Defisit Neraca Dagang RI yang Disebut Prabowo Paling Buruk

Foto: Ilustrasi peti kemas.

Foto: Ilustrasi peti kemas.

Sketsanews.com, Jakarta – Calon Wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno melepaskan ‘peluru’ terkait defisit neraca perdagangan kepada calon presiden petahana Joko Widodo dalam Debat Pemilihan Presiden (Pilpres) kelima pada Sabtu (13/4) malam.

Dalam sesi debat saat itu, Sandiaga menanyakan alasan pemerintah yang tak sanggup menahan defisit perdagangan sepanjang 2018.

Badan Pusat Statistik (BPS) memang mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit mencapai US$8,57 miliar sepanjang 2018 yang merupakan defisit terburuk dalam sejarah. Torehan defisit ini berbanding terbalik dari kondisi neraca perdagangan pada 2017 yang mencatatkan surplus tinggi mencapai US$11,84 miliar.

Berdasarkan data terbaru, impor Februari menurun 18,6 persen menjadi US$12,2 miliar dibanding bulan sebelumnya US$14,9 miliar. Sementara itu, nilai ekspor tercatat menurun 10,05 persen menjadi US$12,5 miliar dari kinerja Januari US$13,9 miliar.

Alhasil, neraca perdagangan mengalami surplus US$300 juta, dibandingkan kinerja Januari yang mencatat defisit US$1,16 miliar.

Jikapun defisit neraca perdagangan menyusut pada dua bulan pertama 2019, hal itu terjadi karena impor bahan produksi yang dibutuhkan industri pengolahan menurun.

“Poin utamanya, kalau defisit terjadi dan dibuka pintu impor selebar-lebarnya, harga bahan pokok dan energi harusnya bisa murah. Kini harga listrik dan bahan pokok naik, ini tidak terselesaikan dengan kebijakan perdagangan kita,” kata Sandiaga dalam sesi debat mewakili calon presiden Prabowo Subianto.

Amunisi yang dilepaskan Kubu Prabowo-Sandi tak berhenti di sana. Sandiaga kembali menyinggung soal curahan hati warga yang datang kepadanya. Kali ini disebutkan, warga bernama Mia mengeluhkan biaya listrik dan bahan pangan yang selalu naik saat pemerintahan Jokowi bekerja.

Dalam kesempatan tersebut, Kubu Prabowo-Sandi menawarkan strategi ‘Big Push’ atau dorongan besar pada sektor pangan. Hal itu dilakukan melalui distribusi pupuk dan bibit kepada para petani, serta menggarap lahan terlantar. Selain itu, mengembangkan produksi biofuel bernilai tambah.

Usai momentum debat capres, Dewan Pakar Badan Pemenangan Nasional (BPN) Dewan Pakar BPN Rizal Ramli menganggap defisit neraca perdagangan Indonesia pada 2018 paling buruk sejak 1975.

“Defisit perdagangan Indonesia tahun 2018 paling jelek sejak tahun 1975,” ungkap Rizal seperti dikutip dari Antara.

Dia menjelaskan bahwa slogan kerja pemerintahan Presiden Joko Widodo dilakukan tanpa strategi.

Tak tinggal diam, ‘menangkis’ peluru yang ditembakkan kepadanya. Dia menjelaskan pemerintah telah menjalankan berbagai upaya untuk mengurangi defisit neraca perdagangan.

“Artinya usaha kita untuk menurunkan defisit bukan main-main. Defisit bisa kita hilangkan, kuncinya adalah membangun industri di dalam negeri,” tegas Jokowi dalam sesi debat.

Beberapa usaha yang dilakukan antara lain memperkuat kebijakan subtitusi barang, serta mendorong industri petrochemical dan migas yang selama ini menjadi salah satu penyebab utama pembengkakan impor.   (Air)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: