Di Sidang DK PBB, AS dan Rusia Berdebat Soal Aksi Demo di Iran

massa propemerintah gelar demo tandingan (Foto: Reuters)

massa propemerintah gelar demo tandingan (Foto: Reuters)

Sketsanews.com, New York – Amerika Serikat dan Rusia berdebat mengenai Iran dalam sidang Dewan Keamanan PBB yang digelar pada Jumat (5/1) waktu setempat. Sidang ini digelar seiring berlangsungnya aksi-aksi demo pro-rezim menyusul gelombang aksi demo antipemerintah yang mematikan.

Duta Besar (Dubes) AS untuk PBB Nikki Haley menegaskan bahwa kerusuhan di Iran bisa meningkat menjadi konflik besar.

“Rezim Iran sekarang harus tahu: dunia akan menyaksikan apa yang Anda lakukan,” cetus Haley seperti dilansir Detikcom, Sabtu (6/1/2018).

“Rakyat Iran bangkit di lebih dari 79 lokasi di seluruh negeri,” kata Haley.

“Ini pertunjukan hebat dari orang-orang berani yang telah menjadi sangat muak dengan pemerintah mereka yang menindas sehingga mereka bersedia membahayakan diri mereka dalam aksi protes,” imbuhnya.

Sidang DK PBB ini digelar atas permintaan AS. Sedangkan Rusia menentang upaya AS tersebut dengan beralasan bahwa aksi-aksi protes tersebut tidak menimbulkan ancaman bagi perdamaian dan keamanan internasional.

Total 21 orang telah tewas dan ratusan telah ditangkap sejak 28 Desember lalu menyusul aksi-aksi protes terhadap pemerintah Iran atas masalah perekonomian. Serangan ke gedung-gedung pemerintah dan kantor-kantor polisi terjadi dalam aksi-aksi demo tersebut.

Pada Jumat (5/1), aksi-aksi demo pro-rezim berlangsung di sekitar Teheran sebagai demo tandingan. Ini merupakan aksi demo serupa selama tiga hari berturut-turut.

“Kami tentu saja menyesalkan jatuhnya korban jiwa sebagai akibat demonstrasi yang tidak begitu damai,” tutur Dubes Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia dalam sidang DK PBB.

“Akan tetapi, biarkan Iran mengurus masalahnya sendiri,” imbuhnya.

Rusia mengatakan bahwa DK PBB harusnya juga membahas kerusuhan 2014 di Ferguson, Missouri terkait penembakan remaja berkulit hitam oleh polisi AS.

Selain Rusia, China juga menyebut sidang DK PBB tersebut sebagai campur tangan dalam urusan dalam negeri Iran. Adapun Inggris dan Prancis menekankan bahwa Iran harus menghormati hak-hak para demonstran. Namun Dubes Prancis Francois Delattre juga mengatakan “peristiwa dalam beberapa hari terakhir tidak menimbulkan ancaman bagi perdamaian dan keamanan internasional.”

Dubes Iran Gholamali Khoshroo mengecam sidang tersebut sebagai “lelucon” dan “buang-buang waktu”. Menurutnya, DK PBB harusnya fokus untuk menangani konflik Israel-Palestina ataupun perang di Yaman. (Sh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: