Sketsa News
Home Berita Terkini, Editorial, Headlines Membuka Tabir bahwa Umat Islam adalah Umat yang Paling Toleran

Membuka Tabir bahwa Umat Islam adalah Umat yang Paling Toleran


Sketsanews.com, Jakarta – Tuduhan miring sering dialamatkan kepada umat Islam akhir-akhir ini. Apalagi pasca aksi 212, tuduhan tersebut semakin santer bahwa umat Islam adalah radikal, tidak Pancasilais dan intoleran.

Sebenarnya tuduhan tersebut sudah ada sejak lama bahkan tidak hanya terjadi di Indonesia namun sudah merambah ke penjuru dunia. Lantas sesungguhnya apa yang dimaksud dengan istilah toleransi itu sendiri dan benarkah umat Islam merupakan kelompok yang intoleran sebagaimana dituduhkan oleh beberapa tokoh masyarakat dan organisasi.

Menurut Deklarasi Prinsip-Prinsip Toleransi UNESCO dinyatakan bahwa toleransi adalah rasa hormat, penerimaan, dan penghargaan atas keragaman budaya dunia yang kaya, berbagai bentuk ekspresi diri, dan cara-cara menjadi manusia. Toleransi adalah kerukunan dalam perbedaan.

Sullivan, Pierson dan Marcus sebagaimana dikutip Saiful Mujani, menjelaskan toleransi didefinisikan sebagai a willingness to put up with those things one rejects or opposes, yakni “kesediaan untuk menghargai, menerima atau menghormati segala sesuatu yang ditolak atau ditentang oleh seseorang” (Saiful Mujani, 2007: 162).

Benyamin Intan dalam bukunya “Public Religion and the Pancasila-Based State of Indonesia” mengutip David Little membagi pengertian toleransi dalam dua bagian: Pertama, dalam devinisinya yang minimal, yaitu jawaban pada seperangkat kepercayaan, praktik atau atribut yang pada awalnya dianggap sebagai menyimpang atau tidak bisa diterima, dengan ketidaksetujuan, tetapi tanpa menggunakan kekuatan atau paksaan”.

Kedua, dalam bentuknya yang paling kuat, toleransi dapat didefinisikan sebagai sebuah jawaban kepada seperangkat kepercayaan, praktik atau atribut, yang awalnya dianggap sebagai menyimpang atau tidak bisa diterima, dengan ketidaksetujuan yang disublimasi, tetapi tanpa menggunakan kekuatan atau paksaan.

Dengan demikian sikap toleran bukan hanya membutuhkan kesadaran, tetapi juga semangat, gairah, perjuangan dalam bersikap demi hidup bersama yang lebih baik.

Berdasarkan definisi toleransi tersebut, marilah kita coba lihat benarkah Islam tidak punya rasa atau sikap toleran terhadap kelompok lainnya. Dan siapakah sejatinya yang punya jiwa toleran, Pancasilais dan lain sebagainya.

Sungguh sangat agung apa yang diungkapkan oleh HAMKA tentang toleransi ketika membantah pendapat Arnold Mononutu dalam sidang untuk menentukan apa landasan negara Indonesia. Menurut Arnold bahwa umat Kristen akan menjadi umat kelas dua apabila Indonesia berlandaskan Islam.

HAMKA mengatakan bahwa tidak ada maksud untuk menurunkan derajat atau kedudukannya di kelas satu yang sudah lama dicapai sejak penjajahan kolonialisme Belanda, namun umat Islam hanya ingin naik ke kelas satu jangan di kelas dua, tiga atau empat.

Selain itu dia menambahkan bahwa meskipun Islam berkuasa tetap masih menghargai para ahli baik di bidang politik. Sebagaimana di Syiria dengan tokoh politik Faris Al Khouri seorang Kristen yang pernah menjabat Ketua Dewan Keamanan PBB.

Demikian gambaran tentang sikap toleransi yang dimiliki oleh umat Islam. Dan contoh yang paling bagus adalah tatkala aksi 212 berlangsung kemudian ada pasangan pengantin Kristen yang ingin melakukan prosesi pernikahan di gereja namun oleh peserta aksi dikasih jalan bukan malah dihalang-halangi apalagi diganggu.

Jadi masihkah belum yakin kalau umat Islam adalah Umat yang paling toleran.

(jp)

%d blogger menyukai ini: