Ingin Bebaskan Sandera, Negosiator Berpengalaman Malah Disiksa Hizbullah

Sketsanews.com – Tepat 33 yang lalu, Utusan Khusus Uskup Agung Gereja Anglikan Terence Hardy “Terry” Waite yang ditugaskan membicarakan proses pembebasan sejumlah sandera di Beirut, Lebanon termasuk John McCarthy, jurnalis United Press International Television News. Tapi, Terry Waite malah ikut disandera.

Foto: Terry Waite dikelilingi pengawalnya saat berada di Beirut (AFP)
Foto: Terry Waite dikelilingi pengawalnya saat berada di Beirut (AFP)

McCarthy diculik saat meliput perang saudara yang melanda Lebanon pada 1968. Ini merupakan penugasan pertamanya ke luar negeri. Pada hari terakhir di Beirut, mobil yang ditumpangi McCarthy ke bandara dicegat. Layaknya sebuah film, seseorang bersenjata lengkap dari kelompok Hizbullah menariknya dari dalam mobil.

Seminggu sebelum penculikan McCarthy, kelompok bersenjata ini juga menyandera Brian Keenan, seorang warga negara Irlandia yang mengajar bahasa Inggris di American University di Beirut. Setelah masing-masing ditempatkan dalam sel isolasi, keduanya ditempatkan dalam ruang tahanan yang sama.

Mereka termasuk di antara 15 orang asing, termasuk sembilan orang Amerika Serikat yang disandera di Lebanon. Sandera yang paling lama ditahan adalah Terry Anderson, kepala koresponden Timur Tengah untuk The Associated Press. Anderson diculik pada 16 Maret 1985.

Penculikan atas McCarthy menimbulkan kehebohan di tanah Inggris. Kekasihnya, Jill Morell, membuat kampanye Friends of John McCarthy. Ini membuat sejumlah pihak berinisiatif membantu pembebasan McCarthy termasuk Gereja Anglikan yang kemudian mengutus Terry Waite.

Waite bukan orang baru dalam soal negosiasi sandera di wilayah-wilayah konflik. Bekas tentara ini pada 1981 pernah menemui pemimpin spiritual Iran Ayatollah Ruhollah Khomeini untuk menegosiasikan pembebasan Iraj Kalimi Mottahedeh, seorang imam Gereja Anglikan di Esfahan, Iran dan beberapa rohaniwan lainnya.

Sikap ceria dan kemampuannya berkomunikasi dengan simpatik membuat operasi pembebasan itu berhasil. Anak polisi ini juga terlibat dalam pembebasan empat warga negara Inggris di Libya pada 1984. Waite bahkan bisa bertemu langsung dengan pemimpin Libia, Muammar Khadafi terkait upaya pembebasan tersebut.

Ingin Bebaskan Sandera, Negosiator Berpengalaman Malah Disiksa HizbullahFoto: Waite bertemu pemimpin Libia, Kolonel Muammar Khadafi pada 1984 (AP)

Dia mengatakan ada beberapa “kunci” untuk menegosiasikan pembebasan sandera yakni membangun relasi personal, mendengarkan sudut pandang pihak lain, dan akal sehat. “Saya tidak memaafkan penyanderaan dan saya tidak memaafkan terorisme. Tetapi ada alasan mengapa orang melakukan hal-hal ini dan saya pikir kita harus mencoba memahaminya,” katanya seperti yang dikutip Associated Press.

Nampaknya peruntungannya berubah saat membebaskan McCarthy. Surat kabar Beirut, As-Safir seperti yang dikutip Associated Press menyebut Waite diantar oleh pengawalnya ke lokasi rahasia di kawasan America University, Beirut pada 20 Januari. Dia lalu masuk ke sebuah apartemen. Kemudian keluar lagi untuk meminta pengawalnya kembali ke hotel tanpa dirinya.

Selepas itu keberadaan Waite tak diketahui. Dia kemudian diketahui diculik kelompok yang berafiliasi dengan Hizbullah. Penculiknya meyakini Waite bekerja untuk badan intelijen AS, CIA. Hal ini terkait keterlibatan Waite dalam pembebasan dua orang AS yang disandera di Iran.

Selama dalam masa tahanan, Telegraph menyebut Waite diperlakukan jauh lebih buruk daripada para sandera yang dia coba untuk bebaskan. Dalam tahun pertama, setiap hari dia mengalami penyiksaan. Hampir seluruh harinya selama masa penyanderaan itu dihabiskan di sel isolasi.

“Aku tidak ingat (waktu itu) menangis,” ujarnya pada Telegraph sambil merenung. “Tidak, saya tidak ingat itu. Namun, saya ingat sangat sedih.” Waite dibebaskan 18 November 1991 setelah 1.763 hari dalam masa tahanan. Beberapa tahun kemudian dia kembali ke Beirut bertemu dengan petinggi Hizbullah, Ammar Moussawi untuk mengenang peristiwa penculikannya.

“Masa lalu adalah masa lalu,” ujar Waite pada Moussawi seperti yang dikutip BBC. “Saya percaya bahwa rekonsiliasi antara kelompok yang lebih besar, kelompok politik, harus dimulai di sini dengan rekonsiliasi pribadi kita sendiri.” (pal/dnu)

Sumber :  news.detik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: