Harga Minyak Stabil meski Diterpa Sentimen Nuklir Iran

Foto: istimewa

Foto: istimewa

Sketsanews.com, Jakarta – Harga minyak mentah relatif stabil pada perdagangan Senin (8/7), waktu Amerika Serikat (AS). Tensi yang memanas akibat program nuklir Iran mampu mengimbangi kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

Dilansir dari CNNIndonesia, Selasa (9/7), harga minyak mentah berjangka Brent turun US$0,12 menjadi US$64,11 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) naik US$0,15 menjadi US$57,66 per barel.

Harga minyak cenderung menanjak sepanjang sesi perdagangan, namun kemudian melemah menjelang penutupan.

“Kekhawatiran terkait apa yang terjadi di Teluk Persia terus mendorong sedikit permintaan di pasar. Namun, tanpa perkembangan baru yang signifikan pasar turun kembali ke level tetap,” ujar Wakil Kepala Riset Pasar Tradition Energy Gene McGillian di Stamford.

Menurut McGillian, kekhawatiran terhadap pertumbuhan permintaan menahan kenaikan harga minyak.

Pada Senin (8/7) kemarin, Iran mengancam akan mengaktifkan kembali program nuklirnya dan mengerek pengayaan uraniumnya menjadi 20 persen. Hal itu mengancam perjanjian nuklir 2015 yang telah ditinggalkan AS tahun lalu.

Gedung Putih telah mengenakan sanksi kepada Iran terkait program nuklirnya. Hal itu mengurangi keuntungan Iran jika menyetujui untuk memangkas program nuklirnya sesuai perjanjian nuklir 2015 dengan berbagai negara maju dunia. Konfrontasi itu membuat hubungan antara AS dan Iran memanas dan mendekati konflik.

Pada Minggu (7/7), Presiden AS Donald Trump memberikan peringatan lagi kepada Iran atas aktivitas nuklirnya.

“Mereka (Iran) sebaiknya berhati-hati,” ujar Trump.

Di hari yang sama, Menteri Perminyakan Iran Bijan Zanganeh melalui stasiun TV lokal menyatakan ia berharap ada perbaikan pada ekspor minyak mentah negaranya.

“Kami melihat cukup kemungkinan terjadi konflik militer untuk menjadi bantalan penurunan harga minyak baru yang mungkin terjadi akibat menumpuknua ekspektasi akan terjadi perlambatan pertumbuhan perekonomian global,” ujar Pimpinan Ritterbusch & Associates Jim Ritterbusch dalam catatannya.

Sementara itu, harga minyak tetap berada di bawah tekanan akibat kekhawatiran terhadap permintaan seiring perang dagang AS-China yang menekan pertumbuhan ekonomi global.

Salah satu sinyal perlambatan tersebut ditandai dengan pesanan mesin-mesin inti Jepang pada Mei 2019 lalu yang turun untuk pertama kalinya dalam empat bulan terakhir. Kemerosotan tersebut juga merupakan penurunan bulanan terbesar dalam delapan bulan terakhir. Kondisi itu menjadi sinyal yang mengkhawatirkan bahwa tensi perdagangan global berdampak pada investasi korporasi.

Lebih lanjut, Goldman Sachs menyatakan pertumbuhan produksi minyak shale AS kemungkinan akan melampaui pertumbuhan permintaan global setidak hingga 2020. Hal itu juga membatasi kenaikan harga minyak meski Organisasi Negara Pengekspor Minyak Dunia menjalankan kebijakan pemangkasan produksi minyak.
(Eni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: