Sketsa News
Home Berita Terkini, Editorial, Headlines Hoax dalam Lingkaran Perang Proxi

Hoax dalam Lingkaran Perang Proxi

Ilustrasi berita hoax (foto: Okezone)

Sketsanews.com, Jakarta – Berita Hoax memenuhi headline di berbagai media online. Berita hoax inilah merupakan salah satu sarana yang paling ampuh menjatuhkan lawan-lawannya. Apalagi saat ini Indonesia sedang menghadapi proxy war.

Sebagaimana yang kita ketahui, menjelang Pilkada serentak 2018 ini, Indonesia menghadapi ancaman yang bersifat tradisional maupun non tradisional. Ancaman yang bersifat tradisional seperti konflik bersenjata, namun ancaman yang paling banyak adalah yang bersifat non tradisional atau yang dikenal dengan istilah proxy.

Merujuk pada situsweb Online Oxford English Dictionaries, proxy war atau perang proksi dapat diartikan sebagai suatu perang yang dilakukan oleh dua atau lebih kekuatan besar namun kekuatan-kekuatan tersebut tidak bersentuhan satu sama lain secara langsung. Sementara itu, mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo mendefinisikan perang proksi sebagai sebuah konfrontasi antara dua kekuatan besar dengan menggunakan pemain pengganti, untuk menghindari konfrontasi secara langsung dengan alasan untuk mengurangi risiko konflik yang fatal.

Gatot Nurmantyo menjelaskan bahwa perang proksi biasanya memanfaatkan jasa pihak ketiga. Adapun yang bertindak sebagai “pihak ketiga” biasanya adalah negara kecil, namun kadang-kadang bisa juga berupa non-stateactors seperti LSM, organisasi kemasyarakatan, kelompok masyarakat, atau pun perorangan.

Dalam praktiknya, sang “pihak ketiga” dilibatkan dengan menggunakan taktik dan strategi tertentu, di antaranya melalui dukungan terbuka dan terang-terangan atau bisa juga dilakukan secara rahasia.

Menurut mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, perang proksi khususnya di Indonesia dapat berwujud dalam beragam bentuk. Bentuk perang proksi di Indonesia yang terlihat paling jelas adalah gerakan separatis yang ingin memisahkan diri dari NKRI. Selain separatis, perang proksi di Indonesia juga menjelma dalam bentuk demonstrasi massa, sistem regulasi yang merugikan, terorisme, peredaran narkotika, dan bentrok antarkelompok.

Bahkan, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu ikut menambahkan bahwa ditumbuhkembangkannya kelompok Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender (LGBT) di Indonesia termasuk bentuk upaya perang proksi untuk menghancurkan generasi muda Indonesia.

Dan hal ini tidak lepas dari peran media untuk melancarkan propaganda dalam rangka mengalahkan lawan-lawannya. Misalkan pada saat pemilihan presiden Amerika Serikat beberapa waktu yang lalu.

Menurut Eric Hoffer, propaganda itu bukan untuk menipu masyarakat namun hanya membantu masyarakat tertipu. Seorang ahli propaganda bisa menemukan impulse tersembunyi sebagian orang, memberinya simulasi, dan akhirnya bergerak militan membela atau menyerang hal sesuai dengan yang diinginkan sang dalang propaganda.

Itulah yang kini tengah marak di dunia media sosial (medsos) Amerika Serikat. Betapa banyaknya ruang gelap di sana. Betapa banyaknya propaganda.

Betapa banyaknya akun, isu, dan pedebatan yang ternyata direkayasa. Bahkan keseluruhan kerja propaganda itu bisa mempengaruhi hasil akhir pemilu presiden yang memenangkan Donald Trump.

Menurut sumber media “Guardian” bahwa kemenangan Donald Triumph itu lebih banyak dipengaruhi oleh intelijen Rusia. Hal ini dibuktikan dengan adanya ratusan akun di Reddit ternyata akun palsu belaka. Ketika dilacak, akun itu sangat dicurigai bagian dari kerja intelijen Rusia.

Ahli intelijen Amerika Serikat mengatakan bahwa untuk mempengaruhi pemilu presiden di Amerika Serikat, ini yang dilakukan oleh Rusia.

Pertama, menemukan isu yang paling bisa membantu kemenangan Trump dan citra buruk Hillary Clinton. Ditemukanlah aneka isu. Ada isu yang mencekam sebagian besar pemilih Amerika Serikat: ancaman Islam dan ketakutan akan terorisme.

Kedua, menemukan segmen masyarakat atau grup yang paling mudah dipengaruhi oleh isu tersebut. Program algoritma komputer sudah canggih dan sampai di level itu.

Maka masuklah kerja intelijen dalam jaringan virtual segmen pemilih yang rentan. Bahkan jika jaringan virtual untuk itu belum terbentuk, kerja intelijen bisa membentuknya.

Guardian misalnya telah menemukan aneka grup virtual hasil rekayasa. Ada grup antiimigran, Secured Borders, yang diikuti 133 ribu follower.

Ada grup Being Patriotic yang mengeritik pengungsi. Ada grup LGBT united atau Blackactivist soal isu homo dan gerakan kulit hitam.

Ketiga, menciptakan akun palsu untuk sebar berita. TIME magazine misalnya menemukan akun seorang ibu rumah tangga Amerika Serikat berusia 42 tahun. Ia aktif memberikan opini politik.

Keempat, menciptakan aneka akun untuk membuat isu menjadi viral. Isu apapun yang dianggap punya efek elektoral mudah saja diviralkan melalui jaringan media yang sudah dirancang.

Mari kita coba lihat bagaimana Indonesia. Menjelang proses Pilkada Serentak 2018 dan Pilpres 2019 begitu banyak isu yang terjadi. Mulai dari isu ujaran kebencian atau Saracen, LGBT, isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia dan yang lagi marak adalah penganiayaan aktivis oleh orang gila dan MCA (muslim cyber army).

Belajar dari kasus yang terjadi di Amerika Serikat, maka bisa jadi ada pihak-pihak lain yang ikut bermain dalam berbagai kasus yang terjadi di Indonesia. Tersebarnya berita hoax di media sosial ini hanya menambah persoalan yang tidak kunjung padam.

Sebagai kesimpulan adalah hoax yang beredar di beberapa media sosial merupakan bagian dari perang proksi. Mereka beranggapan bahwa cara inilah yang paling ampuh untuk menjatuhkan lawannya.

(jp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: