kamis (27/7/2017)(KOMPAS. com/DENDI RAMDHANI)

Ratusan bobotoh saat memadati kediaman Ricko Andrean (22) di kawasan Cicadas, Kota Bandung, Kamis (27/7/2017)(KOMPAS. com/DENDI RAMDHANI)

Sketsanews.com, Bandung – Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengaku prihatin dengan nasib nahas yang menimpa Ricko Andrean, suportterPersib ( bobotoh) yang meninggal akibat dikeroyok sesama bobotoh dalam pertandingan Persib melawan Persija Jakarta di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Kota Bandung, Sabtu (22/7/2017).

Menurut Dedi, kekerasan serta permusuhan yang kerap ditunjukkan dalam dunia suporter sepak bola dapat dikatakan sebagai paham berbahaya.

“Kekerasan (dalam sepak bola) itu tindakan fundamentalisme yang dilarang di Indonesia. Pandangan saya, kekerasan yang dilakukan atas nama keyakinan terhadap kelompok atau klub kategorinya sama dengan terorisme,” kata Dedi saat ditemui di Universitas Katolik Parahyangan, Kota Bandung, Kamis siang.

Dedi juga menilai, kekerasan dan permusuhan antarsuporter sepak bola merupakan bahaya laten serta mirip dengan doktrin radikalisme yang diwariskan turun-temurun.

“Karena itu sistem ajaran laten. Itu idelogi berdampak pada kebencian. Anak kecil usia SD kalau Viking ketemu The Jakmania pasti jadi musuh. Padahal enggak ada urusan,” ujarnya.

Dedi menambahkan, pertikaian serta permusuhan antarsuporter sepak bola, terutama antara bobotoh dan The Jakmania mau tidak mau akan terus diikuti oleh anak-anak yang pada dasarnya tidak tahu akar masalah sebenarnya.

“Ini sudah ideologis. Sama dengan pencekokan terorisme. Sama, terorisme juga dicekoki dulu,” tuturnya.

Untuk mengakhiri pertikaian, lanjut Dedi, perdamaian antara Viking atau Bobotoh dengan The Jakmania mutlak harus segera dilakukan agar tidak ada lagi nyawa melayang akibat rivalitas dan fanatisme buta.

“Perdamaian harus disegerakan. Ahli psikologi, ahli ideologi harus segera membenahi manajerial fans klub yang seperti ini. Bukan hanya menteri Olahraga saja, menteri Agama, menteri Polhuk HAM juga harus turun tangan,” jelasnya.

Dedi menceritakan pengalaman anaknya yang pernah ikut terbawa arus pertikaian antara bobotoh dengan The Jakmania. Menurut dia, pada waktu usia SD, anak laki-lakinya sangat fanatik pada Persib Bandung dan selalu mengucapkan kata-kata kasar kepada suporter The Jakmania.

“Memang rata-rata anak kecil. Seiring usia, hobi anak saya mulai saya geser. Fanatismenya jadi tidak kaya waktu SD,” katanya yang dikutip dari  Kompas.

(Tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: