Sketsa News
Home Analisis, Berita, Berita Terkini, Headlines, News Disinyalir Gila, tapi Targetnya Ulama ! Yang Benar Saja ?

Disinyalir Gila, tapi Targetnya Ulama ! Yang Benar Saja ?

pelaku penganiayaan, Asep Maftuh (paling kiri,kaos merah, diborgol). korban penganiayaan, Ustadz Prawoto tergeletak (kanan) foto:Istimewa

Sketsanews.com, Jakarta – Tindak kekerasan terhadap Ulama atau Kyai, belakangan ini semakin sering terjadi saja. Setelah tertangkap, keanehan ditemukan. Ternyata, pelakunya juga sama…sama-sama gila(?).

Pimpinan Ponpes Al Hidayah, KH Umar Basri (60 th) pada Sabtu (27/1/2018), dianiaya di dalam masjid Al Hidayah Santiong yang berlokasi di kampung Santiong, Desa Cicalengka Kulon, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung oleh orang “gila” seusai sholat subuh.

Selang beberapa hari kemudian, yakni hari Kamis (1/2/2018), Komandan Brigade Pimpinan Pusat Persis HR Prawoto SE atau juga dikenal Ustadz Prawoto, dianiaya hingga meninggal oleh orang yang dinyatakan” gila” juga. Lokasi penganiayaan di rumah korban, yakni di Blok Sawah, Cigondewah Kidul, Kecamatan Bandung Kidul, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Dua kejadian dalam waktu berdekatan, korban umat islam (Kyai/Ustadz), pelaku dinyatakan gila semua (Seperti yang diungkapkan oleh Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen M Iqbal, di Mabes Polri, Jumat 02 Februari 2018).

Selanjutnya, pada minggu malam (04/02/2018) sekitar jam 21.00 WIB di masjid At Tawakkal 1 (Persis 13 Astana Anyar) Tegalega, Bandung, ada seorang pemuda yg pura-pura gila, mencari ustadz sambil menodongkan pisau. Namun akhirnya berhasil dibekuk aparat sebelum melukai korbannya.

Motif penganiayaan pun tak bisa ditemukan, karena pelakunya gila (?). Lalu, adakah kaitan peristiwa penganiayaan ini dengan kasus-kasus sebelumnya yang melibatkan umat Islam di Jawa Barat, sehingga tokohnya dijadikan sasaran ?

Flashback ke tahun 2017, tepatnya pada hari kamis, tanggal 12 Januari. Ormas FPI (Front Pembela Islam) pulang dari menghadiri sidang Habib Rizieq, diserang oleh ormas GMBI (Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia). Beberapa anggota FPI terluka akibat pukulan balok kayu yang dibawa sebagian ormas GMBI.

Tindakan butal GMBI ternyata tidak hanya itu saja. Di beberapa tempat, anggota GMBI meresahkan warga dan mengganggu keamanan. Bahkan, ada yang ditangkap aparat karena membawa senjata tajam.

Sebagaimana diketahui, GMBI dibina oleh Kapolda Jabar, Irjen (Pol) Anton Charliyan. Sedang anggotanya kebanyakan adalah para preman dan mantan napi. Setelah insiden penyerangan terhadap FPI, Anton di off-kan sebagai pembina GMBI.

Penganiayaan tokoh islam itu bisa saja berkaitan dengan masalah politik, yakni menjelang Pemilukada Jawa Barat tahun 2018 ini. Yang menggerakkan umat islam adalah ulama, maka dapat dipastikan langkah politik bakal calon Gubernur yang berseberangan dengan umat islam, akan mendapat hambatan. Mencederai atau menghilangkan nyawa para penghalang (Kyai dan Ustadz) tersebut harus dilakukan agar memperoleh dukungan dari masyarakat. Begitulah logika yang mungkin masuk akal.

Selama ini Polri dikenal profesional dalam mengungkap berbagai macam tindak pidana sekaligus menangkap pelaku dan dalangnya. Sangat tidak beralasan bila Polri belum dapat mengungkap siapa dalang dan motif dari pelaku penganiayaan tokoh-tokoh agama Islam di berbagai kota dan pelosok di tanah air. Lebih tidak masuk akal jika pelaku penganiayaan terhadap ulama adalah orang gila sehingga lepas dari jeratan hukum.

Jika dipikir dengan akal dan nalar sehat, sangat tidak mungkin semua pelaku penganiayaan terhadap ulama atau para ustadz di berbagai pelosok di tanah air, adalah orang gila. Apalagi saat ini intensitas perusakan tempat ibadah agama Islam dan penganiayaan terhadap para ustadz, makin sering terjadi.

(Fya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: