Sketsa News
 
Home Berita, Berita Terkini, Editorial, News Galileo, Bismillah: Getir Bohemian Rhapsody Freddie Mercury

Galileo, Bismillah: Getir Bohemian Rhapsody Freddie Mercury

Freddie Mercury dan Queen                                                                                   Foto: gitars cult megazine

Sketsanews.com, Jakarta – ‘’Mama just killed a man!’’ Suara melengking ini menjadi lirik pembuka lagu ‘Bohemian Rhapsody’ Farrokh Bulshara yang abadi. Di kancah internasional lagu ini milik band rock kugiran Inggris, Queen.

Penulis lagunya adalah si Farrookh Bulsara yang memilih kemudian mengganti nama menjadi Freddie Mercury pada tahu 1975. Lagu ini membawa sebuah era dalam musik yakni era art rock atau musik progresif. Lagu ada di album grup tersebut, yakni  pada album keempat mereka: A Night at the Opera.

Bagi banyak orang, apalagi bagi anda yang bisa main piano lagu ini sangat menantang. Penuh liku dan tikungan nada yang aneh. Layaknya sirkuit lagu ini merayapi nada dengan kontur jalan dan kelokan membara dalam durasi cukup panjang bagi sebuah lagu pop. (Dalam komposisi lagu ini berdurasi mencapai lebih dari enam menit.)

Ya, lagu itu memang terasa tak umum karena lagu lain biasanya hanya setengahnya atau maksimal empat menit saja. Rekor durasi lagu ini  hanya kalah dengan lagu yang juga tak kalah indah dari legenda grup rock Inggris yang lain, Led Zepelin dengan lagu ’Stairway to heaven’. Lagu yang ditulis gitaris Jimmy Page Jimmy Page dan dinyanyikan Robert Plant itu mampu mencapai lebih dari 8 menit.

Tapi khusus untuk lagu Freddie yang memiliki ‘range’ suara empat oktaf itu, memang ada yang unik. Lagu ini merombak tatanan. Lagu berlirik sederhana ala The Beatles atau membahana ala hard rock ‘The Purple’, melalui lagu  Bohemian Rhapsody itu tiba-tiba seakan kalah pamor. Lagu pop beraliran rock tak lagi harus berjurus kacangan ala tiga jurus, asal kencang, dan mempunyai nada tak lurus memainkan berkelok-kelok bertaburan suara tinggi hingga falseto.

Dan, sama dengan Jmmy Hendrik, lagu tersebut juga sudah ada dalam benak Freddy dalam waktu lama. Nadanya sudah ada dalam benaknya ke mana pun dia pergi.

Yang lebih unik, lagu Bohemian Rhapsody menabrak aturan yang seakan ini telah baku semenjak era musik klasik Ludwig van Beethoven atau Joseph Sebastian Bach. Bila mereka mengenal bila lagu tak boleh selera pasaran atau gado-gado. Freddie dengan Queen pada lagu ini tak mentaatinya. Lagu ini dibuat sengaja tapa chorus. Di awali dengan  intro nada pendek, di sana ada segmen musik balada ala kaum Gypsi, hingga potongan musik opera, raungan gitar serta hentakan ala musik rock, dan dikahiri dengan potongan coda reflektif, dan tidak diakhiri dengan fade out, tapi lagu dihabisi dengan henkakan suara dentumen gong Cina.

Mengutip situs wikipedia, lagu Bohemian Rhapsody,konon dilaporkan sebagai singel  yang biaya produksinya paling mahal yang pernah dibuat pada saat peluncurannya. Meskipun begitu tidak ada yang dapat menyebut berapa biaya yang tepat dari produksi lagu ini.

Nah, dalam film berjudul sama dengan lagu itu, Bohemian Rhapsody, kisah lagu itu dibuat sekaligus kisah pahit getir hidup pembuatnya yakni Freddie Mercury, bisa disaksikan. Film ini menghiasai beberapa layar bioskop ibu kota papan atas pada pekan ini. Kenapa papan atas? Ya karena di bioskop untuk masyarakat kelas menengah ke bawah, film ini hanya bertahan dua hari saja. Kata sesorang penjaga Twenty One di bilangan Blok M, film ini pada Sabtu malam lalu sudah diturunkan.’’Hanya dua hari saja mas. Sudah turun layar,’’ katanya.

Tapi memang takdir asal film itu tampaknya akan seperti nasib lagu itu pada awalnya:  tak disukai pada masa ketika baru direkam, atau disukai bagi orang yang tahu saja. Sama dengan filmnya, lagu Bohemian Rhapsody pun membingungkan. Produsernya tak suka pada lagu ini karena liriknya penuh penggalan frase tak jelas. Lagu ini juga dianggap ‘ngaco’ karena durasinya tak umum karena anak muda  waktu itu dianggap tak tahan mendengarkan lagu yang lebih dari tiga menit ketika mengendari mobil.

‘’Lagi pula apa itu liriknya. Ada kata Galileo, Syakaramuz, ismillah (Freddie Mercury membetulkan ucapan itu dengan menyebut ‘Bismillah’, dengan nama Allah), dan lainnya. Liriknya penuh potongan kalimat tak jelas. Durasi lagunya kepanjangan dan stasiuan tak mau putar lagu yang lebih dari tiga menit. (Stasiun radio Inggris) BBC juga pasti gak mau putar,’’ kata sang manajer ketika membahas lagu itu.

Tapi Freddy (di barat akrab dipanggil dengan menyebut nama belakang: Mercury) dan para anggota bandnya keras kepala. Di kisahkan mereka menolak dan memilih tak membuat album lagi pada sang manajer. Layaknya anak muda yang percaya diri, maka dia menolak mentah-mentah segala saran sang manajer. Freddie dkk memilih ke luar ruangan dan meninggalkan manajer dengan stafnya berapat sendirian.

Tak cukup dengan memilih ke luar, Freddie malah kemudian melempar kaca studio hingga pecah. Freddie mengolok manajer itu, silahkan ganti kaca jendela yang pecah dengan mengambil sebagian uang dari royaltinya pada album Queen terdahulu.

Maka kala itu lagu itu lagu hanya dibiarkan sebagai master rekaman saja. Tapi akhirnya pada suatu kesempatan wawancara dengan Queen lagu itu untuk pertama kali diputar. Dan sebenarnya lagu itu juga bukan menjadi bahasan utama lagu itu, karena Queen diwawancara mengenai album terdahulu yang juga sudah terlanjur hits.

Tapi anehnya, begitu lagu itu diputar, telinga publik terkesima. Mereka kebanjiran permintaan agar lagu itu dputar kembali. Tahu akan hal itu, maka produser kemudian terpaksa merilis singgle lagunya. Tanpa dinyana lagu “Bohemian Rhapsody” meraup sukses. Tak hanya disanjung dengan soal mutu lagu,  secara komersial lagu ini mampu, bertahan di puncak tangga lagu ‘UK Singgle Chart’. Lagu ini pun bisa merajai tangga utama selama sembilan minggu.

Rekor penjualannya juga fantastis. Hingga akhir 1976 kala itu lagu sudah terjual 1 juta copi. Bahkan lima belas yahun kemudian, yakni pada tahun 1991 mencapai nomor satu lagi ketika lagu ini dirilis ulang dan menjadi lagu terlaris ketiga sepanjang masa di Inggris.

Uniknya, lagi lagu ini kembali ke masuk ke tangga lagu nomor dua pada tahun 1992 setelah Freddie Mercury meninggal dunia. Dan pada tahun 1991 film Wayne’s World, yang mengembalikan popularitas lagu ini di Amerika Serikat.

Meskipun reaksi kritikus pada awalnya agak beragam, “Bohemian Rhapsody” tetap menjadi salah satu lagu paling populer Queen dan sering ditempatkan di daftar lagu modern terbaik sepanjang masa. Single ini disertai dengan sebuah video yang banyak ahli menganggapnya sebagai gebrakan. Majalah musiik dunia Rolling menyatakan: “pengaruhnya tidak dapat dilebih-lebihkan, secara praktis telah menciptakan video musik tujuh tahun sebelum MTV mengudara.

Tak hanya itu sensasi berikutnya, pada tahun 2004, “Bohemian Rhapsody” masuk ke dalam Grammy Hall of Fame. Pada tahun 2012, lagu tersebut memuncaki daftar jajak pendapat nasional ITV di Inggris sebagai “Lagu Nomor Satu Favorit Bangsa” sepanjang lebih dari 60 tahun riwayat musik Inggris.

Lalu bagaimana dengan liriknya yang dikatakan penuh penggalan itu? Dahulu ketika berdebat dengan manajer Freddy sempat mengatakan tak mau menjelaskan apa maksud ada detilnya karena itu sebuah puisi. Dia kala itu menyinggung beberapa puisi pujangga Inggris Shakerspeare yang juga tak perlu banyak diterjemahkan. Katanya, biarlah tetap  begitu. Puisi juga begitu.

Mendegar Freddy bicara begitu dan tak mau mengganti atau membuang liriknya, sang gitaris Queen ‘Brain May’ juga bersikap sama. Tak perlu dijelaskan maksudnya secara terbuka. “Itu frasa puisi,’’ujarnya.

Memang selain terdengar lengkingan suara menyebut Galileo dan Bismillah, lirik lagu karya Freddie Mercurie itu juga menyebut frase aneh.  Layaknya kata yang akrab dalam dunia sulap ‘abracadabra’, Freedie juga menuliskan lirik lagu dengan dengan menambahka  frase: Scaramouche, Scaramouche, will you do the fandango. Jadi dalam hal ini memang masuk akal bila prudusernya juga kebingungan.

Dalam hal detil ini ada tulisan yang amat menarik di situs BBC.Commengenai riwayat kelahiran lagu Bohemian Rhapsody itu. Soal seluk beluk lagu ini ditulis seorang kritikus musik di Chicago Tribune, Greg Kot.

Menurutnya, Bohemian Rhapsody merupakan lanjutan dari Killer Queen, single yang menjadi lagu pertama band itu yang masuk dalam top 40 di Amerika Serikat. Lewat album yang dirilis pada paruh pertama tahun 1975 telah membuka jalan bagi Queen untuk melakukan konser tour besar-besaran.

Tak hanya itu, Di dalam menulis lirik, Freddie Mercury memang juga melibatkan kalimat tentang komedi Italia (badut Scaramouche), tarian rakyat Spanyol (fandango), opera-opera karya Rossini dan Mozart (Figaro) dan tempat kelahirannya di Zanzibar (“Bismillah” – “Dengan nama Allah”).

Maka sang manjer menghardiknya bertubi-tubi:

‘Apa kamu sudah sinting?’

Apa arti semua itu?

Namun, Mercury tidak pernah menjelaskan pada mereka yang mewawancarai, apalagi teman-teman bandnya. Dia lebih suka membiarkan para pendengar memutuskan sendiri makna dari lagu tersebut. (Lirik berbahasa Arab juga ada pada  lagu Queen dan Freeddie Mercury yang menyebut mustapha, ibrahim, dan asalmualaikum: lagu Mustapha Ibrahim).

Dan reaksi terhadap perusahaan rekaman yang dimiliki band itu sendiri dapat disimpulkan dengan tiga kata: “Apakah kamu sudah sinting?”. Para eksekutif (priduser) pun sempat berusaha membuat Queen memotong lagu itu agar lebih mudah diterima di radio. Selain itu  agar memperoleh bentuk yang lebih siap untuk dimengerti oleh para pemrogram yang terbiasa dengan single sepanjang tiga menit. Tetapi band itu menolaknya mentah-mentah.

Dan untuk menambahkan gemerlap lagu itu, maka mereka membuat video klip lagu tersebut dengan sikap yang sama ambisiusnya. Bertahun-tahun sebelum MTV membuat video-video yang ditujukan untuk menjual lagu-lagu single, Queen dan sutradara Bruce Gowers sudah mendahuluinya. Mereka membuat karya suatu gabungan antara pertunjukan live dengan efek visual yang melengkapi sensasi getaran lagu itu. Lagu, video, kemegahan dan kemencolokan dari semuanya mengubah Queen menjadi bintang pertunjukan konser rock di sebuah stadion, yakni Wambley di London.

Setelah karya video itu, maka kemudian datanglah sosok bintang film seperti Mike Myers. Aktor itu belakangan mengaku bahwa dia harus berjuang untuk memasukkan Bohemian Rhapsody ke dalam adegan di dalam mobil yang kemudian jadi terkenal itu di Wayne’s World: film itu sudah selesai syuting ketika Mercury meninggal.

Kala itu, sang sutradara Wayne’s World, Penelope Spheeris, ingin menggunakan lagu yang lebih anyar dalam adegan tersebut, tetapi Myers –seperti halnya Queen waktu itu– berkeras, dan mengancam akan mundur jika dia tidak keinginannya itu tak dipenuhi. Benar saja, sikap keras kepala itu berbuah, dan perkataan Wayne pada teman-temannya di dalam mobil di film itu menjadi pertanda kembalinya sosok Queen:

“Saya pikir kita akan mulai dengan sedikit Bohemian Rhapsody, tuan-tuan.”

Atau, seperti yang sering dikatakan Mercury selama rekaman versi asli, “Saatnya untuk menambahkan beberapa Galileo lagi, sayang,” kata Penelope Spheeries.

Nah, dari sanalah dan pengalaman panjang Freddie Mercuri yang lahir di Zanzibar, pernah tinggal di India, dan kemudian tinggal di Inggris membuat lagu itu menjadi bermakna misteri yang abadi. Lagu itu seakan menjadi catatan panjang pahir getirnya penganut agama Zoroaster (Majusi) dan anak diplomat ini.

Dan di akhir hidupnya yang tragis karena mengidap AIDS ternyata Freddie Mercury masih meninggalkan kenangan yang luar biasa.  Uniknya, tak hanya meninggalkan harta yang berlimpah, yang dia wasiatkan untuk diberikan kepada ibu, saudara perempuan, dan seorang perempuan yang sempat menjadi mantan pacar semasa remaja, Freddie Mercury meninggalkan frase ‘Bismillah’ menjadi semakin dikenal di dunia barat. Di London pun misalnya kini kata itu sudah familiar atau sangat berubah jauh di kala dia masih hidup: Islam tak lagi hal asing di Inggris. Bahkan ada yang menyebut London (juga Manchester), dengan sebutan baru Londonistan (karena banyaknya umat Islam di sana).

Akhirnya, pada masa kini itu memang telah lahir melalui sosok copiannya, Ramle Malek, yang menjadi peran utama dalam film dan lagunya itu. Dia memang aktor yang lumayan karena mampu bergerak dengan mimik dan akting seperti Freddie Mercury. Tapi Mercury tetap Mercury dan Malek tetap Malek. Di mana pun maestro seniman memang tak tergantikan.

Maka di situlah Freddie Mercury meninggalkan ‘legacy’ luar biasa! Dan jejak itu terekam pada setiap lagu dan perjalan hidupnya. Dan dia pun telah membuktikan bahwa kalau tidak hati hati ‘hidup hanyalah kepura-puraan besar’ (The Great Pretender).

Dalam sebuah versi dikatakan bahwa Bohemian Rhapsody adalah lagu yang menceritakan seseorang yang akan dieksekusi mati karena telah membunuh seseorang. Ia menuliskan atau lebih tepatnya menceritakan pesan terakhirnya kepada ibunya sendiri untuk menjelaskan kondisinya sekarang.

Namun jika kita mau merenung, meneliti, dan mengkaji lebih mendalam, akan kita temukan kaitan kuat antara lagu tersebut dengan pemaknaan paganisme yang dilakukan Freddie Mercury. Bisa dikatakan lagu Bohemian Rhapsody adalah semacam manifestasi Lucifer dan kekuatan Majusi yang dianut oleh Freddie Mercury sebagai seorang pemeluk Zoroaster.

Nuansa Lucifer akan makin terasa kuat dengan penyebutan mantra yang dikaitkan dengan nama Galileo dalam Bohemian Rhapsody. Galileo Galile sendiri adalah seorang penyempurna teleskop berhaluan illuminati, sebuah gerakan yang dibentuk oleh para ilmuwan penentang kejumudan Gereja di Eropa abad pertengahan namun memendam misi Luciferian dan dipimpin oleh Galileo Galile sendiri.

Arti kata Bohemian dalam Lagu Queen ini sangat terkait erat kepada Bohemian Club (1872) sebagai salah satu sekte paganisme yang muncul di Amerika dan bergerak lewat jalur Underground. Bohemian Club selama dua ratus tahun berdiri adalah bagian dari kelompok penyembah setan.

Ritual Bohemian Club, sendiri didasari akan semangat penyembahan terhadap satanisme. Salah satu ritual member Bohemian Club adalah melaksanakan ritus pagan yang sangat megah di Bohemian Grove dengan cara melakukan Cremation of Care Ceremony, yakni mengorbankan seorang anak dengan cara di bakar hidup-hidup. Acara ini pun secara turin dilakukan tiap tahunnya.

Upacara lainnya yang dilaksanakan para penganut paganisme ini adalah ritus menyembah sebuah patung burung hantu (owl) raksasa setinggi 40 kaki, dan mengorbankan manusia di altarnya. Perwujudan Burung hantu pun kita bisa lihat di uang 1 dollar Amerika tersembunyi dalam sudut mata uang yang tampil dengan lambang mata satu itu.

Maka itu tidaklah heran, bahwa para anggota Bohemian Club di Amerika banyak diisi para pejabat pemerintahan seperti George Bush, Bill Clinton, Richard Nixon, Jimmy Carter, Colling Power, Hendry Kissinger, termasuk mantan Gubernur California saat ini, Arnold Schwarzeneger.

Sejarah kelahiran Bohemian dibentuk pada tahun 1872 oleh 5 orang Jurnalis Amerika. Club ini terletak 75 mil di luar San Fransisco. Perkumpulan ini mempunyai sebuah tempat untuk berkumpul yang diberi nama Bohemian Grove. Luas Grove ini pun tidak main-main yakni mencapai 2700 acres.

Bohemian Club (BC) saat ini sudah berkembang menjadi organisasi bagi orang terkenal dan kaya yang melangsungkan ritualnya selama 2 minggu tiap tahunnya. Akibat geraknya yang rahasia, Kelompok ini pun luput dari perhatian wartawan dan media massa.

Para member Bohemian banyak dari mereka adalah CEO berpengaruh di dunia, orang-orang pemerintah, finance, industri, dan penguasa media berkumpul untuk mendengarkan pidato, propaganda, jaringan, dan saling membagi agenda. Mereka juga mengadakan upacara Druid-like depan patung, lengkap dengan pakaian, api, mantera dan ritual-ritual lainnya.

Lalu apa kaitannya dengan Queen? Freddie Mercury sebagai seorang Zoroaster, tahu betul arti dari Bohemian. Kebiasannya menyembah api sebagai keyakinan seorang Majusi menandakan semangat Lucifer dalam dirinya. Lirik kekuatan Lucifer pun akan sangat terasa dalam lagu Bohemian Rhapsody-nya.

Kita jangan kira bahwa frase bismillah yang dinyanyikan dalam lagu Bohemian Rhapsody memiliki arti ‘dengan menyebut nama Allah’ adalah mutlak mengasosiasikan tentang Islam. Sebab tak lama setelah menyebut Bismillah, Freedie Mercury menyelipkan kata Beelzebub, sebagai sebuah personifikasi iblis dalam keyakinan para bohemian.

Beelzebub sendiri adalah nama yang disebut di dalam Alkitab memiliki kaitan dengan Satan. Sejatinya, Beelzebub atau Beelzebul adalah nama dewa orang Filistin dari kata Ba‘al Zebûb, yang artinya “Dewa Lalat” dan juga digunakan di Perjanjian Baru sebagai sinonim untuk Setan.

Dikatakan bahwa Beelzebub adalah iblis yang menyebabkan kehancuran, dialah yang membuat setan-setan disembah manusia, membuat nafsu berat, dan membuat kecemburuan dalam kota juga pembunuhan, lalu membuat peperangan. Beelzebub juga termasuk tiga Fallen Angels terkenal yaitu, Beelzebub, Lucifer, dan Leviathan. Dia juga mewakili 7 dosa besar yaitu Glutonny atau Kerakusan.

Dalam Perjanjian Salomo, Beelzebul muncul sebagai pangeran dari setan dan mengatakan bahwa ia adalah mantan malaikat surga. Sedangkan dalam Injil Nikodemus, dikatakan bahwa Beelzebul adalah nama sekunder dari Setan.

Akhirnya kita bisa menganalisa bahwa Bohemian Rhapsody adalah ritual dari kepercayaan pagan majusi Freddie Mercury. Kita harus tahu bahwa dalam agama Majusi, mereka memiliki dua buah Tuhan, yaitu Tuhan Kebaikan dan Tuhan Keburukan. Sesuai namanya, dua Tuhan ini pun saling bertentangan. Tuhan kebaikan disebut dengan nama Ahura Mazda. Sedangkan Tuhan Keburukan disebut dengan nama Ahriman. Ahura Mazda selalu bertarung dengan Ahriman sebagai penguasa kegelapan. Hingga pada perkembangannya, Ahriman diadopsi orang-orang Ibrani sebagai setan, Iblis, Azazil, atau Lucifer.

Oleh karena itu, pada suatu versi lainnya diceritakan bahwa Bohemian Rhapsody sendiri adalah lagu yang menceritakan seseorang yang miskin (I am just a poor boy) yang akan dihukum mati (Open your eyes Look up to the skies and see) untuk mempertanggung-jawabkan perbuatannya yang konon karena membunuh (just killed a man, Put a gun against his head, Pulled my trigger, now his dead). Tapi dia tidak ingin ada orang yang kasihan kepadanya (I need no sympathy). Dan kemudian dia membaca mantra agar dibebaskan dari hukumannya dan meminta pertolongan dari Ahura Madza (Bismillah) dan juga Tuhan Keburukan (Beelzebub/Ahriman).

Jadi, penyebutan nama Allah oleh Freddie Mercury jelas sama sekali tidak menggambarkan Allah, tapi lebih kepada doktrin Majusi, Lucifer, paganisme, tentang pertarungan dalam kehidupan Freddie sendiri. Secara logika jua, kita bisa berfikir bagaimana mungkin seorang Majusi justru mendakwahkan Islam lewat lagunya. (As)

sumber : republika

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: