Di Jawa Barat Ada Keluarga yang Memasak Makanan Busuk

Foto: Istimewa

Foto: Istimewa

Sketsanews.com, Cianjur – Fakta miris ditemukan relawan Cianjur Aktivis Independen (CAI). Satu keluarga di Kampung Kiarapayung, Desa Ramasari, Kecamatan Haurwangi terpaksa memasak makanan busuk karena impitan ekonomi. Bagaimana kisahnya?

Informasi ini awalnya dikabarkan ketua RT setempat kepada relawan CAI yang kemudian mengecek ke lokasi. Betapa kagetnya relawan ketika tiba di kediaman keluarga tersebut melihat langsung di atas penggorengan keluarga itu tengah memasak makanan yang diakui sebagai hasil memulung dari jalanan.

“Mereka tinggal di sebuah rumah yang berada di tengah sawah, posisinya sekitar antara 60 meter sampai 100 meter dari perkampungan warga. Kondisi rumahnya memprihatinkan, saat kita periksa dapur keluarga ini sedang memasak makanan yang baunya busuk sekali,” kata Farid Sandi, Direktur Eksekutif CAI didampingi rekannya, Dick Sodikin kepada detikcom, Sabtu (9/2/2019).

Pasangan suami istri Bakri (72) dan Aisyah (65) tinggal bersama anaknya Jujun, berusia 9 tahun. Diketahui ketiganya pernah mendapat perawatan di Panti Sosial Aura Welas Asih di Sukabumi karena berstatus sebagai penyandang disabilitas mental.

“Pengakuan Bakri makanan yang mereka masak itu hasil memulung di tempat sampah. Ada bekas nasi kotak, nasi bungkus mereka kumpulkan ketika tiba di rumah mereka masak lagi saya melihat dengan mata kepala sendiri masakan itu berbusa ketika ditanak di atas penggorengan,” lanjut Farid.

Dilansir dari Detikcom, rumah yang ditinggali keluarga Bakri tidak kalah miris. Rumah semi permanen berukuran kurang lebih 12 meter persegi itu tidak memiliki jamban. Hanya ada dua ruangan ditambah dapur dengan tungku kayu bakar, kondisi rumah juga beratap asbes dengan lantai hanya lapisan semen kasar tanpa acian.

Makanan basi yang kembali dimasak keluarga Bakri Foto: Istimewa

“Bakri tidak bekerja, dia mengemis mengajak Jujun putranya. Setiap hari menempuh perjalanan dengan berjalan kaki sejauh 10 kilometer ke lokasi keramaian di pusat kota Cianjur,” ujarnya.

Dihubungi terpisah, Hana Ketua RT 002 RW 006 membenarkan kondisi prihatin warganya tersebut. Menurutnya keadaan keluarga Bakri yang menutup diri membuat warga setempat kurang respek dengan perekonomian keluarga Bakri.

“Kondisinya memprihatinkan, satu keluarga itu didiagnosa sebagai Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) sudah diperiksa puskesmas oleh dokter pernah dikirim juga ke panti,” kata Hana melalui sambungan telepon.

Hana mengaku pernah mendorong pengajuan bantuan hingga ke pemerintahan desa setempat, namun karena proses birokrasi yang rumit hingga saat ini belum ada realisasinya kapan Bakri akan mendapat bantuan.

“Proses birokrasi lama hingga saat ini belum ada realisasinya, warga setempat sendiri untuk memperhatikan (kondisi keluarga Bakri) sangat kurang pak Bakri asli warga sini saya sendiri pendatang. Harapan saya sih simpel bagaimana keluarga ini bisa hidup dengan layak minimal dari tempat tinggalnya,” tandas dia. (Is)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: