Ditahan Polisi, Pelatih PSHT Sragen Masih Ikut Ujian Semester

Sketsanews.comSRAGEN — Penyidik Satreskrim Polres Sragen tetap memberi kesempatan kepada FAS, 16, pelatih Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) yang ditetapkan sebagai tersangka kasus meninggalnya Muhammad Apriza Maudika, 13. Kematian itu terjadi setelah latihan di Dukuh Ngrendeng, RT 022, Desa Kaloran, Gemolong, Sragen, Minggu (24/11/2019) lalu.

 2019
Ilustrasi Silat (Solopos/Whisnupaksa Kridhangkara)

 

Kasatreskrim Polres Sragen, AKP Supardi, mengakui setelah ditetapkan sebagai tersangka, FAS langsung ditahan di Polres Sragen. Penahanan itu dilakukan guna mempermudah proses pemberkasan perkara tersebut.

Akibat penahanan itu, pelajar asal Kalijambe yang menjadi pelatih PSHT di Sragen tersebut dipastikan tidak bisa mengikuti sekolah seperti biasa. Akan tetapi, FAS masih bisa mengikuti ujian akhir semester (UAS) yang digelar pihak sekolah.

“Kami sudah berkoordinasi dengan pihak sekolah. Ujian semester bisa diselenggarakan di tahanan. Meski ditetapkan sebagai tersangka, hak-hak dia sebagai anak tetap harus diberikan. Termasuk mengikuti ujian semester,” terang AKP Supardi dalam jumpa pers di Mapolres Sragen, Senin (2/12/2019).

Berdasar hasil autopsi, Supardi menjelaskan korban mengalami reflek vagal akibat adanya trauma tumpul pada ulu hati yang berlokasi di dekat tulang dada bagian bawah dan persendian iga.

Reflek vagal itu terjadi setelah korban mendapat tendangan model A menggunakan kaki kiri dari FAS. “Kebetulan kaki kanan pelaku saat itu sedang sakit. Jadi, dia memilih menggunakan kaki kiri untuk membuat tendangan A,” papar Supardi.

Polisi menyita barang bukti berupa baju latihan pelaku dan korban, sabuk warna hitam milik korban, hasil laboratorium forensik RSUD dr Moewardi dan lain-lain. Tersangka dijerat Pasal 80 Ayat (3) UU No. 35/2014 tentang Perubahan Atas UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

”Saat ini proses sudah penyerahan tahap I ke JPU [jaksa penuntut umum]. Yang diserahkan baru berkasnya. Mudah-mudahan segera P21,” ucap Supardi.

Supardi memastikan tidak ada tersangka lain dalam kasus meninggalkan anggota PSHT Gemolong itu. Terkait belum adanya sertifikat kompetensi pelatih pada diri FAS, Supardi menganggap hal itu menjadi catatan negatif bagi pola kepelatihan di tubuh organisasi.

“Yang menunjuk dia sebagai pelatih itu kan ketua Ranting PSHT Gemolong. Seharusnya dia juga ikut bertanggung jawab. Tapi, yang jadi tersangka cukup satu orang karena dia yang terlibat langsung saat latihan,” terang Supardi.

Sumber : Solopos

2019-12-02 19:42:26

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: