Sketsa News
Home Editorial, Headlines Penista Agama Bisa Hidup Bebas di Negara Pancasila

Penista Agama Bisa Hidup Bebas di Negara Pancasila

Joshua Suherman (Instagram/Joshua)

Sketsanews.com, Jakarta – Kasus penistaan agama sangatlah marak di Indonesia. Kasus ini menjadi sangat ramai diperbincangkan tatkala gubernur petahana Ahok mengatakan jangan mau dibohongi sama al Maidah 51 ketika melakukan kunjungan ke pulau Seribu. Sebenarnya kasus ini terjadi bukan saja akhir-akhir ini namun sudah terjadi beberapa tahun yang lalu.

Sebelum kasus Ahok dan Desmond J Mahesa, beberapa kasus penistaan agama telah terjadi dan pelakunya harus menjalani masa hukuman. Berikut lima kasus penistaan agama yang pernah terjadi di Indonesia yang diambil dari berbagai sumber :

Lia Aminudin atau Lia Eden

Pada 1998, Lia menyebut dirinya Mesias yang muncul di dunia sebelum hari kiamat untuk membawa keamanan dan keadilan di dunia. Selain itu, dia juga menyebut dirinya sebagai reinkarnasi Bunda Maria, ibu dari Yesus Kristus. Lia juga mengatakan bahwa anaknya, Ahmad Mukti, adalah reinkarnasi Isa.

Lia dijebloskan ke penjara dua kali. Pertama pada Juni 2006, divonis dua tahun karena terbukti menodai agama dan tiga tahun kemudian pada 2009 juga dengan alasan yang sama setelah polisi menyita ratusan brosur yang dinilai menistakan agama.

Arswendo Atmowiloto

Penulis dan wartawan Arswendo Atmowiloto harus merasakan menginap di hotel prodeo selama empat tahun enam bulan karena dinilai bersalah telah menistakan agama.

Kasus ini terjadi pada tahun 1990. Kala itu, Arswendo menjabat sebagai pemimpin redaksi Tabloid Monitor. Arswendo masuk penjara karena Tabloid Monitor memuat hasil jajak pendapat tentang tokoh yang disuka pembaca Tabloid Monitor. Dalam survei tokoh pilihan pembaca tersebut, Presiden Soeharto kala itu berada di tempat pertama sementara Nabi Muhammad di urutan ke-11. Survei ini menimbulkan kemarahan umat islam.

Gafatar

Dalam kasus Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri menetapkan tiga tersangka yaitu Musaddeq yang mengaku sebagai nabi, Andre Cahya sebagai Presiden Negeri Karunia Semesta Alam dan Mafhul Muis Tumanurung selaku Wakil Presiden. Ketiganya dijerat dengan pasal penistaan agama 156 KUHP, Pasal 110 tentang Pemufakatan untuk makar dan Pasal 64 tentang perbuatan berlanjut. Kini berkas ketiganya sudah diserahkan ke Kejaksaan Agung guna proses lebih lanjut.

Tajul Muluk alias Haji Ali Murtadho

Pemimpin syiah di Kabupaten Sampang, Jawa Timur, Haji Ali Murtadho alias Tajul Muluk dihukum dua tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Sampang pada 12 Juli 2012. Tajul Muluk didakwa melakukan penodaan dan penistaan agama dan menyebarkan ajaran sesat.

HB Jassin

Sastrawan HB Jassin banyak dikritik setelah menerbitkan cerita pendek Langit Makin Mendung karena penggambaran Allah, Nabi Muhammad dan Jibril dan menyebabkan kantor majalah Sastra di Jakarta diserang massa. HB Jassin telah meminta maaf namun tetap diadili karena penistaan dan dijatuhi hukuman percobaan selama satu tahun.

Namun pasca kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok justru semakin banyak bermunculan penista agama. Kita lihat kasus yang masih hangat yaitu penistaan agama oleh Ge Pamungkas dan Joshua Suherman. Mereka melakukan penistaan agama dalam materi lawakannya. Padahal kalau melihat pelawak tempo dulu tidak pernah ada yang melakukan penistaan agama.

Pertanyaan yang muncul adalah kenapa kasus penistaan agama sering kali muncul dan para pelaku hidup bebas di negara yang berdasarkan pada Pancasila dimana sila pertama berbunyi ketuhanan yang Mahaesa.

Mari kita coba lihat bagaimana ulasan the founding father Negeri ini yaitu Presiden Ir. Soekarno dalam menafsirkan ketuhanan yang Mahaesa. Soekarno menjelaskan bahwa ketuhanan yang dipakai disini bermakna religious dimana sudah ada dan menjadi jiwa bangsa Indonesia sejak jaman dahulu.

Kenapa demikian, kemudian dia memberikan alasan bahwa rakyat Indonesia pada waktu itu masih hidup bertaraf agraris, sebagai petani. Sebagai bangsa agraris tentu religius namun apabila bangsa itu sudah berkembang dan maju banyak yang meninggalkan religious. Ini bisa ditemukan dalam pidato presiden Soekarno pada Gerakan Pembela Pancasila pada tanggal 17 Agustus 1945.

Kemudian berdasarkan ceramah Soekarno tersebut Moh Natsir dalam sidang penentuan landasan negara Indonesia di depan ketua sidang konstituante membuat kesimpulan bahwa seseorang yang masih hidup dalam taraf agraris mereka masih perlu tuhan namun apabila sudah mencapai taraf industrialisme maka sudah tidak perlu lagi kepada tuhan.

Jadi wajar apabila para penista agama masih bisa hidup bebas di Indonesia karena rakyat Indonesia sudah bukan lagi hidup bertaraf agraris yang notabene meninggalkan tuhan atau agama.

Dan yang tidak kalah pentingnya adalah hukum yang berlaku kurang tegas dan masih tidak adil dalam penanganan kasus. Sebagai buktinya adalah apabila yang melakukan itu orang Islam maka segera dikejar dan ditangkap kemudian akan diadili dengan tuduhan yang dipaksakan.

Kalau mau bercermin kepada kasus Salman Rusdie yang menulis novel ayat-ayat setan, dia diancam dengan hukuman mati. Bagaimana dengan Indonesia. Mereka paling banter dikenakan sanksi hukuman 4 tahun. Kenapa tidak berani menetapkan hukuman mati? Yang akan membuat jera bagi pelakunya. Jawabnya karena negara ini berdasarkan pada Pancasila. Inilah yang membuat mereka bebas berkeliaran di Indonesia.

(jp)