Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Headlines, News, Peristiwa Eks Napi Teroris: Bom Bali I Membuka Misteri Rentetan Bom di Indonesia

Eks Napi Teroris: Bom Bali I Membuka Misteri Rentetan Bom di Indonesia

Ali Fauzi, pelaku bom Bali I dan Tita Apriantini, korban bom JW Marriot dalam acara yang diselenggarakan AIDA di Jakarta, Kamis (25/1/2018)(KOMPAS.com/AMBARANIE NADIA)

Sketsanews.com, Jakarta – Mantan narapidana terorisme Ali Fauzi mengatakan bahwa peristiwa Bom Bali I yang terjadi pada 12 Oktober 2002 silam adalah musibah sekaligus anugerah. Menurut Ali, musibah dirasakan bagi para korban dan keluarga korban peristiwa tragis tersebut.

Sedangkan, anugerah bagi Kepolisian RI yang mampu mengungkap jaringan terorisme di Tanah Air. “Lewat Bom Bali I polisi bisa mengungkap rentetan kasus bom di Indonesia,” kata Ali di Hotel Akmani, Jakarta, Sabtu (24/2/2018). Menurut Ali, ada kebuntuan saat bom meledak di depan Kedutaan Besar Filipina, pada Agustus 2000 silam.

Saat itu, polisi masih buta petunjuk siapa dalang di balik aksi terorisme tersebut. “Ada bom Plaza Atrium Senen (2001) dan rentetan bom (lain) di Tanah Air. Itu semua bisa terungkap lewat tertangkapnya kakak saya, Amrozi, Ali Imron, Ali Ghufron, dan lainnya,” kata dia.

Karena itu, adik kandung otak Bom Bali I tersebut mengatakan, bom yang meledak di Paddy’s Pub dan Sari Club di Jalan Legian, Kuta Bali itu adalah pembuka misteri teror bom di dalam negeri. “Bom Bali I jadi pembuka misteri rentetan bom di Indonesia yang kemudian terkuak ada jaringan besar yang berama Jemaah Islamiyah,” kata Ali Fauzi.

“Rentetan bom mulai dari tahun 2000 sampai 2010 itu dilakukan oleh kawan-kawan saya yang ada di Jemaah Islamiyah. Kami khusus dibina, dididik di bidang build engineering dari (bom) skala kecil sampai besar,” ujar dia. Ali pun mengungkapkan penyesalannya telah membuat ratusan orang meninggal dunia dan cacat seumur hidup, karena aksi teror bomnya.

“Ketika pertama kali ketemu korban bom saya agak pesimistis. Karena memang saya pada waktu itu seperti diadili. Saya sempat mundur, saya enggak kuat seperti ini,” tuturnya. “Ada sebagian korban bom yang belum mau menerima saya, menunjuk-nunjuk mata saya, kepala saya. Air mata saya hampir dua piring, saya dengar kisah korban bom, kita semua hanyut dalam tangisan. Proses ini tak mudah,” ucap Ali.  Dikutip dari Kompas.

(Eni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: