Ini Tanggapan PDIP Terkait Kritik JK Soal Mahalnya Proyek LRT

Proyek LRT Jabodebek di Cawang. ©Liputan6.com/Faizal Fanani

Proyek LRT Jabodebek di Cawang. ©Liputan6.com/Faizal Fanani

Sketsanews.com, Jakarta – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menilai, kritikan Wapres Jusuf Kalla (JK) terkait proyek Light Rapid Transit (LRT) sebagai bentuk dorongan supaya menteri yang berkaitan bekerja baik.

“Itu maksudnya baik. Namanya Pak JK mendorong terus menterinya bekerja baik,” kata Hasto di Hotel Sahid, Jakarta Pusat, Rabu (23/1).

Sekretaris Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf itu menilai, kritikan JK adalah wajar. Kritikan tersebut menurut Hasto, menunjukkan bahwa demokrasi dan tata pemerintahan berjalan baik

“Kalau toh mengkritik ya boleh presiden, wapres, mengkritik kepada menterinya bebas, itulah demokrasi, tata pemerintahan yang baik toh menteri membantu presiden dan presiden dibantu wakil presiden kalau kritik boleh,” ucapnya.

Diberitakan, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) beberapa kali menyampaikan kritik terhadap beberapa proyek infrastruktur yang tengah gencar dibangun pada era pemerintahan Presiden Jokowi. Salah satunya soal proyek pembangunan Light Rail Transit (LRT).

JK menyinggung kondisi LRT Palembang yang kini hanya menjadi ajang coba-coba para turis lokal yang datang. “LRT Palembang jadikan coba-coba turis lokal saja,” kata JK.

Karena itu, dia mengingatkan agar pembangunan infrastruktur tidak hanya memperhatikan aspek secara teknis, tapi juga dampak terhadap perekonomian.

“Ini suatu tanggung jawab kita semua untuk melihat itu sebagai bagian daripada evaluasi kita meningkatkan infrastruktur tapi juga manfaatnya bagaimana,” kata JK.

JK juga menyinggung proyek pembangunan kereta api Trans Sulawesi dari Makassar ke Manado. Menurut JK, proyek tersebut tidak efisien, karena tidak ada yang menaiki transportasi tersebut.

“Sama kereta api Sulawesi-Manado, siapa yang mau naik ke Makassar? Barang apa yang mau diangkut dari selatan ke utara, utara ke selatan? Hanya perpendek saja di Sulawesi untuk kebutuhan memperbaiki industri. Kalau barang tidak akan efisien,” kata JK.

Tak hanya soal LRT di Palembang, JK juga mengkritik pembangunan LRT Jabodetabek yang menelan biaya sampai Rp 500 miliar per kilometernya (km). Menurutnya, pembangunan LRT dengan skema elevated (layang) dinilai kurang efektif.

“Saya kasih contoh, membangun LRT ke arah Bogor dengan elevated (jalur layang). Buat apa elevated kalau hanya berada di samping jalan tol?” ucap JK.

Menurut dia, di sejumlah negara, pembangunan LRT tidak dibangun bersebelahan dengan jalan tol. Pembangunan jalur layang justru akan membuat biaya semakin membengkak.

“Biasanya light train itu tidak dibangun bersebelahan dengan jalan tol, harus terpisah. Tapi bangunnya gitu. Siapa konsultan yang memimpin ini, sehingga biayanya Rp 500 miliar per kilometer,” kata JK yang kembali mengkritik proyek infrastruktur. (Ad)

Sumber : Merdeka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: