Harga Minyak Mulai Naik

Foto: istimewa

Foto: istimewa

Sketsanews.com, New York – Harga minyak naik pada penutupan perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), menjelang liburan Hari Kemerdekaan AS, setelah turun tajam sehari sebelumnya, karena data terbaru mengurangi kekhawatiran investor atas kelebihan pasokan.

Sehari sebelumnya harga minyak jatuh lebih dari empat persen, setelah kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi global melebihi keputusan OPEC dan sekutunya untuk memperpanjang pengurangan produksi minyak mentah, seperti dikutip dari Antara.

Untuk pekan yang berakhir 28 Juni, persediaan minyak mentah komersial AS turun 1,1 juta barel dari minggu sebelumnya, kata Badan Informasi Energi AS (EIA) pada Rabu (3/7/2019).

Dengan 468,5 juta barel, persediaan minyak mentah AS sekitar lima persen di atas rata-rata lima tahun untuk tahun ini, kata pemerintah.

Penguatan di pasar ekuitas AS dan data yang menunjukkan perusahaan energi AS minggu ini mengurangi jumlah anjungan (rig) minyak yang beroperasi untuk pertama kalinya dalam tiga minggu, juga membantu mendukung harga minyak.

Masing-masing indeks saham utama AS berakhir pada rekor penutupan tertinggi, karena meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mengambil kebijakan yang lebih dovish menyusul serangkaian data yang memberikan lebih banyak bukti ekonomi melambat.

Pengebor minyak AS memotong lima rig minyak dalam pekan yang berakhir 3 Juli, sehingga jumlah totalnya turun menjadi 788 rig, kata perusahaan jasa energi General Electric Co. Baker Hughes dalam laporannya yang diawasi dengan cermat. Rekor produksi minyak mentah AS telah menekan harga selama setahun terakhir.

Minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus naik 1,09 dolar AS atau 1,9 persen, menjadi menetap pada 57,34 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara minyak mentah Brent untuk pengiriman September naik 1,42 dolar AS atau 2,3 persen, menjadi ditutup pada 63,82 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.

Pada Selasa (3/7/2019), kedua harga acuan minyak mentah jatuh lebih dari empat persen di tengah kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi global.

Keuntungan berkurang setelah data menunjukkan persediaan minyak mentah AS hanya turun 1,1 juta barel dalam minggu terakhir, jauh lebih sedikit dari yang diperkirakan analis untuk penurunan 3,0 juta barel.

“Pasar kecewa dengan penarikan persediaan minyak mentah yang sangat kecil. … Satu-satunya tanda kekuatan di pasar adalah penurunan persediaan bensin yang berkelanjutan,” kata Andrew Lipow, presiden Lipow Oil Associates di Houston.

Bensin berjangka AS memimpin kompleks energi, naik sekitar 2,5 persen menjadi 1,9167 dolar AS per galon.

“Kami mengalami koreksi yang cukup tajam kemarin, jadi setelah itu sedikit rebound seperti yang diharapkan. Secara global, pasar mengkhawatirkan potensi pelemahan pertumbuhan permintaan minyak,” kata Olivier Jakob dari Petromatrix Consultancy.

Volume perdagangan melemah menjelang liburan Empat Juli AS pada Kamis. Sekitar 573.076 lot kontrak berjangka minyak mentah AS untuk bulan depan diperdagangkan pada pukul 14.45 (18.45 GMT), sekitar 65,2 persen dari volume sesi sebelumnya.

Pada Selasa (3/7/2019), Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan produsen lain seperti Rusia, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, sepakat untuk memperpanjang pengurangan pasokan minyak hingga Maret 2020.

“Memperpanjang pemotongan enam atau sembilan bulan, tidak masalah jika levelnya tetap sama,” kata Jakob. “Jika Anda benar-benar ingin menargetkan level stok, Anda akan perlu pemangkasan yang lebih dalam, tetapi Arab Saudi telah melampaui target pemangkasannya.”

Perjanjian OPEC+ akan menarik persediaan minyak di paruh kedua, mendorong harga minyak, analis dari Citi Research mengatakan dalam sebuah catatan.

“Menjaga pemotongan hingga akhir kuartal pertama bertujuan untuk menghindari menempatkan minyak ke pasar selama musim rendah untuk permintaan dan kilang yang beroperasi,” kata mereka.

Namun, tanda-tanda perlambatan ekonomi global yang memukul permintaan minyak membuat investor khawatir setelah indikator manufaktur global mengecewakan dan Amerika Serikat mengancam Eropa dengan tarif yang lebih tinggi.

Defisit perdagangan AS melonjak ke level tertinggi lima bulan pada Mei dan Laporan Ketenagakerjaan Nasional ADP menunjukkan penambahan pekerjaan swasta meningkat jauh lebih sedikit dari yang diperkirakan para ekonom.

Barclays memperkirakan permintaan minyak akan tumbuh pada laju paling lambat sejak 2011. Morgan Stanley menurunkan perkiraan harga jangka panjang Brent menjadi 60 dolar AS per barel dari 65 dolar AS per barel, dan mengatakan pasar minyak secara luas seimbang.

Harga minyak mentah juga tertekan oleh tanda-tanda pemulihan ekspor minyak dari Venezuela pada Juni dan pertumbuhan produksi minyak di Argentina pada Mei.
(Eni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: