Indonesia Kotak Suara Kardus di Gembok, Denmark Kotak Suara Sampah Tanpa Gembok

Foto : istimewa

Foto : istimewa

Sketsanews.com, Jakarta – Baru saja saya mendapat kabar dari senior saya di kampus, Bang Djoker biasa disapa bahwa kawan letingnya di Denmark baru saja melaksanakan pesta hari ini (05/06/2019).

Pesta yang berbeda dengan Indonesia. Denmark baru saja melaksanakan pesta demokrasi. Indonesia pesta kemenangan hari raya iedul fitri bagi umat islam.

Bukan saja pestanya yang berbeda. Tampilan fisik kotak suara pun beda. Di Denmark dengan rasio PDB nya $62.000 per kapita hanya menggunakan kotak suara sampah tanpa gembok.

Primitif istilah senior saya. Kalah dengan Indonesia yang pake kardus dan digembok. Jangan tanya PDB perkapitanya.

Nama senior saya itu, lengkapnya Doktor Yusra Habib Abdul Gani,( pria dalam inzet foto).

Pria warga negara Denmark berdarah Aceh ini baru saja melaksanakan hak konstitusinya mencoblos untuk memilih perdana menteri pada pemilu 2019.

Perjalanan singkat karier akademisnya Bang Yusra menarik. Gelar kesarjanaannya di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Jakarta. Gelar master dalam ilmu politik diraih pada saat lama bermukim di negara Skandinavia selama konflik Aceh sebelum akhirnya memutuskan menetap di Denmark.

Sedangkan studi doktoralnya malah ditempuh tidak linier di bidang hukum tapi di bidang sejarah dan baru diselesaikan pada tahun 2016 di Universitas Kebangsaan Malaysia. Ia mampu mempertahankan disertasinya yang berjudul “Sejarah Perjuangan Mendaulatkan Negara Islam Aceh 173-2005”.

Karena ia mampu mempertahankan disertasinya. Meminjam bahasa Pak SBY tidak elok kalau saya teruskan perihal disertasinya. Baiknya kita bercermin pada kotak suara mirip bak sampah di negara kaya itu. Kok bisa?

Denmark yang mayoritas negaranya kristiani adalah negara paling maju di antara negara Skandinavia. Memilih konsensus pada keputusan tertinggi rakyat. Memilih sistem negara Monarki Konstitusi dan sistem pemerintahan federal. Kunci rahasianya adalah kedisiplinan dan Kejujuran tiap warganya. Last but not least para pemimpinnya. (Gs)

 

sumber : teropongsenayan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: