Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Ekonomi & Bisnis, Headlines Kritik Pedagang Terhadap Penetapan HET Beras, Nyelekit Banget!

Kritik Pedagang Terhadap Penetapan HET Beras, Nyelekit Banget!

Ilustrasi (Dok.JawaPos.com)

Sketsanews.com, Banyuasin — Penetapan harga eceran tertinggi (HET) beras medium Rp 9.450 dan beras premium Rp13.800 membuat pedagang resah. Alasannya, mereka sulit mendapatkan untung dengan batasan harga jual tersebut.

Koko, pedagang beras di pasar kalangan Mega Asri, mengatakan, modal untuk beli beras premium berkisar Rp11.500 hingga Rp12.500 per kilogram (kg).

“Kalau jualnya dibatasi, sulit dapat untuk lebih,” katanya seperti dikutip Sumatera Ekspres (Jawa Pos Group), Sabtu (26/8).

Keresahan Koko karena kebanyakan pedagang mengambil keuntungan penjualan beras tak sampai 10 persen dari modal. “Rata-rata sekitar 7 persen,” ungkapnya.

Pernyataan senada diungkap Zul, pedagang di Pasar Km 5. Katanya, sulit untuk menerapkan HET beras karena biaya produksi saja sudah cukup besar. Belum lagi, persaingan di pasar tradisional cukup ketat.

Masyarakat tentunya membeli beras dengan harga lebih murah. “Jika di toko kami menjual mahal sedikit saja, pembeli akan cari toko lain yang jual beras lebih murah,” cetusnya.

Karena itu, kebanyakan harga beras yang dijajakan pedagang tradisional relatif hampir sama. “Intinya kami sulit, kalau modal mahal bagaimana mau menetapkan HET lagi,” pungkasnya.

Petani sendiri tidak banyak mendapat manfaat dari penetapan HET. Joko,
petani padi di Desa Sumber Marga Telang, Kabupaten Banyuasin, mengatakan bahwa penetapan HET beras medium dan premium tidak berpengaruh kepada petani.

“Tidak ada pengaruhnya untuk kami petani,” tegasnya.

Menurutnya, dengan harga gabah kering giling petani hanya dihargai Rp3.800/kg. Sementara beras kalau dijual Rp5.800-Rp6.000/kg.

“Bedanya hanya dua ribu dan mayoritas petani jual gabah, bukan beras,” tuturnya.

Itu pun hanya sedikit yang dibeli Bulog. Sisanya, dijual kepada tengkulak yang berani ambil dalam jumlah banyak. Ia menyatakan, yang mungkin dapat untung dari kebijakan itu adalah perusahaan yang memiliki label. Beras dari petani bisa dijual sesuai HET.

(Ad)

%d blogger menyukai ini: