Di Lapas Sukamiskin Ada Sel Fasilitas AC dan Kulkas

TRIBUN JABAR/DANIEL ANDREAND DAMANIK Suasana di depan Lapas Sukamiskin, Kota Bandung, Jumat (4/5/2018).

TRIBUN JABAR/DANIEL ANDREAND DAMANIK
Suasana di depan Lapas Sukamiskin, Kota Bandung, Jumat (4/5/2018).

Sketsanews.com, Jakarta – Dalam operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan di Lapas Sukamiskin, KPK menemukan fasilitas sel yang cukup mewah. Ada sel di Lapas Sukamiskin yang dilengkapi dengan mesin pendingin udara(AC).

“Menurut penyelidik dan penyidik yang ikut serta dalam operasi di Sukamiskin terjadi jual-beli kamar, jual beli izin, sehingga narapidana bisa keluar lapas dengan mudah,”ujar Wakil Ketua KPK Laode M Syarif di kantor KPK, Jl Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Sabtu (21/7/2018).

Selain itu, tim KPK juga menemukan warga binaan lapas yang digunakan dan dan menjadi bisnis oknum di lapas. Syarif menyebut, tim KPK menemukan sejumlah tempat dan tindakan mengistimewakan napi yang menyetor uang.

“Mulai dari ditemukan sejumlah alat berupa HP untuk narapidana yang lebih lama, fasilitas tambahan dalam sel seperti AC, dispenser, televisi, kulkas. Jadi betul-betul seperti ada bisnis dalam penjara,” jelasnya.

Penemuan KPK ini menurut Laode seperti membuktikan rumor yang terjadi selama ini. Bahwa di lapas banyak terjadi penyalahgunaan kewenangan dan kegiatan suap.

“Itu bisa terkonfirmasi dengan adanya OTT yang dilakukan KPK semalam,” ujar Syarif.

Sementara itu, seperti dilansir dari Detik, Wakil Ketua KPK Saut Situmorang menyatakan efek jera terhadap napi nakal seperti itu sulit dilakukan apabila petugas di lapas sendiri tidak bekerja secara profesional. Ini menurutnya harus menjadi perhatian semua pihak.

“Kita sudah tidak dapat hanya menyalahgunakan oknum saja dalam kasus ini, karena ketika KPK masuk ke Lapas Sukamiskin, tim KPK melihat sejumalah sel memiliki fasilitas-fasilitas berlebihan yang berbeda dengan standar sel lainnya,” tutur Saut di lokasi yang sama.

Terkait OTT ini KPK menetapkan 4 orang tersangka yakni Kalapas Sukamiskin Wahid Husen, staf Wahid Husen, Hendry Saputra, suami Inneke, Fahmi Darmawansyah napi koruspi dan Andi Rahmat narapidana kasus pidana umum/tahanan pendamping Fahmi.

Fahmi, suami Inneke diduga menyuap Wahid agar bisa mendapatkan kemudahan untuk keluar-masuk tahanan.

“Diduga pemberian dari FD tersebut terkait fasilitas sel/kamar yang dinikmati oleh FD dan kemudahan baginya untuk dapat keluar-masuk tahanan,” terang Syarif.

(Wis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: