Dewi Tanjung Gelagapan Menjawab Pertanyaan Aiman soal Kejanggalan Kasus Novel Baswedan

dewi-tanjung-gelagapan-menjawab-pertanyaan-aiman-soal-kejanggan-kasus-novel-baswedan.jpg
Dewi Tanjung Gelagapan Menjawab Pertanyaan Aiman soal Kejanggan Kasus Novel Baswedan – YOUTUBE

Sketsanews.com – Dewi Tanjung tampak gelagapan saat dicecar Aiman Kompas TV soal kasus Novel Baswedan.

Hal tersebut tampak di acara Kompas TV, Kamis (7/11/19).

Mulanya, Dewi Tanjung menegaskan bahwa ia berbicara atas nama masyarakat bukan partai PDIP.

“Saya bicara atas nama masyarakat, bukan kader atas nama partai dan tidak ada instruksi dari partai saya,” ujarnya.

“Sebagai masyarakat saya berhak berbicara dan bertanya, karena itu dilindungi undang-undang,” imbuhnya.

Dewi Tanjung mengaku mempelajari kasus Novel Baswedan sejak 2017 dan ia menemukan kejanggalan.

“Saya mempelajari kasus ini 2017, dan saya melihat Pak Novel 2018 di Bandara, saya hanya bertemu sekilas, saya mempelajari, dan ada keanehan, ada kejanggalan,” ujarnya.

Dewi Tanjung mempersoalkan reaksi Novel Baswedan ketika disiram air keras.

“Dari rekaman CCTV, kenapa ketika disiram ia hanya bergerak kanan-kiri, dan katanya ia menabrak tiang sampai ia benjol, ” ujarnya.

Dewi tanjung menyebutkan bahwa ketika disiram air keras, maka reaksinya adalah terguling-guling.

“Harusnya kalau disiram air keras, ia harus duduk dan terguling-guling, ” ujarnya.

Air keras itu panas dan keras, kena kulit akan melepuh dan meleleh, Kita lihat Lista 2014 disiram suaminya air keras dan matanya meleleh,” imbuhnya.

Dewi Tanjung mengaku melihat rekaman CCTV yang beredar bahwa pelaku penyiraman menggunakan tangan kiri.

“Saya melihat reaksi Novel saat itu binggung, dan saya lihat si penyerang menggunakan tangan kiri, harusnya tangan kiri nggak kuat, kecuali dia kidal, ketika air keras di siramkan, harusnya nggak kuat tanga si pelaku,” ujarnya

Aiman lantas melempar pertanyaan.

“Bagaimana anda tahu kalau pelaku menggunakan tangan kiri? ” tanya Aiman.

“Kan dia diserang dari sebelah kanan,” ujar Dewi Tanjung.

Aiman lalu mencecar pertanyaan kembali.

“Bisa saja pelaku dari sebelah kanan dengan tangan kanan dengan tanga kiri,” ujar Aiman.

Dewi Tanjung mengaku bahwa ada rekaman CCTV.

“Ada, dari CCTV yang beredar,” jawab Dewi.

“kan CCTV nggak jelas,” ujar Aiman

“Saya lihat dari CCTV ada begitu,” bela Dewi.

Aiman lantas membantah argumen Dewi Tanjung.

Aiman mengatakan bahwa saat penyiraman tidak ada CCTV

“Waktu penyiraman tidak ada CCTV mbak Dewi, pada waktu penyiraman, saya melakukan investigasi kasus ini, saat penyiraman tidak terekam CCTV, kalau tertangkap CCTV, pelaku seharusnya tertangkap saat ini,” ujar Aiman.

Dewi lalu mejawab.

“Tapi ada CCTV yang tersebar,” ujar Dewi tampak gelagapan.

Aiman lalu membantah dan mengatakan bahwa video yang beredar adalah video pasca penyiraman.

Lalu Aiman memutarkan video.

“Nggak ada proses penyiraman Mbak Dewi, itu poasca penyiraman, artinya anda tidak bisa menyimpulkan dari tangan kanan atau tangan kiri,” ujar Aiman.

Dewi Tanjung tampak terdiam sesaat, lalu meneruskan pendapatnya.

“Oke, tapi Pak Novel mengatakan ia diserang dari arah belakang. Mau diserang sebelah kanan maupun kiri, kita lihat reaksinya itu sudah salah,” ujar Dewi.

Menurut Dewi, seharusnya air keras itu sudah sampai ke badan.

“Kesimpulan bahwa novel menruut anda tidak pakai air keras? air apa itu? air kran?,” tanya Aiman sambil tertawa.

“Bisa jadi,” ujar Dewi.

Aiman lantas mengatakan seharusnya Dewi Tanjung menggugat polisi karena hasil penyelidikan polisi, Novel disiram dengan cairan asam sulfat.

“Kalau gitu anda harus menggugat polisi, karena polisi mengatakan bahwa cairan yang disiram ke wajah Novel adalah asam sulfat,” ujar Aiman.

Dewi Tanjung lalu mempertanyakan apakah polisi polisi mengambil sampel cairan di wajahnya Novel?

Aiman lalu mengatakan bahwa memang polisi mengambil sampel cairan di wajahnya Novel

“Ada,” ujar Aiman.

Sebelumnya, Politisi PDIP Dewi Tanjung melaporkan Novel Baswedan atas dugaan penyebaran berita bohong melalui media elektronik.

Dalam laporannya yang terdaftar dalam nomor laporan LP/7171/XI/2019/PMJ, Dit. Reskrimsus, Dewi melaporkan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan.

“Iya betul, laporannya sudah kita terima,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono saat dikonfirmasi, Kamis (7/11/2019).

Argo mengungkapkan, saat ini polisi tengah mempelajari laporan serta barang bukti yang dilampirkan Dewi.

“Sedang kita pelajari laporannya, nanti kita lakukan penyelidikan,” ungkap Argo.

Novel Baswedan dilaporkan dengan tuduhan penyebaran berita bohong melalui media elektronik.

Dewi berpendapat, Novel telah merekayasa peristiwa penyiraman air keras oleh orang tak dikenal pada 11 April 2017 silam.

Dewi menilai, reaksi Novel saat disiram air keras tak seperti korban yang terkena siraman air keras.

“Ada beberapa hal janggal dari semua hal yang dialami, dari rekaman CCTV, bentuk luka, perban, dan kepala yang diperban. Tapi, tiba-tiba malah mata yang buta,” kata Dewi di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu (6/11/2019).

Dalam laporannya, Dewi melampirkan barang bukti di antaranya rekaman video Novel saat berada di rumah sakit di Singapura dan rekaman video peristiwa penyiraman air keras.

Sementara itu, KPK menyayangkan adanya isu-isu yang menyebutkan bahwa kasus penyerangan terhadap penyidik KPK Novel Baswedan merupakan sebuah rekayasa.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah menyatakan, Novel jelas-jelas sudah menjadi korban penyerangan sebagaimana hasil pemeriksaan dokter terhadapnya.

“Kami sangat menyayangkan dan rasanya ada orang orang yang bertindak di luar rasa kemanusiaan kita ketika Novel yang sudah jadi korban, jelas jelas menjadi korban,” kata Febri di Gedung Merah Putih KPK, Rabu (6/11/2019).

Febri melanjutkan, pihak Kepolisian RI juga sudah menjelaskan soal karakteristik air keras yang disiramkan ke wajah Novel.

Oleh sebab itu, Febri merasa Novel sangat dirugikan dengan adanya isu-isu miring yang menyebut penyerangan tersebut merupakan hoaks.

“Nah sekarang bagaimana mungkin Novel yang dituduh melakukan rekayasa tersebut. Ia adalah korban jangan sampai korban menjadi korban berulang kali karena berbagai isu hoaks begitu,” ujar Febri.

“Kita percaya Polri pasti akan menghadapi laporan itu secara profesional. Jadi tidak mungkin setiap laporan harus naik ke penyidikan kalau buktinya tidak kuat,” tambah Febri.(*)

Sumber : TribunNews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: