Foto Satelit Petobo di Palu Sebelum dan Sesudah Likuifaksi

Warga melintasi jalanan yang rusak akibat gempa 7,4 pada skala richter (SR), di kawasan Kampung Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (2/10). Petobo merupakan kawasan yang mengalami kerusakan paling parah akibat gempa. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/kye/18

Warga melintasi jalanan yang rusak akibat gempa 7,4 pada skala richter (SR), di kawasan Kampung Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (2/10). Petobo merupakan kawasan yang mengalami kerusakan paling parah akibat gempa. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/kye/18

Sketsanews.com, Sulawesi Tengah – Palu, kelurahan Petobo, merupakan salah satu daerah paling parah terdampak gempa bumi. Daerah ini bahkan mengalami fenomena likuifaksi, yang membuat sekitar 744 rumah dan banyak infrastruktur lain tenggelam ditelan lumpur.

Kerusakan parah yang dialami Petobo ini tertangkap oleh Satelit Pleiades milik Prancis. Data gambar yang dikoleksi kemudian diolah oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) bersama lembaga lain, seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Asian Institute of Technology (AIT).

Satelit Pleiades menunjukkan secara jelas dampak likuifaksi di Petobo melalui dua gambar. Tampak gambar pertama, yang diambil pada 6 Juli 2018, memperlihatkan kondisi daerah Petobo sebelum gempa dan likuifaksi terjadi.

Sebelum gempa                                                    Kemudian di gambar kedua, Satelit Pleiades menunjukkan dampak likuifaksi yang membuat tanah berubah menjadi lumpur dan kehilangan kekuatannya. Kondisi itu menyebabkan bangunan serta infrastuktur di atasnya amblas seakan ditelan Bumi.
Gambar kedua diambil pada tanggal 2 Oktober 2018, empat hari setelah gempa bumi 7,4 Magnitudo mengguncang Donggala, Palu, dan daerah sekitarnya.
Sesudah gempa

Menurut penjelasan peneliti bidang Geoteknik LIPI Adrin Tohari, likuifaksi atau pencairan tanah adalah perubahan massa tanah yang kondisinya lepas kemudian bercampur air akibat guncangan gempa sehingga kekuatan tanahnya hilang.

“Ketika kekuatannya (tanah) hilang, dia berubah seolah-olah cairan makanya yang tampak di video itu tanah seolah berubah jadi lumpur yang bergerak,” ujar Adrin saat dihubungi kumparanSAINS, Selasa (2/10).

Adrin mengatakan, likuifaksi terjadi pada tanah yang memiliki kondisi tidak padat atau merupakan tanah gembur. Akibat guncangan gempa, ujarnya, air yang berada di dalam tanah pun naik dan bercampur dengan tanah sehingga kemudian berubah menjadi seperti lumpur.

Sebenarnya bisa dilakukan rekayasa untuk merubah tanah gembur yang berpotensi mengalami likuifaksi dengan menginjeksinya dengan semen.

“Hal ini membuat partikel pasir akan saling mengikat dan berubah menjadi padat. Tapi ini biayanya mahal, karena bisa saja lapisan tanah yang mengalami likuifaksi ketebalannya puluhan meter,” imbuhnya, seperti yang di kutip dari Antara.com

(Air)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: